Beranda > Raja-Raja Mataram > Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan

Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan


Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi , brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.

“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.

“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget , ia mengenali siapa pria itu . “Ya Allah…sinuwun!” kejutnya dalam hati . Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik , naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden , tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir , orang sebesar sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke pekalongan yang jauhnya cukup lumayan., entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes , Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan , namun sultan menolak.

“ Ya ..saya salah , kamu benar , saya pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

“ Jadi…?” Sinuwun bertanya , pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya .

“Em..emm ..bapak saya tilang , mohon maaf!” Brigadir Royadin heran , sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu , mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak melakukannya.

“Baik..brigadir , kamu buatkan surat itu , nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan , rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas , Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi pekalongan , nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.

“Royadin , apa yang kamu lakukan ..sa’enake dewe ..ora mikir ..iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa , ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.

“ Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia , ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.

“ Siap pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa , beliau ngaku salah ..dan memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia ..ojo kaku kaku , kok malah mbok tilang..ngawur ..jan ngawur….Ini bisa panjang , bisa sampai Menteri !” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah , apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi , yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja ..memang Koppeg(keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun , masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu , mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar , keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah , Brigadir Royadin bertugas seperti biasa , satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan selatan.

Suatu sore , saat belum habis jam dinas , seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin….minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin , ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari , karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .

“ Siap pak !” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan , untuk apa bawa keluarga ketepi pekalongan selatan , ini hanya merepotkan diri saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur…Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana , pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris , disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “ Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja , sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar , namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini .

“ Mohon bapak sampaikan ke sinuwun , saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari pekalongan , ini tanah kelahiran saya , rumah saya . Sampaikan hormat saya pada beliau ,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya !” Brigadir Royadin bergetar , ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX , Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010 , saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga dipekalongan , saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya . Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya , sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya , pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran .

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati . Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari sabang sampai merauke.

Depok June 25′ 2011
Aryadi Noersaid

Update terakhir tentang penulis artikel: Bp Aryadi Noersaid saat ini tinggal di Depok, Saya sempat konfirmasi via SMS kepada penulis untuk memastikan dan meminta comment atau pernyataan dari beliau.

Setelah menunggu beberapa waktu saya mendapat respon dari Bp Aryadi Noersaid. Saya copy dari comment beliau. dan terima kasih pak respon kilatnya:

Aryadi Noersaid (aryadi17@yahoo.com)

Bapak ibu sekalian , surprise tulisan ini hadir setelah sekian bulan saya menulisnya, saya mendapatkan linknya melalui teman facebook. Cerita ini bagian dari catatan tepi yang saya terbitkan secara rutin di mils dan kompasiana , berupa pengalaman saya dan orang lain yang saya dapatkan dari sumbernya. Almarhum Pak Royadin adalah kakak ayah saya , beliau berpulang tahun lalu di rumah sederhananya di Proyonanggan di Batang,kota dekat pekalongan . Kisah ini selalu menghiasi hari saya kalau pulang ke kampung halaman orang tua. Meskipun tak persis detil demi detil percakapan yang diceritakan dari beliau tertulis didalam kisah ini , termasuk penggunaan bahasa jawa yang saya memang kurang menguasai untuk menuliskannya kembali serta tanggal dan tahun kejadian , namun beliau memang sangat memegang apa yang di omongkannya serta lurus dalam hidupnya , dan ini cerita masterpiece yang saya kenang selalu khususnya jika mengenang beliau .Terakhir bertemu beliau adalah ketika ia secara tiba tiba ke jakarta saat ayah saya tiada dan ia menyusul kemudian kembali kepada Allah SWT tanpa saya bisa menjenguknya. Semoga Allah menerima kanjeng sultan dan Pak Royadin di sisiNya.Amiin

Revisi dari Penelusuran Tribun Jogja:

Dari berita dari tribun joga yang juga mencari langsung ke narasumber resmi setelah kisah Sri Sultan Terkena Tilang dipekalongan. Ternyata Ngarsa Dalem ditilang di Semarang. Narasumber adalah Putera putri dari Bp Royadin. Berikut beritanya. baca selengkapnya di: http://jogjakini.wordpress.com/2012/04/12/sedikit-revisi-lokasi-kejadian-ketika-sri-sultan-hb-ix-terkena-tilang/

About these ads
  1. Desember 16, 2011 pada 7:21 pm | #1

    cerita yang indah….keteguhan hati sang polisi jalan kan aturan diimbangi dengan kebesaran jiwa sang pemimpin…alangkah indahnya jika Indonesia masa kini mengikuti teladan di cerita ini…
    ijin share ya….

  2. Desember 17, 2011 pada 2:41 am | #3

    Kita semua kini lebih tahu siapa beliau-beliau dalam kisah ini. Sesuatu yang sudah langka di republik ini.

    • S. Budi
      Desember 21, 2011 pada 2:32 am | #4

      Walau saya orang Jogja tapi saya salut pada Polisi dari Pekalong seperti yang termuat di atas, begitu juga dg mantan Kapolri HUGENG dari kota yg sama, beliau tidak mau terima suap dan memilih disiplin dan hidup sesuai penghasilan seorang polisi, mereka amat langka di Indonesia ini, semoga para polisi sekarang membacanya dab mencontoh orang2 teladan ini, syukur lebih baik lagi, amiin.

      • caterin
        Januari 22, 2012 pada 1:26 pm | #5

        bukan polisinya, tapi pejabatnya

  3. Desember 17, 2011 pada 3:05 am | #6

    I’m very surprised & proud with Alm.Royadin.You are a real policeman in my hearth & other peoples.For Sri Sultan Hamengku Buwono IX is brave man & heros of this country.The sweety story for this moment.Best regard.Dewanta Aries Sandy

    • machinco
      Desember 19, 2011 pada 10:38 pm | #7

      kalau diliat dr namanya yg koment ini, indonesia bgt. Tp kok sok pake bhs inggris? Bangga jadi bangsa indonesia dimulai dgn bangga berbahasa indonesia. Apalg ini di forum berbahasa indonesia. Jgn sok kebarat2an

      • Rinardi
        Desember 20, 2011 pada 2:42 am | #8

        Sudah …. gak usah dipermasalahkan … yang penting maksudnya khan baik …… peace …..

      • auk ah
        Desember 20, 2011 pada 2:47 am | #9

        udah sok bule ngaco lagi inggrisnya

      • Veni
        Desember 20, 2011 pada 3:07 am | #10

        Maaf bung machinco…. tuduhan sok kebarat2an ini yang membuat generasi kita mandeg, tidak bisa go Internasional. Kita lihat Negara Tetangga kita, mereka juga menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian meski mereka memiliki bahasa nasional. Berfikir positif akan membuat kita makin positif. Penggunaan Bahasa tidak akan melunturkan semangat nasionalisme. Tetapi bersikukuh dengan Bahasa Indonesia sampe tulang sungsum juga tidak menjamin mereka nasionalis. Kita harusnya bangga bisa menggunakan bahasa apapun sebagai orang Indonesia. Sudah lama saya alergi dengan tuduhan macam ini…. maaf… Bung dewanta Aries Sandy…. never give up…. Bung machinco belum tahu bahwa di daerah Pare Kediri, ada sebuah desa yang keseharian menggunakan bahasa ingris, dan menjadi salah satu aset pariisata indonesia….. Ingat pula Kanjeng Sinuhun pun kerap menggunakan BAHASA BELANDA semasa hidupnya…. sampai laval bahasa Indonesia pun jadi dialek Belanda. Belajar dari Kebesaran Kanjeng Sinuhun ya…..

      • xate xavi
        Desember 20, 2011 pada 5:59 am | #11

        maaf bung machinco & auk ah. Sekedar berbagi informasi dan pandangan saja, bahwa saat ini bangsa kita kalah bersaing dan jauh tertinggal di negeri kita sendiri oleh para expatriat, Hal itu semata karena masalah penguasaan bahasa inggris.
        Ingat juga bung, kita seringkali kalah di kancah diplomasi internasional (sipada ligitan dll), salah satunya karena penguasaan diplomasi (dalam bahasa inggris) kita juga kurang..
        Maka pilihan di tangan kita mau membawa kita & anak kita maju, atau hanya menjadi penonton yg semakin termajinalkan hanya karena kita tidak menguasai salah satu bahasa internasional.
        Kalau kita cinta dengan republik ini mari jangan biarkan anak – anak bangsa kita kalah nanti pada waktunya.

      • yoyo
        Desember 21, 2011 pada 4:13 am | #12

        bang jangan nyebut diri anda bangga berbahasa indonesia kalau cara menyingkat kata aja nggak sesuai kamus bahasa inonesia,

      • Desember 21, 2011 pada 7:11 pm | #13

        mungkin maksud dari komentator yang berbahasa asing itu bagus, supaya post ini dapat terbaca dengan baik menurut bahasa yang sudah terlanjur universal, toh nyatanya kita juga banyak mengadopsi kata2 dari bahasa asing kan?

        yang perlu itu untuk bangsa ini orang yang semacam Bpk Polisi Riyadi dan HB IX.

        yang tadi ngomong internasional, ane bilang kenapa yang internasional itu gak dibawa ke nasional aja? bukan cuma nasional yang di internasionalkan, tapi internasional juga jadiin nasional donk….

      • Januari 3, 2012 pada 3:24 am | #14

        mungkin maksud dari komentator yang berbahasa asing itu bagus, supaya post ini dapat terbaca dengan baik menurut bahasa yang sudah terlanjur universal, toh nyatanya kita juga banyak mengadopsi kata2 dari bahasa asing kan?

        Setuju! 9 dari 10 kata Indonesia adalah serapan (adopsi) dari bahasa asing (demikian kalo ngga salah pendapat dari J.S. Badudu)

      • Januari 19, 2012 pada 9:44 am | #15

        waduuh…nanti yang di pesantren dan menggunakan bahasa arab terus dibilang kearab araban…capek deehh…
        Bangga jadi bangsa indonesia tidak harus selalu menggunakan bahasa indonesia dong…bolehkan pakai bahasa lain agar bangsa lain jadi tahu…
        yuuk kita tiru BELIAU BELIAU…(Kanjeng Sultan dan Bapa Royadin)..

    • windy
      Desember 20, 2011 pada 5:14 am | #16

      We can learn a big thing from the a little moment ..keep
      it up young man !!

      • Desember 20, 2011 pada 7:19 am | #17

        AH TAI ANJINK SEMUA

      • vhaiel
        Desember 20, 2011 pada 4:08 pm | #18

        Ūϑåћ jangan terprovokasi sama ucapan2 abg2 labil…..kaya anak kecil ja!!! Tuh coment-in cerita aja malah coment orang dcoment lagi!!! Ngehek!!

      • April 29, 2012 pada 7:13 pm | #19

        Sudahlah! Orang yang berpandangan Nasionalis, juga lupa rupanya bahwa paham nasionalisme (kata dasar “nation”) juga buatan bule Eropa dalam 200 tahun terakhir untuk mengkerdilkan suatu bangsa atau rumpun bangsa menjadi negara-negara yang lebih kecil. Indonesia juga bukan apa-apanya, wong nama Indonesia juga diberikan oleh orang Eropa baru dipakai seratus tahun lebih sedikit. Aneh Nasionalisme Indonesia buatan orang Eropa kok juga dibangga-banggakan. Jika cinta Nusantara (yang dulunya jauh lebih luas meliputi tanah semenanjung) pakai nama asli sini dong! Sukarno yang menggaungkan nasionalisme Indonesia faktanya juga tetap mengadopsi sistem dan perangkat hukum Belanda (KUHP) sampai sekarang. Jadi NasionaI Indonesia itu seperti apa?

      • April 29, 2012 pada 7:17 pm | #20

        Cintailah segala sesuatunya jangan berlebihan seperti juga membenci sesuatu jangan berlebihan.

  4. Desember 17, 2011 pada 3:23 am | #21

    Cerita yg menyentuh.. Mudah mencari seseorang yg mengabdi pada sebuah pekerjaan demi penghasilan.. Namun sulit mencari orang yg mengabdi pada aturan kerja tanpa memandang penghasilan… (Polisi jaman sekarang kerja bener kalo ada duit doang :D )

    Mantep ni.. harus nya jadi kisah wajib para polisi dan penegak hukum jaman sekarang… jgn melempem ama pejabat ato duit… What i said about this is.. SUPERB!

    • Desember 20, 2011 pada 2:50 am | #22

      sudah ada duitnya juga belum tentu kerjanya bener..heheheh

    • blackbird
      Desember 21, 2011 pada 5:58 pm | #23

      Gimana mo jadi polisi bener lha wong daftarnya aja udah ngak bener. Klo dr awal n niatnya salah maka dpt d pastikan selanjutnya juga ngak bener

  5. Desember 17, 2011 pada 9:52 am | #24

    wah, cerita yang menggetarkan dan menggugah rasa nasionalisme saya yang telah lama tidur, terima kasih.

  6. gonjang anom
    Desember 17, 2011 pada 10:55 am | #25

    Aku menangis, ketika membacanya…. begitu luar biasanya…. salam hormat kami….

    • John Koes
      Desember 20, 2011 pada 10:46 am | #26

      sama dng aku

    • arie
      Januari 3, 2012 pada 10:06 am | #27

      aku jg sama.. ngikuut..

    • zahro
      Januari 25, 2012 pada 6:08 am | #28

      Aku Juga Hiks….

      • fred agung
        Juni 7, 2012 pada 3:28 am | #29

        aku iyo je…hikss!!

  7. Desember 17, 2011 pada 2:59 pm | #30

    hebat !!!

  8. Desember 17, 2011 pada 3:06 pm | #31

    ooo..ternyata ada kisah seperti itu ya…nice post
    sampai terharu….

  9. Desember 17, 2011 pada 11:23 pm | #32

    Follow blog’ku ya, ntar pasti aku follback http://andiweb3.wordpress.com

  10. Desember 18, 2011 pada 12:04 am | #33

    Semoga jejak langkah Pak Royadin bisa di ikuti junior2-nya di kepolisian, jangan sampai kata2 Gus Dur jadi kenyataan bahwa cuma 3 polisi yang bisa dipercaya di negeri ini sekarang yaitu Polisi Sugeng (Mantan Kapolri), Patung Polisi, dan Polisi Tidur he he.

    • Desember 19, 2011 pada 7:56 am | #34

      bukan sugeng gan, tapi hoegeng :)

    • diandra
      Desember 19, 2011 pada 1:55 pm | #35

      WK WK WK SALAH HUGENG OM

    • Ramadi
      Desember 20, 2011 pada 1:27 am | #36

      Salut sy dg pak Royadin dlm tugas tdk memandang siapa yg dihukum tapi liat kesalahan nya apa bravo Indonesia ( Ramadi papua Barat )

  11. Desember 18, 2011 pada 6:28 am | #37

    uwaa…boleh re post ga..sebagai orang pekalongan yang sangat mencintai jogja..saya sangat terharu,,,huuu…ijin re-post yah..

  12. wolf familia
    Desember 18, 2011 pada 6:36 am | #38

    polisi hebat dan penguasa yang berjiwa besar,, kalo jaman sekarang orang berkuasa pasti dengan sigap nya mengatakan.. “Jangan tilang saya atau saya laporkan ke komandan anda”

  13. beni S
    Desember 18, 2011 pada 8:50 am | #39

    Dua-duanya tokoh yg jd panutan..
    Barang langka dijaman sekarang

  14. Desember 18, 2011 pada 11:16 am | #40

    Subhanallahh..patut dicontoh

  15. harmano
    Desember 18, 2011 pada 11:57 pm | #41

    Polisi yang bener Polisi, Raja yang merakyat, HBIX pernah nyetis sendiri dari Jakara Ke Yogya, sampe Tasik-Banjar dicegat DI TII, dan minta numpang, tidak ada rasa apapun, mereka saling tahu…

    • denmasagoenk
      Desember 19, 2011 pada 7:41 am | #42

      tolong donk, mas yang ini di ceritakan. saya penasaran dengan cerita yang satu ini. memang Ngarso Dalem itu priyayi yang sangat “lembah manah” dan merakyat…

    • candra
      Desember 19, 2011 pada 9:53 am | #43

      wah saya juga tertarik sama yang ini, ceritakan lebih lanjut dong, kalau berkenan ^,^

  16. Nuraksa
    Desember 19, 2011 pada 2:17 am | #44

    kombinasi the right people at the right circumstances = magic!

  17. Desember 19, 2011 pada 2:26 am | #45

    Dan kerongkongan ini sampai tercekat ketika membaca kisah ini. Air mata hampir saja menetes kalau saja saya tak ingat lagi berada di kantor sekarang. Cerita yang amat sangat menggetarkan hati. Mengingatkan kita bahwa harapan itu masih ada.

  18. bagus ario bimo
    Desember 19, 2011 pada 4:35 am | #46

    subhanallah…..tak terasa air mataku mengalir…….sungguh betapa mulianya hati beliau2…….

  19. galih firman
    Desember 19, 2011 pada 4:36 am | #47

    Saya bangga dengan ketegasan alm.royadin.
    Jujur dan tegas dengan tugas yang di pegangnya.dan saya salut kepada almarhum raja saya sri sultan HB IX,atas kemurahan hati,kelapangan hati,dan tidak semena2 menggunakan jabbatanya.
    Semoga mereka berdua tenang di sisiNYA dan bisa jadi contoh semua org.
    Saya galih,cucu dari kyai kasan pawiro selaku abdi dalem keraton jogja,saya berdoa selalu untuk mereka dan jogja agar tetap aman damai sejahtera.aminnn…

  20. Desember 19, 2011 pada 4:36 am | #48

    Sub’kanaAllah..sungguh mulia bapak polisi ini,seandainya semua polisi dan pejabat seperti ini pasti kita rakyat biasa akan merasa nyaman tinggal di Indonesia..

