Yogyakarta Butuh Tata Kota Yang Memanusiakan


Dinamika perkembangan Kota Yogyakarta akhir akhir ini menunjukan pekembangan yang luar biasa. Baik dalam arti positif maupun negatifnya. Pertumbuhan pariwisata yang terus meningkat adalah sisi positif dimana ekonomi Yogyakarta juga sangat disokong oleh investasi maupun multiplier effect kepada masyarakan secara langsung. Yogyakarta semakin terkanal sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia

Namun pada posisi lain, kota yang di bangun oleh Sri Sultan HB I pada tahun 1775 ini semakin menunjukan ketidak teraturannya. Pemukiman yang semakin padat dan tidak teratur. Sehingga kerawanan sosial semakin meningkat juga. Namun disisi lain pendirian bangunan bertingkat untuk kebutuhan bisnis ataupun utamanya untuk hotel cukup meresahkan kalau menurut saya. Lihat saja bagaimana di sekitar Tugu Jogja yang sejatinya digunakanĀ  untuk area konservasi budaya malah dihiasi dengan bagunan bertingkat tinggi. Kalau di Bali ada konsensus bangunan tidak boleh melebihi pohon kelapa maka di Jogja kita akan temukan bangunan berlomba lomba untuk menjulangkan diri.

Perumahan dan bangunan tingkat yang njomplang
Perumahan dan bangunan tingkat yang njomplang
Mall di Jogja semakin menjamur membuat kepadatan pada jalur menujunya
Mall di Jogja semakin menjamur membuat kepadatan pada jalur menujunya

Disisi lain ruang pemukiman terleihat tidak terlalu mendapat perhatian dari pemerintah. Bisa dilihat pada salah satu area di Jogja di mana gap pemisah antara perumahan padat dengan bagunan bisnis yang njomplang. Pendirian bangunan pusat perbelanjaan juga semakin mengepung kota ini.

Sehingga ketika nantinya pemerintah tidak bisa mengatur tata kota untuk masyarakat agar merasa nyaman maka lambat laun kota ini akan sama seperti kota lainnya di Indonesia yang padat, sumpek, kumuh, tidak terawat dan stigma negatif lainnya. Kalau sudah pada tara tersebut pariwisata Yogyakarta akan tidak dilirik lagi oleh wisatawan. Lalu dari mana pengerak ekonomi Yogyakarta kalau salah satu aspek atau dua aspek nantinya hilang yakni Pariwisata dan Budaya. Sedangkan aspek ketiga yakni pendidikan juga bisa luntur karena kenyamanan bagi para mahasiswa berkurang.

Lagi lagi pemerintah memang harus kuat menjalankan berbagai peraturan yang mereka buat sendiri untuk mengatur semua komponen masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s