Tanggapan Aryadi Noersaid penulis Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan


Ini pengalaman menarik ketika saya membuat sebuah tulisan mengenai apa yang diceritakan seseorang kepada saya . Tulisan ini menyangkut pengalaman nyata seseorang yang lama tak saya temui dan meninggalnya pun saya tak sempat mengantarnya keperistirahatan terakhir, yaitu antara Sultan Hamengkubuwono IX dengan Seorang Polisi Pekalongan .
Cerita ini awalnya ditulis oleh saya pada 25 Juni 2011 di kompasiana, dengan respond yang biasa saja lalu tiba tiba tulisan ini dimuat dalam satu web berbasis di Jogja tiga hari lalu.

Dalam waktu cepat tulisan ini menyebar di dunia maya , di kutip dan dimuat di blog pribadi maupun organisasi.di share facebook , twitter dan begitu banyak email yang masuk menitipkan doa untuk pelaku berdua yang termuat dalam tulisan , serta tawaran untuk memuat hal ini di majalah edisi cetak Nasional dan Internasional.

Email yang masuk bukan hanya berisi pujian terhadap dua sosok yang saya hormati , namun juga termasuk beberapa pertanyaan mengenai hal teknis yang termuat dalam tulisan. Ada yang bertanya mengapa bahasa jawa yang tertulis bukan bahasa pekalongan? , kok Sri Sultan HB IX waktu itu sudah berumur 50 tahunan?, apa betul di Pekalongan dulu sudah ada verbodden ? , kemana surat yang dikirim sri sultan HB IX sekarang ? , banyak macam menggugat isi cerita tapi Alhamdulillah lebih banyak yang mengambil hikmah cerita ini dari sisi positifnya .

Sesungguhnya saya mengenal Pak Royadin sebatas sebagai kakak dari ayah saya , seorang polisi yang sejak kecil saya melihatnya begitu nelangsa secara financial namun tegar dan bahagia secara mental. Saya bertemu beliau paling hanya setahun sekali bahkan bisa lebih dari itu. Karena ayah tak punya orang tua lagi maka Pak Royadin adalah tempat kami mampir bila berkunjung ke Pekalongan. Di moment inilah ia bercerita dan saya sangat senang mendengarkan cerita tentang sikapnya menghadapi kanjeng sinuhun saat menyalahi rambu lalu lintas. Ini cerita yang selalu saya nanti ketika kecil dulu dan hingga terakhir bertemu ditahun 2004 ketika beliau sudah lirih dalam berbicara.

Sayangnya , ayah saya bukan orang yang gemar bertulis kabar begitu juga keluarga di pekalongan, hingga kapan Pak Royadin lahir , bagaimana kabar anak anaknya , bertugas di polsek mana saja , menjadi suatu informasi yang tak banyak tergali .

Berkunjung ke pekalongan saya hanya mendapatkan sedikit waktu dengan sepupu atau anak- anak beliau yang banyak merantau di segala penjuru sehingga menanyakan hal tentang cerita Pak Royadin agak sulit terutama mengenai dimana surat tersebut , apa cerita lain beliau selain cerita itu.

Rasa kehilangan saya tiba tiba terasa sekali ketika mendapat kabar beliau meninggal tahun lalu. Dan sebagai keponakannya saya terasa amat bersalah lama tidak menjumpainya dan tidak mengiringi kepergiannya ke peristirahatan terakhir . Kesibukan luar biasa dan komunikasi yang jarang sekali dilakukan dengan keluarga Pak Royadin dan beliau sendiri semenjak ayah saya meninggal dunia menimbulkan kesedihan bagi saya.

Dari rasa kehilangan itu , saya menuliskan apa yang beliau ceritakan pada saya ketika kecil dan dewasa kedalam sebuah cerita yang semula tak terceritakan.

Mengingat cerita ini bersetting dua orang yang pernah ada , maka isi cerita akhirnya menjadi sebuah hal yang ditelaah paragraph demi paragraph bahkan kalimat demi kalimat. Khalayak akhirnya membaca cerita ini seperti sebuah buku sejarah yang harus ditulis sepersis mungkin dengan apa yang terjadi , sementara saya menulis cerita ini dengan gaya cerita saya yang masih dalam tahap belajar menulis dan materinya berdasar atas apa yang beliau ceritakan dengan dialog serta latar belakang yang seingat saya , sekali lagi seingat saya, keluar dari mulut beliau dengan tulus tanpa ingin menyombongkan diri.