  21. Desember 19, 2011 pada 4:36 am | #49

    Nice Post……..Salut

  22. Desember 19, 2011 pada 4:37 am | #50

    Sungguh wibawa yg besar, masih terasa sampai kini…

    Bangsa ini butuh pemimpin sepertimu sinuwun HB IX

  23. watojasundaputra
    Desember 19, 2011 pada 4:38 am | #51

    Beliu H.B tidak AdiGang,AdiGung,Adiguno

  24. arif
    Desember 19, 2011 pada 4:38 am | #52

    jika pemimpinnya seperti itu, polisinya seperti itu.. pastilah negerinya aman selalu

  25. Desember 19, 2011 pada 4:38 am | #53

    ijin share ya gan !!!!

  26. TDF
    Desember 19, 2011 pada 4:40 am | #54

    polisi teladan iki….. keren….

  27. faried
    Desember 19, 2011 pada 4:42 am | #55

    hampr saja airmata ini jatuh….sungguh seorang pemimpin yang sangat bijak dan tidak memanfaatkan jabatannya untuk kepentinngan pribadinya….

  28. herleg
    Desember 19, 2011 pada 4:42 am | #56

    perlu dijelaskan peristiwa ini terjai tahun berapa? Pak Royadin pada saat bertugas usia berapa?

  29. retno
    Desember 19, 2011 pada 4:44 am | #57

    terharu bacanya….. mereka orang2 besar….

  30. Desember 19, 2011 pada 4:45 am | #58

    Mantab,
    Angkat topi pada 2 orang besar tersebut

  31. dimda
    Desember 19, 2011 pada 4:45 am | #59

    Greatest story ever…

  32. Desember 19, 2011 pada 4:45 am | #60

    oww pantes banyak pati di polri dari pekalongan yang dapat d jadikan contoh sbg polisi teladan seperti Jendral Hoegeng….

  33. Desember 19, 2011 pada 4:46 am | #61

    jiwa-jiwa besar yang kini semakin langka……

  34. Desember 19, 2011 pada 4:47 am | #62

    merindukan… polisi yg tegas dan pemimpin yang berjiwa besar…
    *masih adakah???

  35. Desember 19, 2011 pada 4:47 am | #63

    Wow.. Amazing..!! Masih adakah orang2 seperti itu di Indonesia?? #ngarep

  36. Desember 19, 2011 pada 4:48 am | #64

    merinding bacanya, luar biasa kedua manusia dalam cerita ini

  37. Desember 19, 2011 pada 4:48 am | #65

    bagus….

  38. Desember 19, 2011 pada 4:48 am | #66

    Kini baru level camat saja sudah berlaku seperti sang raja, hmmm…

  39. Desember 19, 2011 pada 4:48 am | #67

    beranikah polisi sekarang menangkap pejabat??? menangkap anak pejabat aja gk berani xixixixi

  40. orva
    Desember 19, 2011 pada 4:48 am | #68

    mantaf…….. patut jadi suritauladan…

  41. vicky
    Desember 19, 2011 pada 4:48 am | #69

    sumpah saya terharu…

  42. ROCKCAT
    Desember 19, 2011 pada 4:48 am | #70

    Salut dan terharu..

  43. syifaus
    Desember 19, 2011 pada 4:49 am | #71

    coba di indonesi 50 % saja pemimimpinnya berubah seperti beliau2

  44. Wawan Kartyawan
    Desember 19, 2011 pada 4:50 am | #72

    Wo0oW ; Tgl 19 Desember adalah tanggal yg sangat bersejarah bagi Jogja … karena pada tanggal tersebut di tahun 1948 tentara Belanda masuk / menyerbu kota Jogjakarta, yang kala itu masih menjadi Ibu Kota dari Republik Indonesia yg tercinta !!! & dimulailah sebuah perjuangan tuk mempertahankan kemerdekaan yg telah diraih, Clash ke 2 pun dimulai !!! & hari ini aku membaca sebuah kisah perjuangan yg tak kalah hebatnya …. !!! Salam tuk saudara2 ku di Pekalongan & Saudara2 ku Sebangsa dan setanah Air dari kota Perjuangan Jogjakarta.

  45. Desember 19, 2011 pada 4:51 am | #73

    masih adakah sosok pemimpin seperti itu di masa kini…?!…

  46. ngatiman Bon Lor
    Desember 19, 2011 pada 4:51 am | #74

    beliau berdua mungkin,ga ada di jaman sekarang ini.

  47. Desember 19, 2011 pada 4:51 am | #75

    Terharu aku membacanya………………………msh adakah orang tersebut di negeri ini………

  48. hasbidaya
    Desember 19, 2011 pada 4:52 am | #76

    mantab..i like this..ijin copas

  49. Desember 19, 2011 pada 4:52 am | #77

    Membaca kisah ini, membuat air mata meleleh, hati bergetar, tercekat kerongkongan. Menambah bangga menjadi bangsa Indonesia.
    Sungguh sudah sangat langka di jaman serba materi seperti sekarang ini.

  50. Desember 19, 2011 pada 4:53 am | #78

    great …

  51. Desember 19, 2011 pada 4:54 am | #79

    HB IX juga pernah disuruh ngantar pedagang pasar, dikira mobilnya itu angkot. Sampe di pasar Beringharjo pedagang pasar itu diturunkan. Pak sultan dikasih uang gak mau. Sampe di pasar orang bilang itu tadi Sultan HB IX… langsung aja gemeteran tuh pedagang pasar.

    • denmasagoenk
      Desember 19, 2011 pada 7:46 am | #80

      ada yang mengatakan pedagang itu sempat memarahi Ngarso Dalem. bukan hanya gemetaran, namun pingsan…

      • ogun7ruh
        Desember 19, 2011 pada 11:33 am | #81

        Semua kisah itu ada di buku TAHTA UNTUK RAKYAT, Gramedia 1982. Sayang buku saya dipinjam teman gak dikembalikan…

    • agung
      Maret 26, 2012 pada 8:10 am | #82

      bahkan sinuwun disuruh menaikkan dan menurunkan berasnya…..

  52. erna
    Desember 19, 2011 pada 4:55 am | #83

    hemmmmmmmmm merinding aku baca nya .;.. sungguh luar biasa mereka , pak polisi yang tegas dan seorang pemimpin yang mau mengaku salah , serta menyelesaikan secara lurus ! subhanalloh .. andai itu terjadi saat ini ya

  53. Dhany
    Desember 19, 2011 pada 4:56 am | #84

    kl sekarang ada polisi nilang atasan langsung dipecat,…skrg semua bisa dinego…tp dr dl Sri Sultan HB IX emang panutan rakyat Yogyakarta,…salut juga tuk pak polisi Royadin(alhm)…

  54. Desember 19, 2011 pada 4:57 am | #85

    CERITA TENTANG PIMPINAN YANG BIJAKSANA DAN BAWAHAN TAAT ATURAN..

  55. Desember 19, 2011 pada 4:58 am | #86

    Luar biasa, sudah jarang sekali orang seperti mereka di negeri ini

  56. Desember 19, 2011 pada 4:59 am | #87

    Alhamdulillah, masih sempat membaca kisah seperti ini. Sinuhun Kaping IX dan Pak Polisi Royadin, Gusti Allah Paring Ridho. Alfatehah.

  57. Desember 19, 2011 pada 4:59 am | #88

    Sebuah panutan,yang sekarang sudah langka ditemukan di negeri ini.big respect

  58. abimanyu
    Desember 19, 2011 pada 5:00 am | #89

    Saya bangga jadi rakyat jogja dan indonesia utamanya bangga dengan pemimpinsaya sinuwun HB jogjaku memang top.

  59. Desember 19, 2011 pada 5:02 am | #90

    Kanjeng Sinuwon, Perlu di Contoh Keteladannya

  60. Desember 19, 2011 pada 5:03 am | #91

    sekarang tokoh semacam itu sudah punah…:’(
    hanya tinggal spesies yg mementingkan diri sendiri..

  61. ary s
    Desember 19, 2011 pada 5:06 am | #92

    salut buat petugas dan pemimpin, luar biasa….

  62. marfi
    Desember 19, 2011 pada 5:06 am | #93

    treNyuh….

  63. Thoha
    Desember 19, 2011 pada 5:06 am | #94

    kisah nyata yang menginspirasi tentang amanah,tanggung jawa dan keluasan hati pemimpin…luar biasa.! semoga dinegeri ini msh banyak pemimpin yang jujur,tegas,dan amanah.

  64. Desember 19, 2011 pada 5:07 am | #95

    Awesome story from the Great Men

  65. ria_doank
    Desember 19, 2011 pada 5:07 am | #96

    wow…wow…wow
    semoga jadi panutan dimasa skrng ini

  66. doni
    Desember 19, 2011 pada 5:12 am | #97

    pahlawan POLRI

  67. harti
    Desember 19, 2011 pada 5:13 am | #98

    haruuu…dan bangga.. jarang d jumpai saat ini

  68. Desember 19, 2011 pada 5:16 am | #99

    Sungguh luar biasa, mungkin sebaiknya para calon polisi dan polisi membaca kisah ini. Sosok seperti inilah yg sebenarnya perlu ada di jajaran penegak hukum.

    • Adi
      Desember 22, 2011 pada 8:23 am | #100

      Kadang udah di tegakkan tapi pejabatnya yg menggunakan kewenangannya..kita bisa apa??

  69. tirta
    Desember 19, 2011 pada 5:18 am | #101

    sumpah pejabat negara yang bener – bener bijaksana, adil, wibawa, yah pokoknya jembol,,,,,

    saya yakin pasti sekarang ini gak ada pejabat negara yang kaya sultan Hamengkubuono IX,,,

    yang bener aJA RAJA SEKALIGUS PRESIDEN DI WAKTU ITU DI TILANG,, SAMA POLISI ,,

  70. Desember 19, 2011 pada 5:19 am | #102

    betul waktu tadi mbaca tulisan ini rasa haru pun muncul dan betul2 tak kuasa untuk membasahi mata ini dengan keharuan… sebagai orang pekalongan yang baru tau kisah ini sangat-sangat berterima kasih masih memberikan harapan dan motivasi untuk percaya dengan sejarah, dan masih percaya pada pejabat dan aparat seperti yang diceritakan diatas …. dinegeri ini pernah tinggal orang-orang baik yang tidak menggunakan kekuasaan untuk menang2an dan ada aparat yang begitu taat dan patuh pada aturan dan tidak pernah tunduk pada pejabat sekalipun …

  71. hoedy
    Desember 19, 2011 pada 5:19 am | #103

    Menharukan,,,,msih adakah orang2 seperti ini di jaman sekarang…pengabdian sejati dan keluasan budi, jauh dari kesombongan keangkuhan…..

  72. habib
    Desember 19, 2011 pada 5:20 am | #104

    Sungguh salut kepada kedua orang itu,sekali lagi saluuut…

  73. nuri
    Desember 19, 2011 pada 5:20 am | #105

    Sy sbgai penerus bgsa bangga sekali ats kepatriotan n ketegasan alm Brigadir Royadin,seandaix smua polisi bgtu n tdk tergiur iming2 uang suap mgkn nm baik polisi yg tlh tercemar skrg bs pulih…bgtu tegas,cnta klrg jg cnta tnh air alm Brigadir Royadin

  74. Desember 19, 2011 pada 5:23 am | #106

    teharu rasanya membaca kisah dua orang pahlawan (bagi saya), dua teladan bangsa di sini. patut disebarluaskan sebagai teladan kita dan sindiran bagi mereka yang silau dengan jabatan atau uang..

  75. Desember 19, 2011 pada 5:23 am | #107

    sulit..sulit..sungguh-sungguh sulit cari polisi model.Pak.Royadin…

  76. Desember 19, 2011 pada 5:24 am | #108

    sumpah,, saya sebagai warga asli kota pekalongan merasa bangga sama pak royadin
    perlu dicontoh dan menjadi panutan yang baik :)

  77. Desember 19, 2011 pada 5:26 am | #109

    sugguh mengharukan… luar biasa…
    semoga muncul royadin-royadin lainnya dan semoga semakin banyak yg berjiwa sepert sultan

  78. Desember 19, 2011 pada 5:27 am | #110

    SubhanAllah :)

  79. Desember 19, 2011 pada 5:27 am | #111

    ini baru polisi,,,,, salut dengan Bapak Royadin

  80. Zurrie
    Desember 19, 2011 pada 5:27 am | #112

    Kisah yg pelahan kembalikan rasa nasionalisme kita semua…good job…

  81. Desember 19, 2011 pada 5:28 am | #113

    Seandainya pemimpin dan bawahan yang seperti Beliau berdua tersebut mengendalikan negeri ini…

    * membacanya saja sudah ndak bisa menahan air mata.

  82. djaka suprijanto
    Desember 19, 2011 pada 5:28 am | #114

    andai di negeri ii masih ada polisi atau pejabat sepertiitu indonesia akan jaya……amin .Selamat jalan bapak ROYADIN smoga amal perbuatanmu didunia jadi bekalmu di akherat.. Amin. dan terima kasih ketauladanmu wahai Pak Royadin, Sang Polisi sejati . Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya ……

  83. fadli firman syah
    Desember 19, 2011 pada 5:29 am | #115

    Pak royadin mumgkin salah satu polisi yang patut di acungi jempol yang luar biasa betapa dia menegakkan peraturan.
    Bagaimana bila terjadi pada masyarakat sipil ya??????
    Pa te2p kena pasal KUHP(Kasih Uang Habis Perkara)

  84. Mazter Irwan
    Desember 19, 2011 pada 5:29 am | #116

    Cerita yg menarik,bagus..tp ada kejanggalan.
    Bahasa yg dipakai oleh Komisaris adalah bahasa ‘bandekan’ Jawa khas Yogyakarta, sedangkan Pekalongan adalah bahasa Pantura, mirip dg bahasa ngapak Banyumasan.

    selama belum ada sumber yg bisa dipertanggung jawabkan,saya anggap cerita ini adalah cerita fiksi yg inspiratif :)

    • ogun7ruh
      Desember 19, 2011 pada 11:36 am | #117

      Bukan fiksi mas… Coba sampeyan cari buku TAHTA UNTUK RAKYAT, Gramedia 1982… Semua kisah yang tertulis berdasarkan sumber-sumber yang jelas. Sayang buku punyaku dipinjam teman gak dikembalikan…

    • Desember 20, 2011 pada 3:21 am | #118

      Memang janggal , karena bahasa jawa yang saya tulis adalah bahasa jawa versi saya, meskipun ayah saya asli pekalongan namun saya tidak bisa bahasa jawa ala pekalongan seperti yang diceritakan oleh almarhum pak Royadin yang alunannya merdu dengan “nyong” yang khas. Jika ini dianggap fiksi tidak mengapa, karena ini adalah sebuah cerita yang diceritakan kembali . Salam , AN , penulis.

      • Adila
        Desember 3, 2012 pada 8:14 pm | #119

        Salut buat BELiAU2..
        Saya beruntung pernah tau kisah ini..

        Dua jempol buat pak Aryadi..yang telah merangkai kata begitu baiknya, sehingga ceritanya sangat menyentuh hati, terima kasih pak..

    • Isti
      Desember 20, 2011 pada 3:31 am | #120

      dan di atas pun sudah dijelaskan oleh mas Aryadi Noersaid, cerita yang mas Aryadi tulis ini tidak sedetail kejadian aslinya, termasuk dalam bahasa yang dipakai karena keterbatasan mas Aryadi dalam bahasa Jawa. Coba dibaca komentar dari mas Aryadi Noersaid di atas.

    • Tjahjo
      Desember 20, 2011 pada 5:31 am | #121

      ambil sisi positif dari cerita ini,sekarang banyak penguasa yang selalu menggunkan jabatannya,apalagi masalah hukum…
      semoga masih ada polisi dan pejabat di negara ini yang memiliki sifat sperti Sinuwun HB IX dan Alm. Pak Royadin

    • hira
      Desember 20, 2011 pada 8:03 am | #122

      Bahasa Pekalongan tidak mirip dengan bahasa Banyumasan, lebih ke arah bahasa “Bandekan” daripada bahasa “Baworan” wkwkwkw. Tapi ada sedikit pengaruh bahasa “ngapak” spt “Nyong”, tapi saat ini sdh jarang dipakai. Saya sendiri besar (TK s/d SMA) di Kel. Proyonanggan, Kab Batang (sama dg tempat tinggal Pak Royadin) jadi saya bisa berbahasa pekalongan – batang. Yg jelas kita ga bisa men-judge suatu alur cerita adl fiksi atau bukan hanya dengan patokan bahasa.

    • dimas
      Desember 31, 2011 pada 3:45 am | #123

      saya yang lahir dan tumbuh di batang(dekat pekalongan)yakin
      bahasa pekelongan bukanlah banyumasan yang ngapak2, jadialasan sanggahan anda mengenai cerita ini fiksi sungguh lemah

      orang penulis adalah keponakanya,pastilah penulis dengar cerita langsung, setidaknya lewat ayahnya yang notabene kakak pak polisi.

  85. Desember 19, 2011 pada 5:30 am | #124

    Alangkah indah Indonesia jika pemimpin pemimpinnya seperti Sri Sultan HB IX dan polisinya sepertBrigadir Royadin

  86. angin api
    Desember 19, 2011 pada 5:35 am | #125

    Q dah tak bisa comment lg… mulut trasa terkunci….. kapan lagi negri ini akan memiliki orang2 besar spt mereka?

