Pisowanan Garebeg


Diiringi gendhing Prabu Mataram dari gamelan Kangjeng Kyai (KK) Surak dan gendhing Raja Manggala dari gamelan KK Kancil Belik di Gedhong Gangsa selatan dan utara, ditambah bunyi gamelan Monggang dari KK Patigan Guntur Laut di Gedhong Mandalasana, Sri Sultan Hamengku Buwono X keluar dari Bangsal Prabayeksa, untuk mengadakan Pisowanan Garebeg, Jumat (24/5). Miyos Dalem (kehadiran Sultan) itu diikuti 14 pusaka kerajaan.
Ngarsa Dalem (Sri Sultan) kemudian siniwaka (duduk) di Emper Wetan Kagungan Dalem Bangsal Kencana menghadap ke timur. Di sebelah utara meng- hadap ke selatan, duduk permaisuri GKR Hemas dan KGPAA Paku Alam IX. Di sebelah selatan menghadap ke utara, duduk KGPH Hadiwinoto, GBPH H Prabukusumo, SPsi, GBPH H Joyokusumo dan GBPH Hadisuryo. Sementara 14 pusaka ditempatkan di Bangsal Kencana.
Empat belas pusaka itu adalah KK Ageng Plered yang diletakkan persis di belakang tempat duduk Sultan. Pusaka utama berupa tombak ini diapit dua pusaka tombak lainnya, yakni KK Gada Wedana dan KK Gada Tapan. Di antara tiga tombak itu diletakkan KK Jethayu (pelana kuda yang terbuat dari kayu dan besi) dan KK Pamuk (cambuk, terbuat dari kayu sepanjang sekitar satu meter).

Di sayap selatan Bangsal Kencana agak ke belakang, ditempatkan empat pusaka, KK Slamet (KK Tunggul Wulung), KK Pare Anom, KK Pujo dan KK Puji. Keempat pusaka ini berupa duaja (bendera). Sedangkan di sayap utara Bangsal Kencana, lima abdi dalem masing-masing memegang KK Pengharab-harab (wedhung senjata tajam mirip pedang pendek), KK Meyek (kendang), KK Udan Arum (bende), KK Sima (bende) dan KK Tundhung Mungsuh (bende).

Tiga pusaka lainnya tidak mengiringi Miyos Dalem tetapi disiapkan lebih dulu. Kangjeng Nyai Mrico (periuk tembaga) yang berisi tanakan nasi ke tujuh dan KK Blawong (piring besar) ditempatkan di dekat tempat duduk Sultan. Sedang KK Tandhu Lawak (tandu) diletakkan di depan Bangsal Prabayeksa sebelah utara.
Pagi itu, Sri Sultan mengenakan pakaian takwa warna dasar hitam dengan motif bunga warna pink dan kuning, berkain wiron motif parang dilengkapi dengan kuluk Kanigoro, sedang GKR Hemas mengenakan kebaya tangkeban warna merah magenta lengkap dengan bros, kain seredan dan tata rambut ukel tekuk dengan asesoris bunga.
 “MAJU!”
Para kanca, ngemban dhawuh Dalem, para kanca kabeh kakersakake maju (Teman-teman, atas perintah Sri Sultan kita semua diperintahkan untuk maju),” ucap seorang abdi dalem yang duduk bersila di Kuncung Tratag Bangsal Kencana demi mendengar titah Sultan.
“Sendika! (Siap melaksanakan),” jawab abdi dalem lain yang semuanya mengenakan beskap putih, kemudian duduk di kursi depan Sri Sultan.

Sebelum Sultan HB X siniwaka, mereka memang sudah datang dan duduk bersila di tempat agak jauh. Beberapa saat suasana hening, menunggu abdi dalem Keparak menghidangkan minuman menggunakan cangkir putih. Sedang untuk Sri Sultan HB X, GKR Hemas dan KGPAA Paku Alam IX, cangkir minumannya berwarna merah muda keunguan bergambar Sri Sultan HB VII.”Diombe! (Diminum),” perintah Sultan lagi.

Para kanca, ngemban dhawuh Dalem, para kanca kabeh didhawuhi ngombe (Teman-teman, atas perintah Sri Sultan, kita semua disuruh minum),” kata seorang abdi dalem.”Henggeh. (Iya),” jawab abdi dalem serempak dalam bahasa Jawa Bagongan.
Usai minum dan cangkir ditarik kembali oleh abdi dalem, GBPH H Prabukusumo membawa KN Mrico dan GBPH H Joyokusumo membawa KK Blawong. Sri Sultan memindah nasi dari KN Mrico ke KK Blawong. Nasi dikepal-kepal sebe- sar bola ping-pong oleh Ngarsa Dalem.

Orang pertama yang mendapat kesempatan memperoleh nasi kepalan Sri Sultan adalah KGPAA Paku Alam IX, disusul GKR Hemas. Seluruh orang yang hadir pada Pisowanan Garebeg kemarin, termasuk wartawan, mendapat nasi kepalan yang sudah disiapkan sebelumnya.

Dua rayi dalem (adik Sultan), GBPH H Prabukusumo dan GBPH H Joyokusumo, ikut membagikan nasi kepalan kepada para abdi dalem yang pangkatnya lebih rendah. Semula, abdi dalem sipat bupati (berpangkat KRT — Kangjeng Raden Tumenggung) ragu-ragu mengambil. Namun, ketika didesak, mereka pun lalu satu-satu mengambil. “Sapuniki kula ingkang gentos ngladosi. (Sekarang gantian saya meladeni),” kata Joyokusumo sambil menyodorkan KK Blawong. Pisowanan yang berlangsung setengah jam itu pun usai. (Sumber: Bernas)

Penulis: jogjakini

Suka Traveling dan Jalan Jalan melihat hal baru