Jamasan Kereta Kraton Yogyakarta


Di Keraton Yogyakarta, benda-benda itu selalu dicuci yang diistilahkan dengan nama ”dijamasi” pada bulan Sura (Muharam) dan selalu pada hari istimewa Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Cara jamasan itu sendiri juga khas. Semua yang terlibat dalam ritual itu harus mengenakan pakaian adat Jawa peranakan. Mereka, semuanya laki-laki, mengenakan kain panjang, surjan, dan penutup kepala blangkon. Seperti pada Selasa Kliwon pagi pada bulan April penanggalan Roma, sebuah kereta dijamasi. Kereta ini dibuat pada tahun 1750-an, semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, diberi nama Kanjeng Nyai Jimat. Kereta itu menjadi tunggangan Sultan Hamengku Buwono I – III. Kereta itulah yang setiap bulan Sura selalu dijamasi karena dianggap sebagai kereta cikal-bakal kereta lainnya.

Berbentuk anggun, bergaya kereta kerajaan-kerajaan Eropa, beroda empat, dua buah yang besar di belakang, dan dua buah di depan agak kecil, diperkirakan ditarik oleh enam sampai delapan kuda. Sebuah simbol kewibawaan seorang raja. Kereta yang penuh ukiran itu sendiri memiliki pintu dan atap sehingga mirip mobil.

Kereta itu tersimpan di dalam Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Di sana ada sekitar selusin kereta yang sebagian besar masih bisa digunakan. Setiap Kanjeng Nyai Jimat dijamasi, ”ia” selalu ditemani oleh salah sebuah kereta lain yang dipilih secara bergantian setiap tahunnya.

Pada Selasa kemarin adalah giliran Kyai Puspakamanik, sebuah kereta hadiah dari Kerajaan Belanda yang dibuat pada tahun 1901. Kereta itu menjadi tumpangan para pangeran pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII. Jamasan dipimpin oleh Kanjeng Raden Tumenggung Kudadiningrat, seorang pejabat keraton yang khusus menangani masalah perawatan kereta.

Berebut Air Bekas Cucian

Jika prosesi sejak akan mengeluarkan kereta saja sudah bernilai wisata, maka ketika proses pencucian kereta itu juga memiliki nilai wisata ritual magis religius. Orang-orang asing akan terheran-heran menyaksikan ratusan orang Jawa, bahkan juga luar Jawa ketika mendengar gaya bicaranya, berebut bekas air cucian kereta dengan cara menampung aliran air dari badan kereta.

Air bekas cucian itu dimasukkan ke dalam botol bekas air kemasan maupun jerigen. Tak ayal lagi, masyarakat yang berebut air itu pun menjadi ikut berbasah-basah. ”Dari dulu saya pasti mengambil air dari jamasan ini. Saya percaya, semua benda dari keraton itu memiliki tuah yang sakti sebab benda-benda ini adalah milik orang sakti. Oleh karena itu dengan membawa air ini, kami berharap, keluarga kami menjadi sakti. Artinya, sehat wal afiat,” tutur Bu Marto Prawiro, istri bekas abdi dalem keraton yang kini tinggal di Piyungan, Bantul.

Ungkapan serupa juga dikatakan oleh Kakek Sastro dari Wates, Kulonrogo. Wajah keriputnya tampak berseri-seri karena ia bisa menampung air sebanyak satu liter dalam botol bekas air mineral. ”Air ini akan saya simpan. Bisa untuk penolak bala, atau bisa juga untuk kesuburan sawah saya,” katanya. Melihat cara warga berebut air, memang tampak lucu. Dua orang nenek dengan berkain panjang dan rambut beruban, nekat membungkukkan badannya di bawah kereta untuk menampung cucuran air bilasan kereta yang diambil melalui pipa air hidran di depan museum. Beberapa orang lain, karena malas berebut air di dekat kereta, langsung menunggu aliran air di parit. Air itu ia ciduk dengan tangannya, diusapkan ke wajah dan rambutnya dengan khidmat.

Mungkin kepercayaan itu yang membawa berkah. Melihat hal itu, beberapa turis berkulit putih tampak terbengong-bengong. Mereka bertanya-tanya kenapa seorang ibu itu tanpa merasa jijik mau menciduk air di got yang sebenarnya kotor itu? Sebenarnya, di samping jamasan kereta, di dalam keraton juga ada jamasan pusaka. Akan tetapi, jamasan pusaka itu tidak boleh dilihat oleh umum. Misteri jamasan pusaka itu sendiri akhirnya memang tinggal misteri yang dipelihara turun-temurun. Semisteri pusaka yang dipercayai memiliki kekuatan supra natural itu sendiri. (nug: dari berbagaai sumber)

Penulis: jogjakini

Suka Traveling dan Jalan Jalan melihat hal baru