Seks, Bukan Penentu Keberhasilan Wisata


Kalau ada pandangan seks sebagai penentu keberbasilan suatu kawasan wisata tidaklah benar. Contoh konkret, kawasan wisata di Parangtritis Bantul. Akibat tempat tersebut sebagai ajang prostitusi atau kegiatan seks maka jumlah pengunjung dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Untuk itu, kawasan wisata di Bantul haruslah memiliki konsep baru, yakni pendekatan yang humanis dan budaya. Demikian ditegaskan Bupati Bantul, Drs Idham Samawi dalam seminar nasional ‘HAM, Pariwisata dan Pembangunan Daerah’ di Hotel Saphir, Jl Laksda Adisutjipto, Senin (10/12).

Kegiatan tersebut diselenggarakan Masyarakat Tradisi Bantul (NTB) bekerja sama dengan Pemkab Bantul, juga menghadirkan narasumber Drs Harwanto Dahlan MA dan Agus Suryanto dipandu Sigot Sugito dan Syamsudin. Menurut Idham Samawi, pusat-pusat pariwisata itulah menemukan kasus-kasus perdagangan perempuan, kekerasan, signifikan angka penderita HIV/AIDS, penggunaan narkoba, kesenjangan sosial, dsb. Terhindar dari cengkeraman model tersebut, perlu pariwisata yang humanis, pariwisata yang membebaskan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat kebuyadaan. Diakui Idham, model pariwisata humanis memang belum punya model. “Pariwisata berkembang dengan jumlah pengunjung sangat tinggi dan pengunjung yang datang tercerahkan nilai-nilai budaya, keramahan lingkungan dan berdampak pada kesejahteraan sosial,” katanya. Dalam kesempatan itu, Idham Samawi memberi contoh kasus penataan kawasan Parangtritis dengan segala plus-minusnya.

Harwanto Dahlan dari UMY mengakui adanya dampak negatif dari pariwisata seperti mengubah sifat dan perilaku masyarakat setempat untuk menyesuaikan diri dengan industri pariwisata, perilaku wisatawan yang mungkin tidak sesuai dengan adat-istiadat, budaya dan agama setempat. Selain itu, sangat mungkin membawa efek samping berupa bisnis pendukung seperti kroto, jasa-jasa pramunikmat sampai narkoba. “Oleh karena itu, dalam mengembangkan pariwisata, pemerintah harus pula membuat perda pariwisata jangka panjang, yang selain menjamin alokasi anggaran tetapi juga menanggulangi efek negatif tadi. Melarang wisata seksual juga tak melanggar Hak Asasi Manusia kok,” jelasnya. Sementara untuk mengembangkan pariwisata, Agus Suryanto dari Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) menjelaskan perlunya inovasi, berupa kreasi baru produk wisata. Pengembangan objek wisata baru, akan memperpanjang rute perjalanan, memperlama masa tinggal wisatawan dan akhirnya akan meningkatkan pendapatan. “Kreasi inovasi produk wisata ini lah yang sukses dikembangkan Thailand dan Malaysia. Buktinya, dari 28 persen kunjungan wisatawan dunia ke Asia Tenggara, kebanyakan terserap di Malaysia,” katanya. (Sumber: Kedaulatan Rakyat)

Penulis: jogjakini

Suka Traveling dan Jalan Jalan melihat hal baru