Menjawab pertanyaan khalayak ramai dalam milis maupun forum yang terlihat ramai ditengah salut pembaca pada dua sosok manusia yang menurut saya luar biasa .

Apakah di Pekalongan ada verbodden di tahun 1960 an ? , Saya sendiri tak paham Karena Pak Royadin menangkap sinuhun Sultan HB IX yang berjalan salah arah di kota pekalongan, mungkin kanjeng sultan berjalan ke arah berlawanan hingga ceritanya menjadi melanggar verbodden , saya tak merinci lebih lanjut dengan si empunya cerita, Pak Royadin.

Kok usia sultan 50 tahunan waktu itu ? , ini berdasarkan research saya yang saya tuliskan dalam alur cerita , pak sultan lahir 12 april 1912 maka ketika tahun 1960an umur beliau berkisar setengah abad.

Agak janggal , komisaris dalam cerita ini menggunakan bahasa ‘bandekan’ ala jogja , padahal pekalongan memakai bahasa mirip banyumasan yang cenderung jawa pantura kasar? , saya menulis tidak mungkin dengan gaya bahasa pekalongan yang halus namun masih memiliki frasa “Nyong’ dalam bahas mereka , jadi dalam tulisan bahasa jawa itu memang sebagian interpretasi saya dari dialog yang pernah diceritakan oleh Pak Royadin. Lagi pula kalau saya tulis komisaris pakai bahasa sunda juga syah saja karena tak selalu pejabat kepolisian harus orang asli sana . Tapi itulah yang diceritakannya . namun seingat saya bahasa pekalongan termasuk halus , hanya penggunaan kata Nyong masih ada.

Dimana surat dari Kanjeng sinuhun HB IX itu ? , Patut disayangkan surat itu memang tak pernah saya tanyakan ada dimana , tapi sekilas beliau bilang hanya sekali saja lihat surat itu ketika di sodorkan.

Ini Fiksi atau fakta ? , Jawabnya Fakta , namun sebuah fakta yang diceritakan dari sebuah ceriita .

Dimana alamat pak Royadin ? , karena ayah jarang berkirim surat , kami dan keluarga pak Royadin tak memiliki catatan alamat yang jelas , ayah selalu mengajak saya kesana secara fisik , dan yang saya ingat jika melalui jalan pekalongan-batang arah semarang, dikota batang kami masuk dari jalan dokter Cipto kearah selatan . sampai ketemu pertigaan lalu terus keselatan hingga bertemu tempat yang dinamakan Bogoran pertelon . Di pertigaan ini ada jalan kecil muat satu mobil di sisi kiri , lalu tak jauh dari situ setelah melewati lahan pemakaman hanya masuk 500 meter orang pasti mengenal beliau. Saya mampu menunjukkan tempatnya namun tak mampu menuliskan alamat lengkapnya.

Dimana anak anak beliau ? , dari empat anak beliau saya hanya mengenal dua sepupu saya itu yang saat ini ikut bersama suami suami mereka di Bekasi dan Semarang , Mbak Murni dan Mbak Sri . Siapa yang saat ini ada di Rumah Pak Royadin, saya tak lagi pernah mengunjungi .

Menulis kisah nyata memang perlu pertimbangan yang matang ketika gugatan akan keaslian cerita muncul dari khalayak , dan itu syah saja . Namun niat dasar menulis saya adalah untuk membagi sebuah cerita sederhana yang menurut saya biasa saja dengan bekal tuturan cerita yang didapat dari pelaku sendiri tanpa penulis mengalaminya langsung. Untuk seseorang yang sedang belajar menulis , pelajaran mengenai hal ini luar biasa hebatnya , dan tak menyangka satu majalah dari group besarpun terakhir ingin memuat cerita ini dalam edisi mereka berikutnya.