  87. diandra
    Desember 19, 2011 pada 5:35 am | #126

    Inilah kenapa jogja istimewa,,karena pemimpinnya benar2 berjiwa pemimpin, nyatanya mampu dan mau memberi contoh bukan sekedar omdo,,sungguh bijaksana,,well sharusna pemimpin negeri ini mencontohnya,,sharusna para polisi juga mencontoh alm jga

  88. Reza
    Desember 19, 2011 pada 5:38 am | #127

    Coba semua polisi modelnya ky pak royadin ini, Aman pasti tiap Kota, hukum tidak memandang status sosial

  89. Wahyu duri
    Desember 19, 2011 pada 5:38 am | #128

    Innalillahi wa innailaihi roji’un, semoga darmabhakti almarhum mendapatkan tempat yang istimewa di sisiNya.

  90. budi rahardjo
    Desember 19, 2011 pada 5:39 am | #129

    Sudah tidak ada orang yg seperti sinuhun sri sulan HB IX dan polisi jujur tersebut

  91. nisa
    Desember 19, 2011 pada 5:46 am | #130

    seandainya polisi sekarang dan sang raja seperti itu negara tdk amburadul

  92. Rouzwadi Haris
    Desember 19, 2011 pada 5:48 am | #131

    Masih adakah Pemimpin seperti Sultan Hamengkubuwono ke IX saat ini ? ataukah masih ada Polisi seperti Pak Royadin ini….?????????Wallahualam bissawab……

  93. krisna murti
    Desember 19, 2011 pada 5:48 am | #132

    Saya terharu membaca cerita ini. Tabik alm Royadin tabiik Sinuwun!

  94. Desember 19, 2011 pada 5:50 am | #133

    Polisi yang hwebbbattt… !!! Sinuwunnya juga… aahhh… mengharukan..:)

  95. bonny pandu
    Desember 19, 2011 pada 5:50 am | #134

    rojadin is a real police…!

  96. Desember 19, 2011 pada 5:51 am | #135

    baca panjang lebar cerita sangat menarik :D

    mari kita semua ambil sisi positifnya :”>

  97. Ade Santoso
    Desember 19, 2011 pada 5:53 am | #136

    Semoga diterima amal ibadah alm. pak Royadin, diterangi dan dilapangkan kuburnya, dan kembali terlahir jiwa-jiwa dengan semangat pak Royadin yang memegang teguh ketegasan dan kejujuran…

  98. fa ying
    Desember 19, 2011 pada 5:57 am | #137

    msh adakah…. pimpinan yg akan bersikap demikian jk mmg salah dan msh adakah bawahan yg brani mengatakan.. yg benar itu benar dan yg salah itu salah !!!!! salut buat Sri Sultan IX (alm) dan Pak Royadin……

  99. Endi
    Desember 19, 2011 pada 5:59 am | #138

    Karena yang melakukan itu Sinuwun Sri Sultan HB IX, saya meyakini keberadaan Brigadir Royadin ini, plus ceritanya… Selain polisi tidur, almarhum Soegeng, semoga tidak keliru memilih almarhum Brigadir Royadin sebagai (tambahan) salah satu polisi yang bisa dipercaya! Ada perasaan bangga, walau tak memiliki/mengenal almarhum, semoga keluarga
    yang ditinggalkan mengikuti karakter beliau!

  100. Desember 19, 2011 pada 5:59 am | #139

    Subhanallah. . . Ternyata kisah indah ini masih tersampaikan, terharu dan prihatin. Apakah kisah semacam ini akan jadi sejarah belaka atau sebagai pembelajaran amalan d masa depan. Semoga saya dan para pembaca dapat bertindak bijaksana seperti dalam kisah ini. . . . .

  101. Desember 19, 2011 pada 6:00 am | #140

    ijin share ya om…

  102. arjuna
    Desember 19, 2011 pada 6:01 am | #141

    gemetar saya baca tulisan ini…

  103. agoes
    Desember 19, 2011 pada 6:02 am | #142

    wajib dicontoh oleh para Pejabat kita….

  104. Desember 19, 2011 pada 6:14 am | #143

    Merinding bacanya, seperti ketika membaca cerita-cerita heroik lainnya. Sangat menyentuh hati. Hormat saya kpd Brigadir Royadin juga Sri Sultan Hamengku Buwono IX

  105. dyan keturunan jogja
    Desember 19, 2011 pada 6:16 am | #144

    gilaaaa…..merinding gw baca ni carita kisah nyata….
    andai semua org bisa sprti pak Royadin sang polisi sejati dan semua pemimpin sprti sinuhun HB IX….pasti indonesia MAKMUR dan DAMAI…..
    yah klo sekarang cm bisa berandai2, dan cm bisa mengagumi tokoh dahulu…..

    Innalillahi wa innailaihi roji’un, semoga almarhum juga dapat tempat yg istimewa d’sisi 4jJI…

  106. Desember 19, 2011 pada 6:17 am | #145
  107. Tiptop
    Desember 19, 2011 pada 6:18 am | #146

    waduuhh….merinding saya bacanya…sudah sangat jarang polisi yg seperti itu…salut…

  108. dien
    Desember 19, 2011 pada 6:25 am | #147

    cerita yg inspiratif utk generasi sekarang

  109. Desember 19, 2011 pada 6:25 am | #148

    nyuwun ngapunten kulo share, mas…..

  110. ara
    Desember 19, 2011 pada 6:26 am | #149

    pelajaran yang amat berharga, dimana etika, harga diri, dan profesionalisme diuji…
    saluuuttt buat 2 tokoh ini..

  111. Desember 19, 2011 pada 6:30 am | #150

    kisah yg menarik
    semoga bisa contoh oleh polisi2 saat ini.

  112. Pulung_pekalongan
    Desember 19, 2011 pada 6:32 am | #151

    Subkhanalloh…semoga Alloh memberi tempat terindah diakherat sana sama alm. Bp. Royadin.. Dan
    Polisi2 sekarang bisa mensuritauladani beliau..aamiin.. Membacanya saja saya berkaca2. Apalagi membayangkan sosok Beliau.. Subkhanalloh..

  113. Prapty ajah
    Desember 19, 2011 pada 6:32 am | #152

    Terharu membca kisahnya..2 manusia yg berjiwa besar,,tdk congkak dg pangkat dan jbtan…Inilah namanya KSATRIA..

  114. ita
    Desember 19, 2011 pada 6:41 am | #153

    ada lagi jendral polisi yg juga membanggakan……pak Hoegeng alm

  115. red abuse
    Desember 19, 2011 pada 6:42 am | #154

    Sultan HB IX, itu baru namanya figur pimpinan, berani mengaku salah ketika melakukan kesalahan, dan sudah seharusnya polisi itu seperti pak royadin menindak tanpa pandang bulu,coba seluruh polisi seperti itu….

  116. Desember 19, 2011 pada 6:44 am | #155

    nyuwun ijin copas..

  117. Suryo
    Desember 19, 2011 pada 6:45 am | #156

    Subhanalloh….ijin share

  118. rian
    Desember 19, 2011 pada 6:45 am | #157

    sungguh manusia yang berjiwa besar dan tahu mana yang harus di lakukan dan yang tidak
    apakah masih banyak polisi di indonesia yang seperti ini ??

  119. Desember 19, 2011 pada 6:50 am | #158

    Semoga kasih dan sayang dari Tuhan Yang Maha Perkasa senantiasa tercurah kepada Bapak Royadin dan Sri Sultan HB IX. Pada era sekarang ini kita sudah jarang melihat polisi yang begitu jujur dan tegas dalam menjalankan amanah. Pak Royadin bukanlah seorang Jenderal namun apa yang beliau lakukan lebih besar daripada para petinggi polisi saat ini. Nama Pak Royadin akan harum bersama polisi lain yang juga besar namanya, Pak Hoegeng. Dari Sri Sultan HB IX kita belajar bahwa seorang pemimpin jika melakukan kesalahan sekecil apapun harus mengakuinya. Itulah sifat seorang ksatria.

  120. Desember 19, 2011 pada 6:51 am | #159

    Bapak ibu sekalian , surprise tulisan ini hadir setelah sekian bulan saya menulisnya, saya mendapatkan linknya melalui teman facebook. Cerita ini bagian dari catatan tepi yang saya terbitkan secara rutin di mils dan kompasiana , berupa pengalaman saya dan orang lain yang saya dapatkan dari sumbernya. Almarhum Pak Royadin adalah kakak ayah saya , beliau berpulang tahun lalu di rumah sederhananya di Proyonanggan di Batang,kota dekat pekalongan . Kisah ini selalu menghiasi hari saya kalau pulang ke kampung halaman orang tua. Meskipun tak persis detil demi detil percakapan yang diceritakan dari beliau tertulis didalam kisah ini , termasuk penggunaan bahasa jawa yang saya memang kurang menguasai untuk menuliskannya kembali serta tanggal dan tahun kejadian , namun beliau memang sangat memegang apa yang di omongkannya serta lurus dalam hidupnya , dan ini cerita masterpiece yang saya kenang selalu khususnya jika mengenang beliau .Terakhir bertemu beliau adalah ketika ia secara tiba tiba ke jakarta saat ayah saya tiada dan ia menyusul kemudian kembali kepada Allah SWT tanpa saya bisa menjenguknya. Semoga Allah menerima kanjeng sultan dan Pak Royadin di sisiNya.Amiin

    • Desember 19, 2011 pada 7:56 am | #160

      Aryadi Noersaid :
      Bapak ibu sekalian , surprise tulisan ini hadir setelah sekian bulan saya menulisnya, saya mendapatkan linknya melalui teman facebook. Cerita ini bagian dari catatan tepi yang saya terbitkan secara rutin di mils dan kompasiana , berupa pengalaman saya dan orang lain yang saya dapatkan dari sumbernya. Almarhum Pak Royadin adalah kakak ayah saya , beliau berpulang tahun lalu di rumah sederhananya di Proyonanggan di Batang,kota dekat pekalongan . Kisah ini selalu menghiasi hari saya kalau pulang ke kampung halaman orang tua. Meskipun tak persis detil demi detil percakapan yang diceritakan dari beliau tertulis didalam kisah ini , termasuk penggunaan bahasa jawa yang saya memang kurang menguasai untuk menuliskannya kembali serta tanggal dan tahun kejadian , namun beliau memang sangat memegang apa yang di omongkannya serta lurus dalam hidupnya , dan ini cerita masterpiece yang saya kenang selalu khususnya jika mengenang beliau .Terakhir bertemu beliau adalah ketika ia secara tiba tiba ke jakarta saat ayah saya tiada dan ia menyusul kemudian kembali kepada Allah SWT tanpa saya bisa menjenguknya. Semoga Allah menerima kanjeng sultan dan Pak Royadin di sisiNya.Amiin

      thanks atas penjelasannya :D
      ternyata percakapan di tulisan itu berasal dari interpretasi anda ya?

      • Desember 20, 2011 pada 3:25 am | #161

        Cerita ini diceritakan beliau almarhum pada kami bukan dalam bentuk rekaman, point percakapan saya dapatkan dengan ingatan urutan bagaimana beliau menuturkan dan tentu tidak sama persis tapi tidak mengurangi esensi atau melebihkannya. Saya hanya menceritakan sesuatu yang diceritakan pada saya dengan keterbatasan gaya menulis saya . Terima kasih ya mas.

      • Desember 20, 2011 pada 5:54 am | #162

        Saya tetep terharu, kami semua rindu pada polisi dan pejabat yang bisa dijadikan panutan. Salam rahayu

  121. Ibenz Ghazali
    Desember 19, 2011 pada 6:53 am | #163

    Very Touching….keindahan itu memang langka..

  122. Desember 19, 2011 pada 6:54 am | #164

    bener2 tegas dan rendah diri..
    salut ma polisi dan Sultan HB

  123. Edy BS
    Desember 19, 2011 pada 7:00 am | #165

    ada kejadian yang hampir mirip di Surabaya beberapa tahun yll, cuma beda di akhir cerita, sewaktu ada petugas Polantas dengan sigapnya mencegat mobil yg menerobos lampu merah di jalan protokol Surabaya, dan ternyata didalamnya adalah Bapak Gubernur yg karena sesuatu hal terpisah agak jauh dari kendaraan pengawal didepannya…..dan akhirnya sangsi pun diterima …

  124. Sueperhero
    Desember 19, 2011 pada 7:03 am | #166

    Subhanallah.. Itulah pemimpin yang AMANAH.. Jika negeri dipimpin dgn yang AHLI nya niscaya AMAN dan TENTRAMlah negeri itu tp jika sebaliknya maka KEHANCURAN lah yg didapat..
    Jaman dulu semua masih bersih, masuk pegawai gak pake SOGOK.. dulu aja aq mau daftar polisi sktr tahun 2004 uang masuk buat sogokkannya jak dipinta sekitar 25 juta.. gak tahu klo skg mau berapa uang..
    Gimana mau BERSIH negeri ini klo apa2 musti UANG mulu..
    Masihkah ada HARAPAN dinegeri ini…?????

  125. Priyo
    Desember 19, 2011 pada 7:05 am | #167

    subhanallah….mohon ijin share cerita ini….

  126. Desember 19, 2011 pada 7:06 am | #168

    Speechless ngebacanya…true legend!

  127. astri
    Desember 19, 2011 pada 7:13 am | #169

    berharap makin banyak Royadin-Royadin muda saat ini………

  128. Putri Ulandari
    Desember 19, 2011 pada 7:15 am | #170

    subbahanallah.. bener” Hero deh pak Royadin :)

  129. inggit
    Desember 19, 2011 pada 7:17 am | #171

    wahh ada kisah cerita yg saat ini jarang kita tamui,,,salut kepada beliau2 dalam kisah ini,,,

  130. Desember 19, 2011 pada 7:19 am | #172

    Cerita yg sangat menyentuh hat1 jarang ada dimasa sekarang…

  131. Desember 19, 2011 pada 7:21 am | #173

    bribis milih..

  132. Desember 19, 2011 pada 7:21 am | #174

    Andaikan sikap dan sifat seperti itu tetap dimiliki para Pejabat Negara ini, NKRI akan maju lebih deras dibanding seluruh Negara Tetangga di ASEAN, bukan hanya nomor 1 di SEA Games saja tetapi juga dibidang, Ekonomi, Industri, Keamanan dan Perdagangan

  133. Desember 19, 2011 pada 7:24 am | #175

    nais pos…dan ijin share

  134. Desember 19, 2011 pada 7:27 am | #176

    keren bgt

  135. Desember 19, 2011 pada 7:30 am | #177

    Sangad mengagumkan

  136. Desember 19, 2011 pada 7:31 am | #178

    ijijn kopas ,, inspiratif bnaget moga lebih bisa bermanaaf bagi lebih banyak orang lagi ,,,,

  137. Dara Jantan
    Desember 19, 2011 pada 7:36 am | #179

    Kalau pemimpin jaman sekarang nggak mungkin kena tilang ….. Kemana-mana pasti minta dikawal, ada foreider, pengiring dll ….. Jadi nggak mungkin salah jalan dan apalagi ditilang …

  138. Desember 19, 2011 pada 7:36 am | #180

    sungguh susah dicari yang polisi dan pimpinan seperti ini

  139. Desember 19, 2011 pada 7:40 am | #181

    semoga Gusti Allah mengampuni semua kesalahan dari Sinuwun HB IX dan Brigadir Royadin serta melapangkan tempat keduanya…… amiiiin………

  140. Desember 19, 2011 pada 7:41 am | #182

    jika ada 1000 orang polsi sperti itu di sebar di seluruh indonesia saat ini mungkin kejahatan kriminalitas dan korupsi bisa di perangi tapi kok rasanya kayaknya ngimpi kaleeee

  141. Zuki
    Desember 19, 2011 pada 7:41 am | #183

    Kagum dan bangga,….andai sekarang polisi seperti beliau…

  142. Desember 19, 2011 pada 7:46 am | #184

    Sayangnya cuma 1001 satu ada polisi kayak gini di negeri kita ini.., andai 50% aja (apalagi semuanya) para polisinya kayak pak brigadir Royadin ini wah alangkah amannya negeri kita ini….

  143. mira
    Desember 19, 2011 pada 7:46 am | #185

    salut..terharu aku membacanya..

  144. Desember 19, 2011 pada 7:47 am | #186

    Andaikan banyak orang di Indonesia yang bersikap seperti itu, alangkah indahnya negeri ini…..

  145. Desember 19, 2011 pada 7:48 am | #187

    Subhanallahh….. indah,.. Mutiara yang hilang

  146. Desember 19, 2011 pada 7:49 am | #188

    Ini bukan cerita,.. Ini sesuatu yang harus kita realisasikan kembali.

  147. ERNI NURHAYATI
    Desember 19, 2011 pada 7:51 am | #189

    Subhanallah… semoga masih tersisa orang2 yg berjiwa seperti beliau di jaman ini.

  148. jupfi
    Desember 19, 2011 pada 7:56 am | #190

    Gimana ya..ceritanya sebenarnya biasa aja.. tentang seorang warga biasa yang kebetulan berinteraksi dengan ‘penggede’, berakhir happy ending…
    tapi itu lah tanda2 buat orang yang berfikir… Maju trus bahhhhhh…

  149. Budi Panuntun
    Desember 19, 2011 pada 7:56 am | #191

    blm pernah menemukan Polisi seperti Bapak Royadin…..Saluuut!!!

