Mural: Memanfaatkan Ruang Publik untuk Kreativitas


Teks dalam bahasa Jawa berbunyi Ndongo Sinau lan Usaha atau Berdoa Belajar dan Berusaha melengkapi goresan cat yang membentuk visual tiga sosok perempuan tua di sebuah sudut pasar. Kata-kata itu seolah menyatu dengan aktivitas yang tengah mereka kerjakan, yaitu membuat adonan (bekerja), mengangkat tangan dan menengadah ke langit (berdoa), serta membuka lembaran buku (belajar). Meski baru rampung 70 persen, isi pesan mural yang tegah dibuat beberapa orang tersebut sudah bisa diraba. Rupanya sang seniman ingin memberikan pesan moral kepada siapa saja yang lewat dan membacanya bahwa hidup sehari-hari dirasakan lebih sempurna apabila seorang individu melaksanakan ketiga kegiatan di atas.

Demikianlah salah satu mural di Jalan Remujung di sebelah timur Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Minggu (3/12) malam, puluhan seniman mural dari Yogyakarta dan sekitar serius bekerja di bawah temaram lampu pijar. Mereka menuangkan ide-ide kreatif di lokasi yang pada siang harinya penuh oleh aktivitas ekonomi. Bersama Pemerintah Kota Yogyakarta, para seniman ini mengerjakan sebuah gawe besar bertajuk “Midnight Live Mural Project 2006” yang dikerjakan selama tiga malam berturut-turut. Ada empat lorong lainnya, masih satu komplek, yang dimanfaatkan oleh para seniman mural dan grafiti. Lorong tersebut di antaranya Jalan Sandiloto, Mojar, dan Limaran.

Mereka tidak hanya memanfaatkan tembok-tembok yang ada, juga media lain, seperti rolling door pertokoan sampai aspal jalanan. Tema disesuaikan dengan potensi daerah sekitar seperti tempat perdagangan hingga tempat gaul anak jalanan. “Kami ingin menghidupkan lorong-lorong ini. Tempat ini sebenarnya menarik, namun sayang di atas pukul 21.00 menjadi mati. Padahal, siang hari penuh dengan aktivitas warga,” ujar Samuel Indratma, Pengurus Jogja Mural Forum, Minggu.

Eksperimen

Setelah adanya mural-mural ini, lanjut Samuel, diharapkan lorong itu bisa berfungsi maksimal, salah satunya untuk kegiatan-kegiatan yang berbau seni seperti pertunjukan musik atau aktivitas lain. Tentu, semua itu dilakukan pada waktu malam. Apalagi, lokasinya berdekatan dengan Taman Budaya Yogyakarta. Dalam skala yang lebih luas, oleh para seniman yang sebagian besar berusia muda, melukis di lorong ini menjadi tempat untuk meningkatkan potensi diri. Mereka menilai kegiatan ini menjadi sebuah eksperimen untuk mengolah ide-ide.

Semakin banyak melukis semakin bertambah pula pengalaman. Apalagi, perkembangan komunitas mural di Yogyakarta saat ini cukup pesat, baik itu yang membentuk kelompok kecil-kecilan maupuan yang masih berdiri sendiri. “Saat ini ruang fisik dan ruang imajiner untuk seniman muda tidak ada. Misalnya, galeri yang mengkhususkan diri untuk remaja tidak ada. Demikian pula ruang imajiner yang mendukung keluarnya gagasan- gagasan bagi para seniman mural dan grafiti tidak ada. Oleh karena itulah, tempat dan kesempatan seperti ini sangat bermanfaat bagi mereka,” ujar Samuel.

Seniman mural sampai kini memang senantiasa berada dalam ketegangan antara dirangkul atau dicap sebagai kaum pengotor dinding kota. Di situlah justru para seniman jalanan ini bisa lebih hidup (Sumber: kompas)

Penulis: jogjakini

Suka Traveling dan Jalan Jalan melihat hal baru