Tulisan ini saya persembahkan buat Pak Royadin yang tercinta dan juga kepada anak-anaknya yang mungkin saja tak mampu menuliskan kisahnya dalam sebuah tulisan , dan juga kepada kanjeng Sinuhun Sultan Hamengkubowono IX , seorang raja yang menyerahkan tahtanya untuk rakyat dan peminpin bangsa yang amanah. Semoga pelajaran apa yang dilakukan dan disampaikan mencapai manfaat bagi khalayak ramai lewat teladannya.

Aryadi Noersaid adalah Penulis Asli Kisah Nyata: Krtika Sri Sultan HB IX Terkena Tilang Di Pekalongan. Menjawab beberapa pertanyaan tentang beberapa data terutama terkait dengan tulisan beliau di tulisannya di blog kami jogjakini.wordpress.com

http://sejarah.kompasiana.com/2011/06/25/sultan-hb-ix-polisi-pekalongan-the-untold-story/
https://jogjakini.wordpress.com/2011/12/09/kisah-nyata-ketika-sri-sultan-hb-ix-terkena-tilang-di-pekalongan/

Iklan

12 pemikiran pada “Tanggapan Aryadi Noersaid penulis Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan

  1. Sebagai orang pekalongan asli, perlu saya sampaikan kalo kami orang pekalongan bahasa jawa kami masih bandekan ala jogja jadi gak ada ceritanya orang pekalongan pake bahasa ngapak2, cuma memang masih ada bahasa “nyong”

  2. Saam kenal Mas, kebetulas saya orang batang yang juga aktip menulis blog 😀 membaca tulisan masbro, kayaknya kalo Bogoran pertelon itu bukan jalan Dr.Cipto tapi jalan gajah mada. tepatnya kalau dari arah pekalongan – batang, melewati alun-alun batang terus lurus kemudian ketemu perempatan/traffict light, terus belok kanan… itu sudah Jalan gajah mada, mengkopi tulisan njenengan
    “sampai ketemu pertigaan lalu terus keselatan hingga bertemu tempat yang dinamakan Bogoran pertelon . Di pertigaan ini ada jalan kecil muat satu mobil di sisi kiri , lalu tak jauh dari situ setelah melewati lahan pemakaman hanya masuk 500 meter orang pasti mengenal beliau”. kebetulan rumah saya berjarak sekitar 200 meter dari tempat yang digambarkan penulis, Insya Allah akan saya tanya warga sekitar apakah masih ada yang mengenal pakRoyadin 😀

    Salam

  3. @Mas saeful Zafar, bahasa pekalongan halus namun khas ,saya masih ingat alunan bahsanya yang gak ditemui di daerah lain. Yang dikira kasar itu karena ada nyong untuk menyebut ‘saya’ , sepertinya begitu. Saya lahir dan besar dijakarta jadi bahasa jawa saya memang bandekan yang asal asalan.

    @Mas Yudibatang ,Betul mas , jalan gajah mada itu kalo gak salah yang langsung tembus pasar ya ?. Saya kalau kesana selalu lewat dr cipto agak ke timur dari jalan gajah mada, karena beberapa kali lewat situ mampir dulu kesatu tempat teman ayah saya. Pak Royadin lamaaaa banget gak ketemu saya , sampai kabar meninggalnyapun tiga atau empat bulan baru saya dengar, verifikasinya susah karena saya gak pernah ikut Kumpulan keluarga Batang dijakarta, dan contact dengan sepupu juga jarang sekali karena banyak merantau dan tercerai berai, apalagi setelah tetua kita masing masing sudah tidak ada. dulu pernah waktu kecil saya shalat idul fitri di mesjid seberang makam , sekitar situ rasanya orang harusnya kenal dengan Pak Royadin almarhum. sebagai clue kalo lebaran saya selalu diajak beliau ke sambong atau kramat waktu masih ada kolam renang. cerita ini saya gak tahu apakah beliau share ke orang kampung karena beliau memang bersahaja dan tidak menyombongkan diri , tapi dengan adik dan kakak saya beliau cerita seru sekali, karena semasa hidup dari keluarga ayah saya selain ayah saya hanya beliau yang komunikasinya baik walaupun campur bahasa pekalongan yang kadang saya gak mudeng. kakak ayah saya yang lain itu korban romusha dan hanya sekolah SR sebentar jadi untuk komunikasi sangat sulit. Semoga ketemu , dan saya juga rasanya punya rencana berkunjung kesana awal tahun ini setelah sekian lama gak kesana. tolong sediakan nasi megono ya mas..sudah lama gak ketemu makanan ini.
    Saya gak kira cerita ini jadi bikin kota pekalongan dan batang terekspose sedemikian rupa, semoga bermanfaat , tentunya untuk amal beliau berdua , bukan untuk saya,