  150. habibah
    Desember 19, 2011 pada 8:00 am | #193

    Kisah yang bagus, andaikata ada polisi seperti itu lagi di tanah air tercinta ini dan ada pemimpin seperti itu lagi…sungguh senangnya bangsa ini…

  151. Desember 19, 2011 pada 8:09 am | #194

    Subhanallah… Semoga Amal ibadah mereka berdua diterima ALLAH… Amin…

  152. Desember 19, 2011 pada 8:10 am | #195

    Haduhh…jadi ingat saat saya ditilang pak polisi hanya karena lampu motor saya dianggap kurang terang… (T_T)

  153. hana
    Desember 19, 2011 pada 8:10 am | #196

    sbgai orang jogja saya jadi semakin bangga pada p’mimpin saya,,

  154. ririn
    Desember 19, 2011 pada 8:14 am | #197

    bener^ nangis d buat ny bca cerita ini…
    gaa da yg kyk Bpak ni,,

  155. firman satriawan
    Desember 19, 2011 pada 8:18 am | #198

    Cerita yg sangat mengggugah semoga masih ada polisi seperti ini dan pemimpin bangsa sepertii ini, l

  156. cathee
    Desember 19, 2011 pada 8:21 am | #199

    Duhhh…..mpe merinding aq bacanya……

  157. nindyah
    Desember 19, 2011 pada 8:21 am | #200

    berat menahan air mata supaya tidak menitik… kalau saja semua orang Indonesia bisa mencontoh teladannya…

  158. marten
    Desember 19, 2011 pada 8:21 am | #201

    Masih ada kok … orang seperti alm.Royadin dan HB-IX tapi kalah dgn publikasi yg minor-minor dan info negatif yg melanda negeri ini….

  159. Desember 19, 2011 pada 8:26 am | #202

    Mohon Izin untuk Share di Kaskus.us

  160. adjie damaryanta
    Desember 19, 2011 pada 8:29 am | #203

    kejujuran dan berani mengakui kesalahan adalah contoh hidup yang nyata…..kapan ya ada orang seperti beliau berdua lagi ( sultan hb IX dan pak polisi itu )….????

  161. Rini
    Desember 19, 2011 pada 8:29 am | #204

    Cerita yg luar biasa,seandainya pemimpin bgs ini memiliki sikap spt pak Royadin &Sri Sultan HB IX…Mungkinkah?

  162. Desember 19, 2011 pada 8:34 am | #205

    Sulit ditemukan lagi saat ini pemimpin seperti sinuwun Sultan HB IX, yang rendah hati, taat aturan. Orang-orang yang seperti polisi Brigadir Royadin, jika ada maka akan disingkirkan.

  163. Desember 19, 2011 pada 8:36 am | #206

    cerita yang indah….keteguhan hati sang polisi jalan kan aturan diimbangi dengan kebesaran jiwa sang pemimpin…alangkah indahnya jika Indonesia masa kini mengikuti teladan di cerita ini…
    Nama Pak Royadin akan harum bersama polisi lain yang juga besar namanya, Pak Hoegeng. Dari Sri Sultan HB IX kita belajar bahwa seorang pemimpin jika melakukan kesalahan sekecil apapun harus mengakuinya. Itulah sifat seorang ksatria.

  164. Desember 19, 2011 pada 8:42 am | #207

    ditilang sih ndak masalah…proses selanjutnya yg masalah. Karena kadang surat2 kita ndak ketahuan rimbanya

  165. mery
    Desember 19, 2011 pada 8:45 am | #208

    cerita yang bagus pantas di tiru, tapi apa hari ini masih ada polisi yang disiplin kaya gitu?

  166. Desember 19, 2011 pada 8:48 am | #209

    Kalo ada anggota DPR, yg merasa perlu untuk menerobos jalur transJakarta, kemudian di Stop Petugas POLANTAS. Hal pertama yang di lakukan adalah memukul POLANTAS tsb.

    berbanding terbalik dengan kejadian beberapa bulan lalu. Seorang petugas Polantas dipukul anggota DPR.

  167. REsy
    Desember 19, 2011 pada 8:50 am | #210

    Mantappp…..
    saya berani mengklaimmm…di Indonesia saat ini tidak ada orang seperti brigadir Royadin dan sultan hmgkbuono xli tsbt…….

  168. Desember 19, 2011 pada 8:53 am | #212

    Kita melihat 3 (tiga) karakter dalam kisah nyata ini. Pak Royandi yang tegas melaksanakan tugasnya tanpa melihat dan memandangsiapa yang bersalah. Karakter yang sukar didapat. Sikap dan karakter Sri Sultan yang juga luar biasa, patuh dan tahu akan kesalahannya dan beliau tidak menggunakan atau ‘memanfaatkan’ statusnya sebagai Sultan/pejabat. Yang ketiga karakter para atasan Polisi yang rata2 dimiliki oleh pejabat/petugas dinegeri kita .. ‘disgusting’ munafik dan menjijikan…seakan kalau yang salah pejabat..diloloskan saja..ya itulah potret dan mentalitas para penguasa di negeri kita. Ingat dengan kasus ‘SUM Kuning? dan lusinan kasus yang dipeti eskan manakala pelakunya pejabat. Terimakasih kepada penulis yang subhanalllah pandai sekali menyusunnya..membuat kita ..seakan berada di negeri mimpi, masih ada sosok2 seperti pak Royandi yang jujur tegas dan tidak silau dengan jabatan dan status…semoga Allah melapangkannya di alam barzah sana, amoen ya Rabb. Salam

    • pemberantaskorupsi
      Desember 21, 2011 pada 2:29 am | #213

      analisis teteh sangatlah tepat!… berdasarkan kisah di atas, kita sudah bisa menilai bahwa pada saat itu memang jauh lebih banyak polisi yang rendah integritasnya, sebagaimana yang tergambar dalam beberapa kutipan berikut ini:

      “Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi pekalongan , nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.
      “Royadin , apa yang kamu lakukan ..sa’enake dewe ..ora mikir ..iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa , ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.
      “ Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia , ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya”

      “kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes”

      “satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan”

      dari gambaran tersebut, tampak jelas bahwa Royadin (bukan Royandi) pun hanya sendirian dan tidak ada dukungan dari rekan sesama polisi… bahkan polisi yang lain justru menertawakan dan mencibir Royandi…

      dengan demikian, bisa jadi keadaan saat ini masih sama sebagaimana keadaan pada pertengahan tahun 1960an (seperti cerita di atas). yaitu bahwa mungkin memang banyak polisi busuk dan brengsek… tetapi juga pasti tetap masih ada sedikit polisi yang berintegritas tinggi…

      karena itu, kita tidak boleh kehilangan harapan akan indonesia yang lebih baik… marilah kita mulai dari memperbaiki diri sendiri, misalnya: tidak bernegosiasi apabila kita ditilang polisi, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Sultan IX… sesungguhnya kisah di atas tidak hanya diperuntukkan bagi para polisi dan pemimpin/penguasa, tetapi juga merupakan tauladan bagi kita semua…

  169. Diana
    Desember 19, 2011 pada 8:59 am | #214

    benar-benar cerita yang mengharukan, dan membuat saya menitikan air mata…
    Wahai pemimpin, kami merindukan sosok seorang pemimpin seperti mereka yg terdapat dalam cerita ini.

  170. Rhanie
    Desember 19, 2011 pada 9:01 am | #215

    mantaaapppp… kisah yang patut untuk dijadikan tauladan bagi polisi semuanya.
    amin semoga Alm. Bp. Royadin mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah SWT.

  171. Desember 19, 2011 pada 9:05 am | #216

    sikap tegas & taat aturan Pak Royadin serta sikap legowo Sri Sultan Hamengku Bowono IX patut kita contoh

  172. lida
    Desember 19, 2011 pada 9:06 am | #217

    Andai semua Polisi seperti dia dan semua pejabat seperti Sultan

  173. robi ahmad
    Desember 19, 2011 pada 9:08 am | #218

    aku ikut bangga krn lahir di jogja yg punxa raja bijaksana

  174. samuel st padan
    Desember 19, 2011 pada 9:10 am | #219

    Kita salut dgn brigadir royadin. Sbenarnya Cerita sperti ini lumrah, seharusnya demikian tp kenyataannya tdk seperti yg seharusnya. Jadi “apa yg seharusnya” menjadi barang langka di negeri ini bahkan sampai kini…jadi sebenarnya yg luar biasa adalah penyimpangan yg terjadi di luar yg seharusnya terjadi tidk dpt diperbaiki. Yg “tdk seharusnya” menjadi “biasa”.. Ini penyakit kronis di negeri ini. Penyakit ini harus di disembuhkan. Satu2 nya cara adalah melalui operasi…siapa dokter bedah yg berkompeten. Who is the top leader..? Happiness is when what we think, what we say and what we do are in harmony.

  175. weedya
    Desember 19, 2011 pada 9:10 am | #220

    sangad bangga dengan KEDUANYA…….

  176. kartikaaie
    Desember 19, 2011 pada 9:12 am | #222

    Orang-orang yang berjiwa besar … berani mengakui kesalahan dan menegakkan kebenaran sesulit apapun. (SALUTE)

  177. agus sudiyatmo
    Desember 19, 2011 pada 9:12 am | #223

    Alm Bapak saya mantan brimob yang menolak dipindahkan ke satlantas, dengan pertimbangan kalau ada pelanggaran beliau tidak mau diajak damai nanti disangka sok kaya tetapi bila mau itu bertentangan dengan nurani. Apabila kami kena tilang beliau marah karena kami telah mencoreng citra keluarga polisi. Salut + hormat untuk Pakdhe anda alm.

    • Desember 19, 2011 pada 9:59 am | #224

      salut buat ayahanda Anda, semoga mendapat tempat terbaik di sisi-Nya

  178. irsal irawan
    Desember 19, 2011 pada 9:13 am | #225

    keren

  179. hesti
    Desember 19, 2011 pada 9:20 am | #226

    Terharu saya membacanya, sayapun menangis … Dan anak sayapun bertanya? ‘Kenapa mama menagis?’ Saya hanya bisa menjawab ‘Mama bangga jika kelak kamu menjadi polisi yang seperti Bpk royadin nak… Nanti mama ceritain…’ Anakku dgn polosnya berkata :… ‘Kakak ingin menjadi ibu polisi yg cantik’
    Jika benar ini kisah nyata… Maka sungguh luar biasa keteguhan hati Bpk Royadin. Sayapun bangga bisa membaca kisah hidupnya ini.

  180. Desember 19, 2011 pada 9:21 am | #227

    What a story!!! speechless..tiba2 merinding… that’s it!! :)

  181. Desember 19, 2011 pada 9:21 am | #228

    norman, jauh!!!

  182. weedya
    Desember 19, 2011 pada 9:24 am | #229

    salud dan sangad bangga dengan Keduanya,,,,,,

  183. Desember 19, 2011 pada 9:31 am | #230

    Kata Gus Dur polisi yang jujur cuma 3, ploisi tidur, patung polisi sama Hoegeng. Mungkin Pak Royadin ini bisa ditambahkan sebagai yang ke-4

  184. Tety
    Desember 19, 2011 pada 9:34 am | #231

    sejuta satu niih polisi kayak gini,atau mungkin dah enggak ada lagi yang kayak Beliau yaa

  185. Daffa
    Desember 19, 2011 pada 9:39 am | #232

    minta izin copas ya.. :)

  186. thywa
    Desember 19, 2011 pada 9:41 am | #233

    saluuuttttttt…sangat merindukan so2k pemimpin seperti itu,seandainya negara ini dipimpin oleh org2 yg memiliki karakter sept HB IX mgkn negeri ini akan damai dan semakin maju..ijin copas pak

  187. sham_ambrosius
    Desember 19, 2011 pada 9:44 am | #234

    saya bangga ada jiwa kepemimpinan seperti itu dari seorang pemimpin yang baik…… ketegasan dan kebijakan dalam menyikapi kesalahan yang telah dilakukan…
    saya juga bangga terhadap petugas yang tetap melakukan proses penilangan walau dengan situasi yang sudah menegangkan….. salut….

  188. Desember 19, 2011 pada 9:48 am | #235

    subhanallah, masih ada tidak ya orang setgas beliau.

  189. Desember 19, 2011 pada 9:51 am | #236

    perlu di film kan ini……………………semua anak cucu kita wajib tau sejarah ini…subhanalloh

  190. Desember 19, 2011 pada 9:53 am | #237

    Apakah msh ada Royadin yg lain ?….

  191. Desember 19, 2011 pada 9:56 am | #238

    wah .. sangat mengahrukan … ane habis ditilang polis … zzz

  192. Desember 19, 2011 pada 9:58 am | #239

    terharu saya membaca cerita penegak hukum dan penguasa… :)
    salut buat keduanya… semoga bisa menjadi contoh tuk semuanya…:)
    dan semoga keduanya diterima disisiNYA..

  193. Irwan drupadi
    Desember 19, 2011 pada 9:59 am | #240

    trenyuh…n bangga pada pak polisi itu…dan tentu saja panutan kawulo kanjeng sinuwun HB IX…..

  194. Tunggul
    Desember 19, 2011 pada 10:00 am | #241

    good story
    Tabik!

  195. rhia
    Desember 19, 2011 pada 10:02 am | #242

    Coba di jaman skrg masih ada orang brjiwa sprti itu , sejahtera bangsa ini

  196. Desember 19, 2011 pada 10:03 am | #243

    Mungkin tidak ada lagi kisah itu dewasa ini yang kecil mau mengingatkan yang besar dan yang besar mau mengakui kekeliruannya

  197. gilang
    Desember 19, 2011 pada 10:09 am | #244

    ijin share ya…

  198. mochamad syamsudin
    Desember 19, 2011 pada 10:13 am | #245

    Subhaanallaah…..

    Teladan yang patut di contoh.

  199. Desember 19, 2011 pada 10:13 am | #246

    Rohimahumulloohu wa Ghofarohumullooh…
    semoga Allooh merahmati beliau berdua (Pak Sri Sultan HB IX dan Pak Royadin) dan semoga Allooh mengampuni beliau berdua…amiin

  200. nata
    Desember 19, 2011 pada 10:16 am | #247

    polisi jaman dulu yang begitu luar biasa….
    polisi jaman sekarang….?????

  201. AJI MARWONTO AM
    Desember 19, 2011 pada 10:19 am | #248

    subhanalloh…sy kira..sy yg terlalu cengeng..trnyata banyk temen yg rasakan “luar biasanya cerita ini. Walau sederhana…namun maknanya sungguh dalam…RAJA Jogja dan petugas yg cukup membanggakan org PEKALONGAN…cerita ini bagai air jernih yg menyejukan hati..ditengah2 hiruk pikuk kebohongan publik yg terorganisir…berita yg seperti ini mestinya dipajang di MABES…

  202. Desember 19, 2011 pada 10:22 am | #249

    what the… ijin share lah ya…

  203. Ema Mucharromah
    Desember 19, 2011 pada 10:22 am | #250

    masih adakah Polisi yg seperti pak Rosyidin? benar-benar sosok yang mampu membawa makna dalam namanya. kisah seperti inilah yang perlu disebarluaskan kepada anak2 di seluruh SD/SMP/SMA dan PT di Indonesia

  204. Desember 19, 2011 pada 10:23 am | #251

    Wow, masih adakah sekarang yang seperti beliau?

  205. Desember 19, 2011 pada 10:26 am | #252

    Kalau kata Syahrini sih, “sesuatu”
    Good story :)

    All About Men’s
    http://allaboutmens.wordpress.com/

  206. NuTreSari
    Desember 19, 2011 pada 10:28 am | #253

    INDONESIA butuh lebih banyak jiwa seperti Alm. Brigadir Royadin
    Dan generasi INDONESIA muda perlu lebih banyak kisah teladan seperti ini :)

  207. juan mikael
    Desember 19, 2011 pada 10:30 am | #254

    amazing story.

  208. widia
    Desember 19, 2011 pada 10:32 am | #255

    jaman sekarang yang jadi pejabat bapaknya…..anaknya tingkahlakunya lebih berkuasa ketimbang jabatan bapaknya…..

  209. dimas
    Desember 19, 2011 pada 10:33 am | #256

    jd ikut bangga jg deh sbg org pekalongan… seeep daaaaaah

  210. kandangsapi
    Desember 19, 2011 pada 10:37 am | #257

    Ijin Re post cerita ini …

  211. ags
    Desember 19, 2011 pada 10:37 am | #258

    kereeennn… andaikan kepolisian dan para pemimpin bs seperti ini,,,,

  212. Desember 19, 2011 pada 10:41 am | #259

    semoga indonesia masih banyak mempunyai orang2 seperti ini

  213. Desember 19, 2011 pada 10:44 am | #260

    Kapan semua polisi kayak beliau…..:ngimpi….

  214. wening
    Desember 19, 2011 pada 10:45 am | #261

    Sampe nangis nih… orang2 keren seperti Beliau kapan ada lagi ya…?

  215. Desember 19, 2011 pada 10:53 am | #262

    Cerita yang sangat menyentuh dan inspiratif.. Sangat langka ditemukan saat ini.. Mudah2an bliau mendapat tempat yg nyaman disisiNya.. Aamiin..

  216. Desember 19, 2011 pada 10:54 am | #263

    Pekalongan-Jogja-Polisi.. 3 kata itu yang membuat saya bangga membaca tulisan ini!

  217. mirza
    Desember 19, 2011 pada 11:02 am | #264

    Subhanallah,masih adakah polisi yang seprti itu di dunia ini? Semoga arwahnya ditempatkan disisi Allah dengan sbaik2nya :D

  218. ina
    Desember 19, 2011 pada 11:04 am | #265

    Kagum sm pak royadin, mdh2an msh ada d kepolisian y mempunyai sikap spt beliau

  219. tohari
    Desember 19, 2011 pada 11:05 am | #266

    seharusnya kisah ini rutin di upload, sayang banget klo hanya sedikit orang yg tahu kisah teladan ini.

  220. Desember 19, 2011 pada 11:05 am | #267

    Cerita yg penuh inspiras. Semoga ada penerus

  221. Desember 19, 2011 pada 11:06 am | #268

    ceritanya sungguh menggetarkan… indonesia membutuhkan orang-orang besar seperti pak Royadin dan Sinuwun Sri Sultan HB IX… semoga kita belajar dari nilai-nilai yang mereka tanamkan…

  222. Desember 19, 2011 pada 11:08 am | #269

    tahun 1960 masa Sultan sudah berumur sekitar setengah abad….?

  223. Desember 19, 2011 pada 11:09 am | #271

    tulisan yang bagus mas :)

  224. Desember 19, 2011 pada 11:11 am | #272

    luarbiasa… tokoh2 yg sangat menginspirasi…

  225. Desember 19, 2011 pada 11:15 am | #273

    nampaknya sekarang cukup langka ya menemukan yang seperti ini

  226. Abu Umar
    Desember 19, 2011 pada 11:15 am | #274

    Sungguh menginspirasi, kepada teman2 yang tidak percaya dengan pejabat2 sekarang, kebetulan saya bekerja disalah satu instanti pemerintah, dan demi Allah saat inipun masih ada pejabat2 seperti beliau berdua, walaupun jumlahnya minoritas, tapi percayalah masih ada orang jujur dan berani mengisi jabatan2 dinegara ini

  227. Premashanti Diah Agung
    Desember 19, 2011 pada 11:16 am | #275

    2 orang yg sgt sy pantas hormati dan muliakan…suatu pelajaran yg sangat indah..^_^..

  228. Astrajingga
    Desember 19, 2011 pada 11:16 am | #276

    2 (dua) pribadi yang harus dicontoh

  229. solidwis
    Desember 19, 2011 pada 11:18 am | #277

    Menarik. Adakah cerita kelanjutan hidup dan karir Pak Royadhin di Kepolisian??

    Salam,
    Wid
    (www.solidwisesolution.com)

  230. ws
    Desember 19, 2011 pada 11:20 am | #278

    saya juga pernah baca kisah Sultan IX, pagi buta seorang ibu menyetop kendaraannya (sultan) untuk menumpang ke pasar…., sampai di basar ibu itu heran kok banyak orang ngelihatin ke arah mobil dan tak sedikit yg memberi hormat…, setelah turun ibu itu baru menyadari jika pemilik mobil itu adalah Sultan.., seketika ibu itu pingsan…

  231. Desember 19, 2011 pada 11:21 am | #279

    luar biasa.. Memang, sesuatu yg benar kadang tak dianggap benar!

  232. Desember 19, 2011 pada 11:25 am | #280

    wow…inspiratif banget,,,,,

  233. rizaldi
    Desember 19, 2011 pada 11:26 am | #281

    Luar biasa…subhanallah….kisah yang patut dicontoh polisi dan pejabat jaman sekarang…semoga ALLAH SWT memberikan tempat yang terbaik bagi sinuwun HB IX dan pak royadin..amin

  234. Desember 19, 2011 pada 11:27 am | #282

    saluut….great story

  235. Desember 19, 2011 pada 11:28 am | #283

    Terharu dan bangga………teladan yang baik. Selamat jalan Pak Royadin semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

  236. Desember 19, 2011 pada 11:29 am | #284

    Saya yakin masih banyak pemimpin dan pejabat dan aparat negeri ini yang mengikuti hati nurani bukan hawa nafsu

  237. budi
    Desember 19, 2011 pada 11:37 am | #285

    semoga polisi2 kita tertanam kejujuran dan ketegasan dalam menjalankan tugas ,,seperti pak de anda ,,amiiiinn….bukan yg hanya di jalan raya tetapi juga yg sebagi penyidik2 yg silau dengan uang dan jabatan,,,,,

  238. herman
    Desember 19, 2011 pada 11:39 am | #286

    jaman sekarang jarang sekali ada yg kayak gitu ya…(NgelosDhodhoTenan)

  239. Desember 19, 2011 pada 11:54 am | #287

    Andai semua Polisi dan Raja (Pejabat) seperti Brigadir Royadin dan Sultan HB IX, betapa rakyat akan malu jikalau tidak pula ikut santun dan sopan. (www.dmiprimagama.com ; http://dmiprimagamapusat.wordpress.com ; http://teguhsunaryo.wordpress.com ) tks

  240. Yunita Suryarini
    Desember 19, 2011 pada 12:01 pm | #288

    mengharukan sekali baca kisah ini…. :’)
    sayang aku tidak s4 tau scr lgs Sri Sultan HB IX memimpin Yogyakarta,, krn aku lahir sesudah beliau dipanggil Yang Maha Kuasa…

    d jaman sekarang yang kayak gini, masih ada ga y polisi yang kayak alm. pak Royadin??

  241. sutikno
    Desember 19, 2011 pada 12:06 pm | #289

    Nek siki wis langka wong koyo pa royadin sang brigadir. Pokoke sipppp, ceritane manteeepppppp

  242. Desember 19, 2011 pada 12:10 pm | #290

    Inilah manusia sejati… TAAT dan TABAH tidak kepada MAHLUK tapi kepada aturan…

  243. Desember 19, 2011 pada 12:11 pm | #291

    nice story :)
    brave cop mr. royandi,

  244. ikhwan rifa’i
    Desember 19, 2011 pada 12:13 pm | #292

    Semoga bisa menjadi teladan kepada semua anak bangsa….

  245. daeng juphe
    Desember 19, 2011 pada 12:13 pm | #293

    Sungguh bangsa dan negeri ini merindukan sosok aparat yg setegas pak Royadin dan pemimpin sebijak Sultan

  246. febby atmonegoro
    Desember 19, 2011 pada 12:16 pm | #294

    Semoga Menjadi Tauladan Bagi Anak Cucu Kita semua Tidak bagi sekarang yg sedang menjabat karena UANGlah yang mereka cari…

  247. Desember 19, 2011 pada 12:19 pm | #295

    Salut untuk Pak Polisi Royadin!! Polisi sekarang mana ada yang berani seperti itu, paling ketika menilang seseorang dengan pangkat diatasnya langsung mundur dengan hormat! Jaman sekarang sudah beda, semua demi uang, uang, dan uang. kebanyakan Polisi menilang tidak untuk menegakan aturan, tapi untuk uang saku!!!
    Semoga Indonesia kembali mempunyai pejabat dan aparat yang menjunjung tinggi nilai2 keadilan!!

  248. Desember 19, 2011 pada 12:20 pm | #296

    cerita yang terharukan .. disaat sulitnya kita mencari teladan yang baik pada masa ini ..
    semoga generasi muda kita selanjutnya akan menjadi seperti ini .. amin

  249. dede
    Desember 19, 2011 pada 12:21 pm | #297

    sangat menyentuh, berkaca kaca mata saya saat membacanya.

  250. Desember 19, 2011 pada 12:34 pm | #298

    terharu dan tidak bisa berkata-kata

  251. aris tundung himawan
    Desember 19, 2011 pada 12:35 pm | #299

    tiada hal lain bagi kita kecuali meneladani mereka…..
    ijin share lewat FB-ku Bro….

  252. Desember 19, 2011 pada 12:40 pm | #300

    merinding juga membaca cerita seheroik ini,…baik Sultan Maupun pak polisinya merupakan tindakan yang sangat perlu diteladani..dan perlu ditularkan kepada anak bangsa pada saat ini.

  253. Vicky T Perwira
    Desember 19, 2011 pada 12:44 pm | #301

    sudah jarang ini kondisi seperti ini… Salut.. semoga ada yang seperti ini di Indonesia

  254. Desember 19, 2011 pada 12:46 pm | #302

    Tulisan yang luar biasa!
    Ada pelajaran berharga yang bisa kita petik. Kesederhanaan dan ketegasan!
    Semoga amal ibadah Pak Polisi Royadin dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX mendapatkan balasan surganya Allah swt. amien.

    visit my blog: http://riyadisugeng.wordpress.com/

  255. Anik Isniwati
    Desember 19, 2011 pada 12:47 pm | #303

    Semoga masih banyak generasi Royadin2 jaman sekarang sehingga citra POLISI menjadi lebih baik

  256. johan p,
    Desember 19, 2011 pada 12:49 pm | #304

    nah ini baru nama nya POLISI sejati, lanka yg semacam ene neh

  257. Desember 19, 2011 pada 12:49 pm | #305

    Jarang sekali di zaman sekarang ini seorang aparat yg punya dedikasi tinggi yg bertugas tanpa pamrih berani menegakkan peraturan tanpa pandang bulu, Dan jarang sekali dizaman edan ini ada pemimpin yg berhati luas menerima apa adanya tanpa memandang status….mgkn klo para aparat dan pemimpin Negri ini seperti mereka mungkin akan makmur negri dan rakyat ini…..tapi kapan yah ada pemimpin seperti mereka?

  258. wong bantul
    Desember 19, 2011 pada 12:53 pm | #306

    terimakasih atas ceritanya,semoga para abdi negara (pns,polisi,tni,dan para pemimpin yang dipilih oleh rakyat) membaca ini…

  259. emanuel heru
    Desember 19, 2011 pada 12:53 pm | #307

    sang Polisi sejati dan sang Raja / Pemimpin sejati…

  260. Nevi Hartanto
    Desember 19, 2011 pada 12:59 pm | #308

    Cuma bisa bilang LUAR BIASA untuk mereka yg punya jiwa LUAR BIASA…..

  261. Dhedy Sukardi
    Desember 19, 2011 pada 1:00 pm | #309

    Itulah Contoh Suri tauladan seorang Tokoh besar.
    Seorang tokoh besar hendaknya jgn hanya bisa bicara saja namun harus bisa memberikan suri tauladan kpd rakyatnya. Saya sebagai rakyat merindukan sosok pemimpin seperti Sri Sultan Hamengkubuwono 9.

  262. Desember 19, 2011 pada 1:09 pm | #310

    andai saja semua polisi seperti bapak Brigadir Royadin….

  263. Desember 19, 2011 pada 1:11 pm | #311

    Seandainya peritiwa tsb terjadi di jaman sekarang ini….
    betapa akan damainya Indonesia ku…

  264. Desember 19, 2011 pada 1:12 pm | #312

    Subhanallahh…
    Amazing story…

    malihat diriku sendiri akupun malu… malu… sangat malu….

  265. Desember 19, 2011 pada 1:14 pm | #313

    fiksi.. ini pasti fiksi

    Saya tidak percaya ada pejabat lurus, apalagi polisi

    Kalo memang cerita ini benar, maaf saja, bagi saya perbuatan jujur yang diceritakan di atas adalah hal dasar yang seharusnya biasa saja dalam kehidupan bermasyarakat.

    Yang salah dihukum, yang berprestasi diberi imbalan, itu sudah sepantasnya. Kalo hal seperti itu dianggap luar biasa, maka memang sudah rusak tatanan kehidupan bermasyarakat kita dan tiada harapan untuk diperbaiki.

    • Eben
      Desember 20, 2011 pada 3:52 pm | #314

      Sak karepmu mas …

  266. Desember 19, 2011 pada 1:16 pm | #315

    Subhanallah, buah ketegasan dan kejujuran…….

  267. Desember 19, 2011 pada 1:16 pm | #316

    Seperti dongeng kebajikan, karena tak ada didunia sekarang. Rindu sosok Beliau-beliau ini. walau tak pernah merasakan nyamanya jiwa mereka

  268. prand
    Desember 19, 2011 pada 1:17 pm | #317

    Sungguh sebuah ktegasan sikap, memandang tiada siapa yang ditemui.
    Sangat bangga memiliki polisi sperti Bliau.
    Namun, sangat jauh berbeda dengan polisi saat ini.. Yang mementingkan uang dan jabatan.
    Jika polisi indonesia banyak sperti Bliau, dpastikan Indonesia aman dari jajahan kecurangan, dari jajahan kerakusan, semoga polisi Indonesia menemui kodrat mereka yang sebenarnya.

  269. Desember 19, 2011 pada 1:21 pm | #318

    Speechless … cerita langka ditengah langkanya sikap manusia seperti yang diceritakan di atas. Bravo kejujuran!

  270. Desember 19, 2011 pada 1:21 pm | #319

    itulah buah manis yang dipetik dari sebuah “KEJUJURAN” !

    ceritanya sangat menyentuh ;) ditengah2 jaman yang sedang krisis mental kejujuran terutama pada pihak2 yang diberi jabatan. :)

  271. Desember 19, 2011 pada 1:22 pm | #320

    emang keren orang yang sudah dari kecil dididik jadi pemimpin….beda ma pemimpin karbitan yang kadang cuma sekolah 5 tahun di bidang politik seperti anggota DPR kita. Sultan emang TOPP….sikapnya seperti pemimpin-pemimpin impian anak muda jamn sekarang.
    Pak Royadin juga….berani…ga rikuh. Hebaaaaat lah!

  272. Desember 19, 2011 pada 1:26 pm | #321

    minta izin saya share ya….

  273. Theo Nanta
    Desember 19, 2011 pada 1:27 pm | #322

    Sri Sultan kayaknya pantes jadi Presidennya, truspak Polisinya jadi pimpinan KPK :)

  274. Desember 19, 2011 pada 1:35 pm | #323

    Subhaaaaaaaanallaaah………….. Al Fathihah ma ash shalawat untuk pak Royadin, semoga arwahnya mendapatkan ketenangan di alam barzakh, menikmati tajasum a’malnya di dunia yang menebarkan cerita semasa beliau hidup. Semoga di Yaumul Aakhir nanti Rasulullah beserta 12 Imam Suci as dan bunda Rahmatan lil aalamiin bunda Zahra berkenan memberikan syafaat pada beliau dan pada keluarganya yang ditinggalkan. Bagi Sinuwun, juga doa agar diselamatkan dunia akhirat aamiin

  275. Rini Dradjad
    Desember 19, 2011 pada 1:36 pm | #324

    hanya ada satu kata untuk dua orang SEDERHANA yaitu HEBAT !!!!!! seandainya saja Indonesia sekarang dipenuhi orang HEBAT namun SEDERHANA seperti mereka……aku yakin Indonesia akan jadi negara HEBAT juga !!!

  276. wienanto_tejo
    Desember 19, 2011 pada 1:37 pm | #325

    Inilah salah satu contoh lakon kehidupan yg sngat perlu diteladani oleh siapa saja dalam konteks apa saja.

  277. Desember 19, 2011 pada 1:41 pm | #326

    Sangat inspiratif….Saya sangat menyukai kisahnya…Salam kenal :)

  278. Desember 19, 2011 pada 1:42 pm | #327

    kisah yg memberi inspirasi. saya berharap pemimpin negri ini yg sekarang dan yg akan datang memiliki sikap seperti brigadir royadin dan sri sultanHB IX

  279. wienanto_tejo
    Desember 19, 2011 pada 1:43 pm | #328

    Inilah salah satu contoh lakon kehidupan yg sangat perlu diteladani okeh siapapun dan dalam konteks apapun.

  280. ari marga
    Desember 19, 2011 pada 1:50 pm | #329

    gemetar setelah baca tulisan ini.. salut dah..

  281. candra hikmawan
    Desember 19, 2011 pada 1:51 pm | #330

    AWESOME…saya paling suka adegan waktu kepala polisi nya bilang “…ngawuur..jan ngawur tenan..”…benar-benar mencerminkan negara kita hari ini..wakakkkkkkkkkk
    Sekarang saya baru memahami kenapa keras kepalanya Mbah Maridjan hanya mau turun meninggalkan Gn. Merapi kalau yang memberi perintah hanya HB IX…walau secara jasad sudah tiada namun perintah dan panutan nya tetap hidup dalam hati dan kehidupan rakyatnya…..

  282. Hariono H
    Desember 19, 2011 pada 1:54 pm | #331

    Satu dari sekian banyak cerita tentang bagaimana Sri Sultan Hamengkubuwono IX yg tidak pernah menganggap lebih dibandingkan orang lain, kalau pingin tahu lebih banyak mengenai Sri Sultan Hamengkubuwono IX bacalah buku “TAHTA UNTUK RAKYAT”

  283. Desember 19, 2011 pada 1:54 pm | #332

    Subhanallooh, ini kisah yg sungguh mengharukan. Pribadi2 yg sungguh kita perlukan sebagai teladan penegakan hukum dan keluasan jiwa di negeri kita saat ini. Sy izin share link-nya, Mas. Matur nuwun.

  284. Ismu Legowo
    Desember 19, 2011 pada 1:55 pm | #333

    Masihkah..ada brigadir pol spt Pak Royadin… ?
    Yang ada..baru sering tampil di TV..malah mengundurkan diri…!!

  285. Wiras
    Desember 19, 2011 pada 1:56 pm | #334

    mantap ma menn….! i like it….!

  286. Desember 19, 2011 pada 2:01 pm | #335

    subhanallah.. sangat menyentuh..

  287. Desember 19, 2011 pada 2:02 pm | #336

    keren gan ceritanya aku juga mau ijin shared nih….

  288. ariefgenter
    Desember 19, 2011 pada 2:08 pm | #337

    saya suka tulisannya, saya seperti bisa membayangkan kondisi saat Pak Royadin dan Sinuwun berkomunikasi saat itu.