  4. saat pertama baca d blog jogja kini,saya sudah yakin akan fenomenal kisah ini.dan ternyata benar.belum juga
    seminggu. sebagai orang pekalongan yang sangat menayangi jogja juga..akan saya telusuri

    1. Waktu dengar cerita ini dari beliau , karena mengambil sifatnya positif saya tidak cross check kemana mana karena inspirasinya dalam dan ketika itu saya mungkin belum memiliki kematangan yang cukup. jejak keluarga saya memang ada disana, di Batang-pekalongan yang sayangnya banyak terputus karena komunikasi yang jarang akibat kesibukan masing masing diperantauan. Silahkan ditelusuri mbak Inayah…salam .

  5. Saya hanya ingin mengomentari soal verboden di tahun 60an, Bisa dipastikan tanda2 rambu lalulintas pada tahun itu memang sudah ada, sebagai peninggalan peraturan Lalu Lintas dijaman Hindia Belanda. Seperti kita tahu, betapa detilnya pemerintah Belanda dalam membuat peraturan. Semua terencana dengan apik. Pada waktu itu nomer plat daerah yang ada juga sudah tertata dengan baik. seperti A= Banten; B= Jakarta D= Bandung F=Bogor E=Cirebon G=Pekalongan; H= Semarang. Kemudian AA = Kedu, AB = Jogja; AD=Solo dan seterusnya. Tahun 60an Pekalongan sudah menjadi kota karisidenan, Kota yang cukup besar, yang lalu lintasnya juga cukup padat . Eh, menteri agama era tahun 60an M.Iljas, juga orang Pekalongan lho……gak ada yang tau kan ????.

    1. KH mohammad ilyas memang mentri agama dalam kabinet burhanuddin harahap,Ali-Roem-Idham dan kabinet juanda beliau adalah keponakan Hadratus Syeikh KH M Hasyim Asy’ari,lahir di probolinggo pertengahan 1941 menjabat konsul NU jawa tengan bag utara(pekalongan) jadi bukan orang orang pekalongan

  6. Saya yakin, bahwa khalayak pembaca umumnya memaklumi tentang kekurangan-kekurangan dalam tulisan ini karena mereka (termasuk saya) merasa sudah cukup dengan ‘Pesan Moral’ yang terkandung dalam tulisan ini yang sangat mengena, tanpa harus pusing-pusing dengan segala hal mengenai teknis atau validasi tulisannya.

  7. bener gak bener tapi saya percaya kalau hal itu terjadi…
    Sri Sultan HB IX memang tidak akan pernah tergantikan di hatiku…
    Teringat saat beliau menhadap Yang Maha Kuasa. Kami di jogya menangis dan tirakatan… sekolah libur dan hampir semua bahkan mungkin semua memadati jalur sepanjang jalan menuju imogiri … termasuk saya yang masih SMP

  8. Dear Mas Aryadi,
    Saya sungguh tertegun membaca cerita ini. Sungguh menginspirasi. Betapa bangsa ini rindu sosok-sosok yang tulus, tegas dan merakyat. Kisah ini selalu kubaca berulang. Menggali nilai-nilai di dalamnya, tentu untuk inspirasi bagi saya sendiri. Kisah ini telah dipublish di banyak media, dan insyaaallah telah menginspirasi banyak orang. Kisah yang membuat warga Ngayogyakarta bangga dan bersyukur punya Raja HB IX, serta warga Pekalongan-Batang dengan keluhuran sikap alm. Brigadir Royadin. Alangkah baiknya, jika kelak Kasultanan Ngayogyakarta – dibantu dengan mas dan para penulis-mencoba menggali kembali kisah ini, dengan mempertemukan keluarga almarhum Royadin. Menggali keluluhuran almarhum berdua. Baarakallahu fiik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s