  289. Desember 19, 2011 pada 2:12 pm | #338

    Alangkan indahnya negri ini jika pemimpin seperti kanjeng sultan dan alangkan tertib nya negri ini dg polisi spt polisi Royadin

  290. Menik
    Desember 19, 2011 pada 2:13 pm | #339

    Ijin share yah…
    Sejarah yang hebat, dengan 2 pelaku yang hebat

  291. Desember 19, 2011 pada 2:16 pm | #340

    Benar2 dua karakter yang teguh terhadap prinsip

  292. sunarno
    Desember 19, 2011 pada 2:18 pm | #341

    Ibarat segelas air ditemukan dipadang pasir, kita berharap masih bisa menemukan banyak lagi gelas2 berisi air penghapus dahaga di padang pasir yg gersang

  293. Budi Susanto
    Desember 19, 2011 pada 2:24 pm | #342

    Masih adakah jiwa-jiwa Royadin di depan Pos Polisi atau di Kantor-kantor Polisi?
    Masih adakah jiwa-jiwa seperti Sinuwun Hamengkubuwono IX dinegeri ini?

  294. Desember 19, 2011 pada 2:26 pm | #343

    Kisah Brigadir Royadin melakukan tugas dengan benar, di satu pihak Sri Sultan Hamengku Bowono IX emang Raja yang benar bukan hanya kerena Beliau Sinuwun tapi Raja memang harus yang Pertama menghormati serta menjunjung aturan sebab aturan yang benar itu adalah Raja yang sebenarnya,apalagi beliau melewati pendidikan Belanda yang sangat disiplin,serta beliau memiliki hati yang luas mnghargai aturan yang benar,sebab didalam aturan benar letaknya jiwa Raja yang benar.

  295. Desember 19, 2011 pada 2:28 pm | #344

    polisi yg patut ditiru keteguhan hati dan jiwanya…….dan begitu bijaksananya pemimpin… untuk keteladanan kita semua

  296. joko
    Desember 19, 2011 pada 2:40 pm | #345

    sungguh sangat luar biasa,saat ini menjadi langka dan bahkan tidak ada seperti keduanya

  297. kristyo adhi
    Desember 19, 2011 pada 2:49 pm | #346

    luar biasa pak Royadin.. salut

  298. Erstiadi Nugroho
    Desember 19, 2011 pada 2:58 pm | #347

    Indonesia saat ini membutuhkan sosok keteladanan seperti beliau berdua……. kapan ya bisa jadi kenyataan. Setidaknya untuk masa anak-anak saya nanti…….

  299. Yudha Bagus
    Desember 19, 2011 pada 2:59 pm | #348

    Ga bisa bilang apa apa lagi, itu sangat menginspirasi. Luar biasa. Ijin share, mas.

  300. tyas ngambar
    Desember 19, 2011 pada 3:07 pm | #349

    hal yang patut ditiru

  301. aries suryana
    Desember 19, 2011 pada 3:08 pm | #350

    saya nangis bener baca cerita ini…
    Menangisi perilaku pejabat dan polisi kita jaman skg..

  302. Desember 19, 2011 pada 3:11 pm | #351

    Untuk menjadi pemimpin rakyat, haruslah rakyat sendiri. Bukan pemerintah.

  303. Trahman
    Desember 19, 2011 pada 3:19 pm | #352

    ini ada juga cerita yang lebih heroik dari Sinuhun Kangjeng Sultan, http://newyorkyakarta.net/tahta-untuk-rakyat-manunggaling-kawula-gusti

  304. Desember 19, 2011 pada 3:23 pm | #353

    adakah kiranya cerita seperti itu ada di zaman sekarang ini

  305. esti
    Desember 19, 2011 pada 3:26 pm | #354

    seharusnya memang seperti itulah kita, tanpa memandang jabatan, pangkat, dan embel-embel yang entah apa lagi. ketegasan dalam bersikap, idealisme sebuah pekerjaan, yang sangat sulit untuk diterapkan. semoga kisah ini bisa menginspirasi setiap orang.

  306. endra x
    Desember 19, 2011 pada 3:35 pm | #355

    kereennnnnn :-D

  307. arif rahman hakim
    Desember 19, 2011 pada 3:40 pm | #356

    izin share pak….cerita keteladanan seperti ini sangat layak disampaikan pada banyak orang

  308. Izum Aja
    Desember 19, 2011 pada 3:41 pm | #357

    ahhh….Sultan X beberap bulan yang lalu juga mengalami hal serupa. beliau dengan sopirnya akan keluar dari parkir. karena sang sopir merasa membawa sultan langsung saja tancap gas nggak mau antri dan main nyelonong aja. petugas parkir yang tahu ada mobil nyelonong masuk langsup memberi tanda untuk inkut ngantri itu mobil. petugas parkir nggak tahu kalo yang ada di dalam mobil itu adalah sri sultan HB X.waktu sopirnya mau mendebat tukang parkir , tiba2 sultan HB X bilang begini : “wis wis wis…ra sah ngeyel…ayo melu antri wae….” . liat….. masih ada kok pemimpin yang nggak mentang2 dengan kekuasaan yang dia punya. hidup jogja…semoga tetap aman dan berhati nyaman :)

  309. rena
    Desember 19, 2011 pada 3:42 pm | #358

    Cerita yang sungguh mengharukan dan menggugah jiwa, semoga masih ada Royadin yang lain …..

  310. Desember 19, 2011 pada 3:46 pm | #359

    Polisi sederhana vs penguasa, contoh yang sangat menyentuh. Bandingkan dengan kejadian tabrakan di Toll, akibat Mobil Ke presidenan mau lewat, jauhhh ..

  311. usman Sumantri
    Desember 19, 2011 pada 3:47 pm | #360

    Andaikan banyak org seperti sejahteralah bangsa ini. Contoh seperti harus banyak dibuat dan dikisahkan utk dapat dihayati oleh anak cucu kelak. Cara semua ortu dalam mengajar kesederhanaan kepada seluruh anak bangsa. Semoga beliau mendapatkan tempat yg mulia disisiNya, Aamiin

  312. tantowi
    Desember 19, 2011 pada 3:54 pm | #361

    Great!!

  313. dan ardana
    Desember 19, 2011 pada 3:58 pm | #362

    Sangat mengesankan sikap seorang bawahan yang berani dan tegas tanpa memandang bulu, hal ini yang jarang dilakukan oleh petugas saat ini mampu dan beranikah bertindak tegas adil dan tanpa pandang bulu?

  314. Desember 19, 2011 pada 4:04 pm | #363

    jogja memang istimewa……………

  315. Desember 19, 2011 pada 4:07 pm | #364

    Saya bergetar membacanya.

  316. Tugiyono Sarjono
    Desember 19, 2011 pada 4:09 pm | #365

    Sungguh kisah Ɣªήğ patut dijadikan contoh polisi jaman sekaran. Bukan bermaksud meremehkan Polisi masa sekaranga, setidaknya ketegasan dari Pak Royadin bisa dijadikan contoh tiada kata pilih-pilih untuk menegakkan peraturan.

  317. Desember 19, 2011 pada 4:15 pm | #366

    Cerita yg sgt indah,ketegasan seorg anggota polisi&kebesaran ht seorg Sri Sultan HB IX sbg seorg Raja,ya Allah smpe terharu membcnya,bskah aq menjd abdi masyarakat sprti Brigadir Royadin…keteladan yg patut utk dicontoh….

  318. Desember 19, 2011 pada 4:24 pm | #367

    Subhanallah… sebuah kisah yang mengharukan dan membanggakan serta patut dijadikan suri tauladan buat kita yang membacanya, kerana mengandung hikmah yang luar biasa manfaatnya buat kita generasi muda… semoga kedua tokoh dalam kisah nyata ini dapat diterima segala amal kebaikannya dan diterima disisi-Nya… Amien yaa Rabb…

  319. anisa cahyoko
    Desember 19, 2011 pada 4:28 pm | #368

    amat langka polisi yg berjiwa spt beliau dan langka pula pejabat negeri ini yg seperti si Sinuhun

  320. arthin
    Desember 19, 2011 pada 4:30 pm | #369

    kisah yg menyentuh hati… ijin re-post ndan..

  321. h. t. noor
    Desember 19, 2011 pada 4:50 pm | #370

    Ya Tuhan… Terimalah kedua tokoh yang sangat pantas menjadi panutan tersebut disisi-Mu dan ampunilah dosa-dosanya, Amien YRA.

  322. ika nursanti
    Desember 19, 2011 pada 4:54 pm | #371

    subhanallah ya, cerita ini cukup menyentuh. polisi adalah salah satu penegak hukum di negara kita, semoga kelak akan tumbuh 1000 polisi seperti almh pak royadin ya allah swt

  323. Desember 19, 2011 pada 5:11 pm | #372

    baik untuk panutan

  324. Pulung_pekalongan
    Desember 19, 2011 pada 5:18 pm | #373

    Sangat inspiratif! Subkhanalloh..

  325. yan
    Desember 19, 2011 pada 5:43 pm | #374

    kita butuh 2 sosok spt ini…msh adakah ?

  326. 3lelaki | Roadless traveler
    Desember 19, 2011 pada 5:45 pm | #375

    begitu membaca di tengah2 cerita tercekat kerongkongan ini, sungguh langka pemimpin dan petugas seperti beliau. semoga masih ada pemimpin dan petugas yang mengikuti jejak beliau berdua untuk Indonesia yang lebih baik.

  327. Desember 19, 2011 pada 6:47 pm | #376

    Kerreeeennnn..!!! Hormat buat alm Pak Royadin, semoga amal ibadahmu diterima disisinya dan diampuni dosa-dosanya. Semoga lebih banyak lagi polisi-polisi di Indonesia yang seperti bapak.. Trimakasih atas pengabdianmu.

    mampir mapir ke blogku ya gan.. myblog

  328. Yuli
    Desember 19, 2011 pada 6:48 pm | #377

    Negeri ini merindukan seorang pemimpin dan polisi seperti mereka.semoga…Tuhan memberikan tempat special di sisi Nya amien…

  329. Desember 19, 2011 pada 7:06 pm | #378

    hebat

  330. Desember 19, 2011 pada 7:21 pm | #379

    terima kash. semoga menginspirasi hidup kita

  331. Desember 19, 2011 pada 8:01 pm | #380

    kisah yang menyentuh.

  332. iyan
    Desember 19, 2011 pada 8:12 pm | #381

    Cerita yang indah. .
    Harusnya bnyak polisi yg baca cerita ini,biar mengerti akan kejujuran. .

  333. suprihana cakrawiharja
    Desember 19, 2011 pada 8:15 pm | #382

    subhanalloh aku rindu petugas dan pemimpin yang demikian

  334. Desember 19, 2011 pada 8:37 pm | #383

    Ya Allah,aku merindukan pemimpin sekaliber Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono IX,dan Brigadir Royadin. Negeriku hancur,setelah kalian tiada. Semoga Allah SWT,masih menolong negeri ini dari kehancurkan.

  335. Desember 19, 2011 pada 10:08 pm | #384

    seorang pemimpin yang berjiwa besar dan polisi yang tegas,, semoga kepemimpinan di indonesia semakin baik.

  336. Putu Sri Rachmaningsih
    Desember 19, 2011 pada 10:39 pm | #385

    Gajah mati meninggalkan belang…Manusia mati meninggalkan NAMA….Semoga masih ada Pemimpin bangsa spt HAMENGKU BUWONO IX dan abdi negara teladan spt Pak ROYADIN di negaraku…walaupun ibarat spt mencari jarum ditumpukan jerami…semoga masih ada…

  337. Desember 19, 2011 pada 10:47 pm | #386

    Sosok pemimpin dan petugas kepolisian seperti inilah yang dibutuhkan negri ini saat ini.. subhanallah.. ijin share mas..

  338. Desember 19, 2011 pada 10:59 pm | #387

    Tak cukup rasanya kita hanya cercengang
    Tak cukup rasanya kita hanya menangis
    Kapan kita bisa seperti mereka
    Berbuat …………
    Bekerja ………….
    Untuk kejayaan bangsa
    Indonesia tercinta
    Sejahtera untuk semua
    Semoga

  339. Desember 19, 2011 pada 11:03 pm | #388

    Dadi Polisi Iku kudune Ngunu…Ha nek seng ngelanggar Marinir,,kebanyakan polisi kuwi ora wani e…hehehehehe….Patut di contoh Poilisi kyok ngene iki….

    salam kenal semuanya….

  340. muchtar HP
    Desember 19, 2011 pada 11:11 pm | #389

    Gileee ni tulisan dan kisah bisa buat inspirasi buat sinetron atau film lepas, why not… Ajaran dan pendidikan nuansanya begitu kental dari kisah ini begitu sesuai dengan phenomena sekarang. Siapa yabg akan memulainya para sineas?????

  341. Desember 19, 2011 pada 11:17 pm | #390

    Dua tokoh yang luar biasa karena kesederhanaannya, saya bangga dengan beliau,
    aku bangga dadi wong jowo….

  342. Pei
    Desember 19, 2011 pada 11:29 pm | #391

    Subkhanallah………..seandainya pemimpin2 kita dan penegak2 hukum kita seperti ini, pasti damailah indonesia……..

  343. Desember 19, 2011 pada 11:30 pm | #392

    Inspiring….. Andai saja sikap seperti ini masih bisa kita jumpai di negeri ini, alangkah jayanya, tapi sayang sikap seperti itu di jaman ini seakan punah. Smoga suatu saat ini lahir pemimpin dan penegak hukum seperti ini.

  344. Desember 19, 2011 pada 11:46 pm | #393

    Terima kasih atas tulisannya, saya kebetulan seorang polisi dan sungguh saya merasa bangga mempunyai kolega sesema polisi seperti Pak Royadin. Selama ini sulit mencari polisi yang dapat menjadi contoh kesederhanaan, kejujuran, kesetiaan dan keberanian dalam menjalankan amanah mereka sebagai polisi. Selama ini polisi baik yang dikenal masyarakat baru Pak Hugeng…, saya salah satu berharap akan banyak lagi polisi-polisi seperti Bapak Royadin dan Bapak Hoegeng….

  345. wongyoja
    Desember 19, 2011 pada 11:47 pm | #394

    kalo skrg, kekuasaan dan kewenangan digunakan utk mendatangkan fulus. termasuk voorijder yg banyak dipakai buat kepentingan pribadi, spt pernah dituturkan seorang penyanyi “sesuatu banget” yg menggunakan “jasa” voorijder utk membuka jalan krn mengejar show di tempat lain. semoga keduanya mendpt tempat yg terbaik di sisi Allah dan ampunilah dosa keduanya, aamiin..

  346. Dellie
    Desember 19, 2011 pada 11:49 pm | #395

    Kisah yag luar biasa. Sikap yag tegas dan kebesaran hati seorang pemimpin. Patut di jadikan teladan bagi kita semua.

  347. Dellie
    Desember 20, 2011 pada 12:11 am | #396

    kisah yang luar biasa… sikap yang tegas dan kebesaran hati dr seoarng pemimpin. patut di jadikan panutan bagi kita semua.

  348. Desember 20, 2011 pada 12:17 am | #397

    para pendahulu bangsa, para idealis.

  349. Desember 20, 2011 pada 12:29 am | #398

    ijin copas dan repost di website saya.

  350. lucius
    Desember 20, 2011 pada 12:30 am | #399

    sentimentil …! apa jaman skrg masih ada tokoh seperti polisi seperti royadin dan kanjeng sultan IX? terberkatilah turunannya…

  351. dewi
    Desember 20, 2011 pada 12:41 am | #400

    Cerita yang bagus…

  352. Iya Candria
    Desember 20, 2011 pada 12:44 am | #401

    suatu bukti bahwa Indonesia memiliki orang-orang yang berjiwa besar….

  353. mieke1506
    Desember 20, 2011 pada 12:46 am | #402

    Selamat pagi Pak Mayjen Nanan (wakapolri saat ini). Saya hanya mau melaporkan tindakan terpuji seorang anggota Polri – yang sekarang sudah tidak lagi bersama kita (mengikuti kata bapak “Kalau ada Polisi yang baik, laporkan jugam ya”). Nanti kalau ada yang tidak beres, Insya Allah akan saya laporkan juga

  354. Desember 20, 2011 pada 12:47 am | #403

    sungguh indah perilakunya,,,tak tertuliskan dengan kata2..izin share

  355. Desember 20, 2011 pada 12:47 am | #404

    Semoga beliau dimasukkan golongan Aulia..aamiin

  356. andrika
    Desember 20, 2011 pada 12:48 am | #405

    subhanalloh merinding membacanya, pribadi2 yg luar biasa,smga amal ibdahnya dtrma di sisi Alloh swt aamiin.

  357. Sri Miasih
    Desember 20, 2011 pada 12:49 am | #406

    Seandainya banyak Pak Royidin2 dan Hamengkubuwono. IX jaman sekarang ini…..alangkah damainya Indonesiaku

    • herman
      Desember 20, 2011 pada 7:17 am | #407

      pakleku juga royidin..heehee :D

  358. Heru Waspada
    Desember 20, 2011 pada 12:53 am | #408

    the Police, to serve and protect. Cerita jaman syurga didunia…

  359. Desember 20, 2011 pada 12:59 am | #409

    Subhanallah… dua insan yang menjunjung tinggi integritas dan idealisme… ayo pak Pol dan pak Pejabat… tunaikan amanah demi kebaikan dunia wal akhirat…

  360. totothejak
    Desember 20, 2011 pada 1:02 am | #410

    terkesima q

  361. Aris Batang
    Desember 20, 2011 pada 1:03 am | #411

    Saya terharu dan menitikkan air mata sebelum selesai membaca kisah ini. Sungguh priyantun yang mengedepankan tugas dan tanggungjawabnya. Salut untuk polisi Brigadir Royadin dan Sinuwun Sri Sultan IX.

    Andaikan di jaman ini semua pejabat berlaku seperti Sultan HB IX, tentu negara ini akan menjadi sejahtera, insya alloh…

  362. Desember 20, 2011 pada 1:04 am | #412

    Subhanallah,, Cerita ini Sungguh Inspiratif sekali,, bangsa ini merlukan sekali sosok pemimpin seperti HB IX.. dan bangsa ini juga haus akan aparat pemerintahan seperti bpk Royadin… yang tak pandang bulu dalam mengemban amanat RAKYAT….

  363. Rizki Fauzi
    Desember 20, 2011 pada 1:11 am | #413

    orang2 besar tidak pernah mengutamakan amarah.. :) cerita bagus.. semoga di indonesia ini cepat lahir pemimpin seperti bapak2 dalam cerita..

  364. Mahyas
    Desember 20, 2011 pada 1:13 am | #414

    tertawa, merinding, dan meneteskan air mata mjd efek ketika membaca cerita ini..
    smoga bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.. :)

  365. yanto
    Desember 20, 2011 pada 1:14 am | #415

    sungguh pelajaran yang berharga

  366. riska tyas
    Desember 20, 2011 pada 1:27 am | #416

    luar biasa!

  367. Desember 20, 2011 pada 1:30 am | #417

    Sebagai bahan renungan…..

  368. Desember 20, 2011 pada 1:34 am | #418

    Hidup polisi sejati

  369. dewi saraswati
    Desember 20, 2011 pada 1:36 am | #419

    semoga banyak polisi indonesia yang membaca ini………

  370. Desember 20, 2011 pada 1:37 am | #420

    hanya kebesaran jiwa beliau2 inilah…teladan yang tak ternilai..

  371. Hartono
    Desember 20, 2011 pada 1:40 am | #421

    semoga negeri ini masih menyisakan orang2 seperti beliau… ijin share…

  372. marco aji
    Desember 20, 2011 pada 1:53 am | #422

    saya sampai berlinang air mata membacanya…andai saja POLISI yg kita cintai sekarang semuanya spt beliau!

  373. to2kha
    Desember 20, 2011 pada 1:54 am | #423

    siip….mhn ijin share….

  374. Nawawi Rambe
    Desember 20, 2011 pada 1:54 am | #424

    Artikel bagus, sosok Polisi tegas, dan sosok pemimpin yg baik.

  375. galih novianto
    Desember 20, 2011 pada 1:56 am | #425

    Bravo sangat membanggakan disaat indonesia skrng lg sekarat ada tauladan dr sang penegak hukum dan seorang pejabat negara…..yg sepertinya tdk akan bs terjadi saat ini…mknya NKRI semakin terpuruk…

  376. kentho
    Desember 20, 2011 pada 2:00 am | #426

    hebattttttttttttt

  377. cah batang-pekalongan
    Desember 20, 2011 pada 2:03 am | #427

    semoga masih ada orang-orang berjiwa besar seperti mereka di negri ini…

  378. atikah amaliyah
    Desember 20, 2011 pada 2:03 am | #428

    salutttt…. Bangga pada sosok polisi yang disiplin terhadap peraturan… Dan bangga mempunyai seorang pejabat tinggi yang mengakui kesalahannya. Anda saja pejabat sekarang seperti beliau.. Semoga amal ibadahnya diterima allah swt. Amien….

  379. cah batang-pekalongan
    Desember 20, 2011 pada 2:03 am | #429

    ijin share…

  380. vivian
    Desember 20, 2011 pada 2:04 am | #430

    jaman sekarang mana ada pejabat negara dan kepolisian bisa mencontoh sikap yang sangat bijak dari beliau2 ini..yang ada dipikiran pejabat sekarang gimana dapat uang banyak untuk kepentingannya sendiri…benar2 pemimpin dan abdi negara yang punya jiwa besar..salut…

  381. ari
    Desember 20, 2011 pada 2:04 am | #431

    posting ke web instansi pemerintah dongg…

  382. ikhsanudin
    Desember 20, 2011 pada 2:05 am | #432

    tak terasa meneteskan air mata ketika membacanya………selamat jalan pak royadin…….semoga semua amal kebaikan dan ketegasannya menegakkan hukum diterima di sisNya…..amin2x yra

  383. Desember 20, 2011 pada 2:09 am | #433

    sangat menyentuh…

  384. rina
    Desember 20, 2011 pada 2:11 am | #434

    cobalah semua polisi seperti ini,,,pasti negara ini akan aman…

  385. Desember 20, 2011 pada 2:15 am | #435

    Ijin share…..

  386. Mierna Lukman
    Desember 20, 2011 pada 2:16 am | #436

    itulah karakter bangsa kita yg sesungguhnya……………..jujur, sederhana dan patrotism……meski skrg ini sdh banyak petinggi maupun petugas/aparat yg terkontaminasi dgn dunia semu, tapi saya yakin masih banyak yg berjiwa nasional dan penuh dedikasi…..Amin

  387. agusm
    Desember 20, 2011 pada 2:19 am | #437

    tak terasa keluar air mataqu ini ketika membaca artikel ini…sungguh bijaksana dan terhormat orang2x seperti ini….MERDEKA…..!!!!!

  388. nugie
    Desember 20, 2011 pada 2:19 am | #438

    smoga langkah brigadir royadin bs dijadikan contoh polisi-pilisi di indonesia, , , .

  389. trully
    Desember 20, 2011 pada 2:19 am | #439

    dijaman skrg ini msh ada segelintir org seperti beliau…namun….lagi2 kekuasaan & uang sll menindas org2 sprti mereka….BRAVO utk tmn2 pejuang yg JUJUR & memihak kpda yg benar!

  390. Nyoman
    Desember 20, 2011 pada 2:20 am | #440

    Bagus sekali, sedih dan bergetar membacanya bagussssss dan hebaatttt

  391. Desember 20, 2011 pada 2:20 am | #441

    Inspiratif,.. sungguh teladan yang patut di contoh,..

    Ijin Re-post gan,..

  392. Desember 20, 2011 pada 2:20 am | #442

    mantabs emang kok…..

  393. ajiaji
    Desember 20, 2011 pada 2:21 am | #443

    dewanta991975 :
    I’m very surprised & proud with Alm.Royadin.You are a real policeman in my hearth & other peoples.For Sri Sultan Hamengku Buwono IX is brave man & heros of this country.The sweety story for this moment.Best regard.Dewanta Aries Sandy

    iya tuh,, udah sok pake bahasa Inggris, salah lagi tata bahasanya… hehehee…

  394. dwie endah herdiman
    Desember 20, 2011 pada 2:22 am | #444

    ijin share yaa…

  395. Desember 20, 2011 pada 2:25 am | #445

    KETELADANAN YANG HEBAT …….

  396. Desember 20, 2011 pada 2:25 am | #446

    kalau saja aparat & pemimpin di negeri ini seperti mereka (Sri Sultan & Pak Royadin ya, bukan komandannya, hehe), pasti negeri ini akan menjadi pemimpin dunia… :)

  397. ipank
    Desember 20, 2011 pada 2:26 am | #447

    luar biasa

  398. tedy
    Desember 20, 2011 pada 2:28 am | #448

    Sulit dijaman sekarang menemukan sosok polisi maupun sosok pejabat seperti itu,kadang tuntutan tugas yang tegas akan menjadi bumerang kepada si petugas tersebut.salut,palut.

  399. andrias nur
    Desember 20, 2011 pada 2:29 am | #449

    Semoga ketegasannya menjadi contoh semua polisi indonesia.

  400. agus
    Desember 20, 2011 pada 2:30 am | #450

    Subhanalloh… dua orang yang sangat pantas untuk dicontoh dikehidupan saat ini yang sudah sangat bobrok.

    terimakasih artikelnya.
    salam,

  401. Desember 20, 2011 pada 2:36 am | #451

    Selaku penulis riwayat sederhana ini , saya ucapkan banyak terima kasih kepada semua komentator terutama kepada admin web ini. Alhamdulillah teladan pak Royadin dan pak Sultan juga bisa menjadi teladan bagi institusi kepolisian dan pemimpin bangsa lainnya , situs humas mabes Polri kemarin juga telah memasukkan cerita ini pada situs mereka yang semoga dibaca oleh segenap anggota polri yang sekarang banyak dikeluhkan masyarakat. Pak Royadin memang selalu memegang kalimatnya. Ketika saya menikah dulu , ayah melarang saya untuk mengundangnya karena kondisi beliau sudah tua untuk perjalanan jauh ke Jakarta. Namun sehari selepas pesta pernikahan , tiba-tiba kami dikejutkan oleh kedatangannya yang diantar oleh seseorang dari terminal bus, ia tahu tak diundang karena dianggap kondisi tubuhnya yang tua namun itu dibantahnya dengan hadir ke jakarta , sendiri, meski istri melarangnya. Sampai akhir hayatnya, tak ada niatnya mengagungkan diri dengan jiwa lurus bhayangkaranya sehingga tak ada perhatian khusus kepadanya. Dengan hidupnya yang apa adanya , saya selalu mendapatkan pelajaran dari sikap dan cerita yang ia tuturkan bukan untuk menyombongkan diri , tapi untuk membekali kami menjalani hidup ini. semoga Doa dari semua yang membaca , dapat mengalirkan pahala kebaikan bagi dirinya di alam barzah , karena hal itu jauh melebihi dari bintang jasa yang disematkan oleh orang tertinggi di negeri ini sekalipun kepadanya.
    Salam , Aryadi Noersaid
    Seseorang yang bercita cita menginspirasi dunia lewat tulisan sederhana

    original posting @:

    http://sejarah.kompasiana.com/2011/06/25/sultan-hb-ix-polisi-pekalongan-the-untold-story/

    • Desember 20, 2011 pada 4:36 am | #452

      Pak… sungguh tulisan bapak sangat menginspirasi … cerita tentang keteguhan hati, cerita yang langka di negeri yang tengah dilanda sifat hedonis ini. Sebenarnya cerita ini adalah cerita biasa…. tetapi menjadi sangat luar biasa karena kondisi bangsa Indonesia yang sudah tidak memiliki panutan lagi. Pemimpin hanya mengejar kepemimpinannya, jarang ada pemimpin yang betul2 menjadi pemimpin. Pemimpin Indonesia saat ini tidak memberikan contaoh yang baik dalam berperi kehidupan. Saya doakan semoga bapak selalu sehat sehingga dapat selalu menginspirasi dengan tulisan-tulisan sederhananya…. mohon ijin saya muat di blog saya ya pak trimakasih

    • endarto
      Desember 20, 2011 pada 12:06 pm | #453

      Tulisan Anda bagus, Bung! Sebagai penulis Anda layak mendapat penghargaan apapun bentuknya setidaknya dari Humas Polri kali ya… Dan tanpa mengurangi keikhlasan dalam pengabdian, Paman Anda juga layak mendapat “penghargaan” khususnya dari kepolisian. Tapi kalo gak dapat juga gak mengurangi “nilainya” kok… Saya sih berprasangka baik saja bahwa cerita ini benar….

      • Desember 22, 2011 pada 10:35 am | #454

        @mas endarto :terima kasih apresiasinya , Saya hanya menuliskan , tidak ada hubungannya dengan hak mendapatkan penghargaan apapun dari cerita ini . hanya doa untuk beliau berdua dari pembaca yang bisa memberikan nafkah di alam mereka sebagai buah kebaikan semasa hidup mereka. Sesuai cita cita saya , hanya sebagai orang yang ingin menginspirasi dunia dengan tulisan sederhana saja, bukan dengan fiksi atau cerita tak berdasar lainnya.

  402. eko tyo
    Desember 20, 2011 pada 2:39 am | #455

    sosok tokoh yang dibutuhkan saat ini…

  403. ima
    Desember 20, 2011 pada 2:40 am | #456

    ijin Ndan..nge-share..suwun..

  404. Sriyono
    Desember 20, 2011 pada 2:41 am | #457

    Orang besar ….. Sri Sultan HB IX dan Pak Royadin ……… beda posisi tapi tetap teladan atas sikapnya yang benar-benar Rrrruaaaarrrr biasa ………..

  405. Jenderal Wisnu
    Desember 20, 2011 pada 2:43 am | #458

    keren!
    ini baru namanya polisi Indonesia yang tegas dan bijaksana
    zaman sekarang mana ada yang begituan…
    hahaha

  406. marichi
    Desember 20, 2011 pada 2:44 am | #459

    wah..kui tanah kelahirane inyong.. :) trnyata tetanggaku bapakke..wkwkwk.

  407. firdaus munir
    Desember 20, 2011 pada 2:44 am | #460

    saya tertegun membaca cerita ini dia tak pandang bulu utuk mengatakan yg sala itu sala, semoga allah menempatkannya disisinya amin

  408. dodik
    Desember 20, 2011 pada 2:46 am | #461

    Insyaallah….cerita ini akan dpt menjadi tauladan bagi kami…..

  409. Desember 20, 2011 pada 2:51 am | #462

    Subhanalloh, keren ceritanya .. keren sekali. Apakah boleh saya copy tentunya dg menyertakan link asli :)

  410. Desember 20, 2011 pada 2:51 am | #463

    saya sampe meneteskan air mata… bener2 terharu baca kisah ini… semoga beliau Pak Sultan IX dan juga Brigradir Rosadin diberikan tempat terbaik di sisi Allah amin

  411. Poerwanto
    Desember 20, 2011 pada 2:58 am | #464

    …alhamduliLlah…mendapat ilmu keteladanan yang baru…

  412. yacub
    Desember 20, 2011 pada 2:59 am | #465

    Salut Buat Bapak Brigadir Royandi dan Bapak Sultan
    masih adakah di Republik ini yang mencontohkan ketegasan dan rasa tanggung jawab terhadap apa yang di embanya

    saya doakan semoga amal ibadah beliau berdua diterimaNYA.
    Ammiinn…..

  413. Desember 20, 2011 pada 3:00 am | #466

    saluuut,… ada perasaan haru krn kagum…sayang,…susah menemui orang2 seperti ini di jaman ini…

  414. ade
    Desember 20, 2011 pada 3:05 am | #467

    pagi,..yg indah ini…saya membuka FB saya biasa saya baca info2 yg asa diberanda, karena banyak saya bertaut dengan rubrik2 info FB,..salah satunya jogjaku, dan yg lain seperti KF, TMC, dan masih banyak lagi…setelah saya liat berita teratas saya tertarik untuk membaca lebih lanjut, yg judulnya,
    “Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan”, ternyata setelah selesai semua saya baca negitu menyentuh cerita ini,.dan setuju semua komen2 yang ada, kebesaran hati seorg pemimpin yg benar menjadi pemimpin.dan ketegasan seorg petugas tanpa memilih2 dalam tugas beliau, begitu menyentuhnya saya terharu dan meneteskan air mata…

  415. nugroho
    Desember 20, 2011 pada 3:11 am | #468

    Amazing people…….semoga bisa menjadi contoh bagi para pemimpin bangsa ini…

  416. Desember 20, 2011 pada 3:12 am | #469

    Sungguh mulia Brigadir Royadin dan Sri HB IX, kita sekang sudah sangat sangat sangat sult menemui orang yang besifat mulia menegakkan aturan walau yg melanggar seseorang yang dihormati salah tetep salah, coba POLISI skrg begitu minimal 50% sungguh damai INdonesia, tp sayang POLISI skrg mata duit buat apa di tilang lbh baik damai pisss

  417. ary zulianto
    Desember 20, 2011 pada 3:16 am | #470

    Andaikan smua polisi indonesia kaya alm bpk… Bener” gemah ripah loh jinawi itu ada…

  418. aan
    Desember 20, 2011 pada 3:19 am | #471

    Mudah2 di zaman serba gila ini masih ada orang2 besar seperti beliau2 ini.

  419. Yanik
    Desember 20, 2011 pada 3:20 am | #472

    mohon ijin share….

  420. kapten
    Desember 20, 2011 pada 3:25 am | #473

    Umpama saja dijaman sekarang ini masih ada orang seperti Sinuwun dan brig. Royadin maka gak akan ada korupsi di negeri ini.
    Tauladan yg harus di contoh para pejabat dan penegak hukum di negeri ini….

  421. Desember 20, 2011 pada 3:27 am | #474

    gue nangis baca artikel ini . . .

  422. Desember 20, 2011 pada 3:28 am | #475

    Cerita yang perlu ditampilkan agar tidak banyak orang “mengedepankan” jabatan untuk itu.

    Donny Oktavian Syah
    Blog Manuver Bisnis

  423. Ramadhan Syukur
    Desember 20, 2011 pada 3:28 am | #476

    Ini cerita kedua yang saya baca tentang kebesaran dan keluasan hati Sultan HB IX. Yang pertama, tentang seorang penjual jamu yang karena kelihatan kecapekan, ditawar sinuhun menumpang mobilnya. Mbok Jamu yang tidak tahu persis orang yang membantunya menerima saja tawaran sinuhun. Baru kemudian setelah sampai dan orang-orang memberi tahu bahwa yang mengantar tadi sinuhun, kontan tukang jamu itu pingsan. Jadi intinya, saya percaya kebenaran cerita ini. Bukti lain, sinuhun ndak pernah peduli ketika sejarah mencatat bahwa ide Serangan Fajar (seperti di film layar lebarnya) diakui sebagai ide Suharto. Belakangan setelah Suharto turun beredarlah cerita bahwa ide itu datang dari Sultan HB IX. Raja sejati yg tak keberatan Yogya bergabng ke NKRI, walau di kemudian ahri disakiti.

  424. firman teguh
    Desember 20, 2011 pada 3:31 am | #477

    masih adakah orang seperti ini…?????!

  425. nanang agung
    Desember 20, 2011 pada 3:32 am | #478

    Masih adakah di jaman sekarang ini polisi semacam beliau? Dan jawabannya hanya satu, yaitu hampir pasti tdk ada

  426. Desember 20, 2011 pada 3:33 am | #479

    Yang jadi pertanyaan:
    1. Masih adakah pejabat-pejabat pemerintah di Indonesia saat ini yang berjiwa besar seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX ?
    2. Masih adakah polisi yang bersikap tegas sebagaimana yang dilakukan Brigadir Royadin? Andaipun ada, apakah dia akan tetap bisa menjadi seorang Polisi?
    Jawabnya terserah Anda.

    • Desember 20, 2011 pada 5:41 am | #480

      kalau ada polisi yg melakukan seperti yg di lakukan P Royadin di jaman sekarang, kemungkinan besar juga akan mengalami seperti apa yg dialami P Royadin, yakni di marah-marahi atasannya dan kemudian di mutasi, cuma bedanya mutasi nya ke pedalaman dan pangkatnya gak bakalan naik-naik…hehehe…

  427. Desember 20, 2011 pada 3:34 am | #481

    Hormat pak Royadin

  428. dinda
    Desember 20, 2011 pada 3:35 am | #482

    POLISI TELADAN julukan yg mgkn paling pantas buat pak royadin dan penghargaan yg setinggi2nya kpd beliau….semoga polisi2 indonesia bs meneladani beliau…

  429. suseno
    Desember 20, 2011 pada 3:37 am | #483

    Ketika seseorang memutuskan sesuatu dari nuraninya..saat itulah alam dekat dengannya..selama hayat dikandung badan..
    Sebenarnya banyak polisi,tentara atau pegawai lain yg spt itu..kalau dia berada di ekosistem sampah,mereka akan ttp terlihat bagai berlian suatu ketika..

  430. Ilham Priyo W
    Desember 20, 2011 pada 3:39 am | #484

    Polisi ne mantep ……!
    Ingkang Ngarso Dalem jempol…….!

  431. Desember 20, 2011 pada 3:40 am | #485

    andaikan polisi polisi indonesia seperti ini maka majulah negeri ini dan tak ada lagi kejahatan di negeri ini…

  432. dimas esa robby donata
    Desember 20, 2011 pada 3:44 am | #486

    Sungguh, suatu contoh nyata,sebuah kisah nyata dgn kesederhanaan ,kejujuran,ketulusan,keluasan jiwa,dan kemurnian kultur budaya kita indonesia,dgn santun tp tegas benar2 menyentuh membuat sy terharu membaca dan berusaha memahami dgn keadaan zaman sekarang yg begitu kontras.

  433. Taufiq
    Desember 20, 2011 pada 3:46 am | #487

    Subhanalloh….moga2 akhlak dan laku pejabat dan pimpinan bisa meniru keikhlasan dan kelurusan hati kita….Mbrebes mili,,,,ati sesak….membaca tulisan pendek penuh makna ini…

  434. amarel
    Desember 20, 2011 pada 3:47 am | #488

    semoga bisa menjadi inspirasi bg byk org…:) saluuuuttt ^^b

  435. amarel
    Desember 20, 2011 pada 3:50 am | #489

    semoga bisa menjadi inspirasi bg byk org…:-) saluuuuuuuuuuuuut ^^b

  436. sandi sultan sik
    Desember 20, 2011 pada 3:58 am | #490

    Suatu pengalaman yg berharga dari almarhum royadin dan dapat di jadikan contoh buat generasi muda polri di masa depan, jadilah polri yg dapat melindungi, mengayomi dan melayani serta dapat meneggakkan hukum sesuai aturan yg berlaku guna kepentingan masyarakat bangsa dan negara, tks pak royadin kami akan selalu bangga kepadamu.

  437. charembo
    Desember 20, 2011 pada 3:58 am | #491

    ijin share…

  438. arkon
    Desember 20, 2011 pada 3:59 am | #492

    Aku bayangin para polantas pasti mencibir baca cerita dia atas ama komentar temen2, mencibir lalu melanjutkan tugasnya sembunyi di balik pohon nunggu motor yg akan melanggar rambu lalu lintas yg sudah tertutup pohon

  439. Desember 20, 2011 pada 3:59 am | #493

    Yang diatas (sinuhun) menghormati aturan dan rendah hati, yang dibawah (alm royadhin) tegas menjalankan aturan tanpa pandang bulu, yang ditengah (komisaris) penjilat sejati yang hanya cari aman.
    Sayangnya di negara kita ini lebih banyak orang seperti komisaris penjilat ini.

  440. Desember 20, 2011 pada 4:01 am | #494

    Saya bangga dan terharu….. semoga menjadi suri tauladan bagi anak Bangsa dengan cerita sesungguhnya terjadi….. di negeri ini….

  441. Desember 20, 2011 pada 4:08 am | #495

    http://relawanuntukindonesia.wordpress.com/
    will be a follow up link for u after reading this story

    enjoy

  442. Desember 20, 2011 pada 4:10 am | #496

    Asli!!nangis terharu!!Terharu dg ketegasan dan kesahajaan Bpk Royadin sbg seorang Polisi (skrg sdh langka Polisi spt itu-hmpr punah kali) juga terharu dg kebesaran hati Sri Sultan HB IX sebagai pemimpin tp tetap mengakui kesalahan yg Beliau lakukan tanpa mengedepankan jabatan atau kekuasaan Beliau (ini lebih luangkaa lagi-1 juta 1 kali). Semoga suatu saat akan berkembang biak lagi Polisi2 baik dan Pemimpin2 adil spt mereka di bumi Ibu Pertiwi ini,Amien….

  443. zamy
    Desember 20, 2011 pada 4:16 am | #497

    ijin kopas. salam

  444. itonk
    Desember 20, 2011 pada 4:16 am | #498

    Sosok pemimpin yang dinanti di negeri ini, Almarhum Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan Almarhum Brigadir Royadin. Kita menantikan sosok-sosok seperti mereka agar negeri ini menjadi lebih baik, bukan sosok yang mementingkan jabatan dan tukang korupsi.

  445. mamah adam dan Rajwa
    Desember 20, 2011 pada 4:17 am | #499

    q seorang ibu dr 2 org putra…
    karakter bangsa timur begitu melekat pada beliau. betapa bangga org tua beliau ya…
    mari bsama2 kita cetak generasi penerus bangsa….agar identitas bangsa seperti yg ad pada beliau tidak tertepis waktu.
    berat memang apalagi tuntutan ekonomi yg kadang menjadi jebakan bagi ibu2 seperti saya…
    yang memang harus berjuang jadi ibu, istri dan karier….

  446. Desember 20, 2011 pada 4:19 am | #500

    ah terharu…
    apa masih ada pak royadin lain yang tersisa di muka bumi ini ya…

  447. Desember 20, 2011 pada 4:21 am | #501

    Salut, coba para polisi dan penguasa jaman sekarang seperti itu, aman dan damai lah negeri kita ini. Sayang disayang, cuma bisa mimpi kali yeeeeeee…..

  448. alex
    Desember 20, 2011 pada 4:22 am | #502

    Semoga menjadi inspirasi bagi semua manusia Indonesia yang mulai kehilangan jati dirinya…

  449. herru3
    Desember 20, 2011 pada 4:22 am | #503

    terharu sekaligus prihatin karena saat ini tidak ada teladan seperti dua “orang besar” ini.
    ijin share juga…

  450. SUPREKS
    Desember 20, 2011 pada 4:23 am | #504

    bisa di jadiin film atau FTV BAGUS LHO BUAT PENCERAHAN

  451. Desember 20, 2011 pada 4:24 am | #505

    amin…semoga teladan ini dapat di lakukan oleh kita semua Warga Negara Indonesia (WNI).

  452. yusuf ‎​​h a
    Desember 20, 2011 pada 4:25 am | #506

    Sangat bagus untuk muhasabah para pemimpin bangsa ini

  453. st. Nurasih
    Desember 20, 2011 pada 4:27 am | #507

    terharu banget………sampai menangis…………… Semga kita bs menteladani sikap yg dicontohkan sinuwun pd kita smua………….agar menjadi pribadi yg rendah diri……..;)

  454. Desember 20, 2011 pada 4:30 am | #508

    merinding bacanya, luarbiasa kisahnya, tokoh2 hebat,,,

  455. H M Slamet Haryono
    Desember 20, 2011 pada 4:32 am | #509

    Brigadir Royadin, polisi yang tegas dan jujur

  456. kobong
    Desember 20, 2011 pada 4:32 am | #510

    brigadir Royadin …………Pantasnya dia jadi KAPOLRI……….pasti bangsa ini aman dari Polisi-polisi Korup..atau mungkin jadi Presiden sekalian

  457. Thanti ratri
    Desember 20, 2011 pada 4:34 am | #511

    Cerita yang patut di contoh dan di teladani oleh para pengayom masyarakat n pejabat negara..

  458. Thanti ratri
    Desember 20, 2011 pada 4:35 am | #512

    Cerita yang patut di contoh dan di teladani oleh para pengayom masyarakat n pejabat negara..ijin share ya

  459. arief
    Desember 20, 2011 pada 4:36 am | #513

    Dahulu Kapolri pertama RI Pak Hoegeng pernah ditanya oleh presiden Soekarno kenapa namamu agak aneh, bukan soegeng aja biar lebih familier. Tp oleh Pak Hoegeng dijawab, Di desa saya nama soekarno itu adalah seorang buruh/pembantu. Begitulah pejabat dahulu, menerima kritik sudah hal yg biasa dan tidak ada jarak antara Presiden dan Pembantunya krn mereka saling membutuhkan.

  460. Teguh
    Desember 20, 2011 pada 4:41 am | #514

    Selalu ada orang baik di tengah2 kita … ga perlu mengumpat2 kondisi hari ini, namun cerita ini sungguh menjadi mentari pagi yang membuat kita optimis dengan negara ini :)

  461. haqqi
    Desember 20, 2011 pada 4:42 am | #515

    good history

  462. Desember 20, 2011 pada 4:43 am | #516

    inspiratif, saya yakin polisi seperti itu masih ada hingga kini, namun tertutup polisi yang terlihat seperti sekarang

  463. Desember 20, 2011 pada 4:46 am | #517

    jarang dan langka…..

  464. Darmawan
    Desember 20, 2011 pada 4:47 am | #518

    Sri Sultan Hamengkubuwono IX melanggar Verboden karena bingung menrurusi selir-selirnya, sementara ia sendiri tidak punya istri. Ketika jadi Wapres kemana-maan sendiri saja. Beliau sudah terbiasa melangar aturan, masa gubernyanya juga seumur-umur padahal di provinsi lain 5 tahun atau 10 tahun saja.

    • IndoMan
      Desember 20, 2011 pada 7:38 am | #519

      BEGO nya keliatan bgt….!!

      • arian
        Desember 20, 2011 pada 5:05 pm | #520

        orang bego ya yang ngomong ngawur gak pakek dipikir kalau ngucap,,itu kamu id palsu lagi.

    • normal
      Desember 20, 2011 pada 2:58 pm | #521

      mikir sri sultan tuh raja bukan gubernur…makanya jgja jadi daerah istimewa…gak berpendidikan lu ya

  465. suterno
    Desember 20, 2011 pada 4:49 am | #522

    kisah nyata yang sederhana tetapi syarat makna tak terasa butir air mata menetes, ketegasan dan kearifan yang luar biasa. semoga jadi teladan buat kita semua.

  466. Pranti Utami
    Desember 20, 2011 pada 4:50 am | #523

    Harusnya mental + pribadi para pejabat tinggi kita sama dengan mental + pribadi Brigadir Royadin juga Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sebagai Polisi Brigadir Royadin sudah melaksanakan tugasnya dengan baik,s esuai prosedur dan aturan yang erblaku, meski dia tahu siapa yang ditilang. Begitu pun Sri Sultan Hamengkubuwono IX, meski dia mempunyai kekuasaan tak lantas menggunakannya, karena beliau tahu memang melanggar peraturan.

  467. soele
    Desember 20, 2011 pada 4:58 am | #524

    Cerita yang inspiratif…
    Tapi ada satu yang mengganjal dan mudah2an admin mau memperbaikinya, yaitu gambar/foto ilustrasi di atas. Captionnya tertulis SRI SULTAB HB IX seharusnya SRI SULTAN HB IX dan juga 18 Maret 1940 bukanlah hari lahir beliau melainkan 12 April 1912 (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwono_IX).

    Terima kasih

  468. kokopacitan
    Desember 20, 2011 pada 5:07 am | #526

    Semoga kita bisa meneladaninya.

  469. Supriyanto
    Desember 20, 2011 pada 5:09 am | #527

    Ini yg namanya “Sengsara membawa Nikmat”… Semoga menjadi “Tauladan” bagi kita Semua, & Semoga Allah mengampuni sgl dosa2nya serta memberikan tempat yg layak disisinya, amien2 YRA

  470. wawan
    Desember 20, 2011 pada 5:13 am | #528

    waah hebat?cb dijaman sekrng msh ada pemimpin kayak sultan HB ke IX pasti negeri ini akan bersih dari korup,…,.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,

  471. ismail
    Desember 20, 2011 pada 5:15 am | #529

    Sungguh mulia….

  472. Desember 20, 2011 pada 5:15 am | #530

    Terharu bacanya…

  473. widia
    Desember 20, 2011 pada 5:20 am | #531

    Subhanallah…..cerita nyata yang harus menjadi teladan bagi siapapun, profesi apapun, di manapun. Jika masyarakat kita memiliki kepribadian seperti mereka, Insyaallah kita akan menjadi bangsa yg besar dan terhormat di mata dunia dan di hadapan Tuhan tentunya.

  474. wahjuadji gunawan
    Desember 20, 2011 pada 5:26 am | #532

    Sungguh kejadian langka di Republik ini yang diharapkan bisa menjadi suri tauladan bagi kita semua, terutama untuk petugas Kepolisian dan para Pejabat Tinggi Negara…..

  475. Desember 20, 2011 pada 5:29 am | #533

    benar-benar buat saya mneteskan air mata, inilah pahlawan yang sebenarnya..
    God bless you..
    semoga generasi seterusnya dapat menjadi manusia yang seperti beliau2 ini,,
    :’)

  476. Desember 20, 2011 pada 5:37 am | #534

    Sungguh mereka orang-orang berkepribadian besar

  477. fery johan
    Desember 20, 2011 pada 5:37 am | #535

    coba para petinggi dan polisi kita sekarang punya sifat dan sikap seperti mereka yach…..

  478. fery johan
    Desember 20, 2011 pada 5:39 am | #536

    mohon ijin share ya…makasih sebelumnya

  479. Desember 20, 2011 pada 5:39 am | #537

    Ruar biasa,, hukum tetap hukum,, tidak pandang bulu. Penguasa yang bijak jga ruar biasa… terharu subhanallaah

  480. khalid faisal
    Desember 20, 2011 pada 5:44 am | #538

    subhanallah… orang seperti BELIAU2 sudah langka di negeri ini, atau bahkan hampir punah… semoga Tuhan memberikan ORANG2 seperti itu lg di negeri ini… sekarang melihat pejabat dan aparat dengan sombong lewat di jalan raya dengan bebasnya melewati trafic light dan dengan bunyi sirine yang begitu nyaringnya seakan meludahi rakyat yg terjebak kemacetan akibat mereka… saya bangga kepada ALM. SULTAN HB IX dan ALM. ROYADIN, semoga mendapat SURGA yang layak di SISI ALLAH… AAMIIN

  481. Desember 20, 2011 pada 5:50 am | #539

    Dua orang yang mengagumkan.
    Polisi yang tegas dan Penguasa yang arif.

  482. Desember 20, 2011 pada 5:51 am | #540

    Kangen dengan HB IX.
    Luar biasa.

  483. bunriyadi@yahoo.com
    Desember 20, 2011 pada 5:56 am | #541

    MASIH ADAKAH DI INDONESIA INI ORG SEPERTI PAK RASYIDIN DAN SULTAN HB IX

  484. Desember 20, 2011 pada 5:58 am | #542

    jadi ingat saat2 th 1988 ketika Sinuhun HB IX wafat…meninggalkan kesedihan dan isak tangis seluruh warga Jogja…sedih ditinggal oleh pemimpin dan rajanya, seorang yg penuh wibawa, kenegarawanan, rendah hati, berjiwa besar…seorang pemimpin sejati!

  485. Desember 20, 2011 pada 5:59 am | #543

    Opo saiki jek ono sing koyo ngene yo?

  486. antocapunk
    Desember 20, 2011 pada 5:59 am | #544

    Cerita yg menyentuh hati…. semoga kita bisa mengambil hikmahnya

  487. hds
    Desember 20, 2011 pada 6:00 am | #545

    Semoga masih ada Pak Royadin….Royadin ..lain di Kepolisian dan Pemimpin seperti Sultan Hamengku Buwono IX di Republik ini…………..Ojo Mimpi Kaliiiiii……………………………Wallahualam

  488. Desember 20, 2011 pada 6:08 am | #546

    bisa gak ya polisi jaman sekarang seperti Alm P.Royadin..??

  489. Desember 20, 2011 pada 6:09 am | #547

    Salut aja deh….sampe terharu…….
    Komenta bahasa inggris silahkan saja, mumpung gak ada larangan, yang penting sopan, salah dikit gak apalah…….
    Seandainya………………

  490. xate xavi
    Desember 20, 2011 pada 6:11 am | #548

    contoh yang sangat baik, tapi saya jadi ingat ada ungkapan “diantara 10 orang gila, 1 orang waras adalah yg dianggap gila”, demikian pula dengan yg terjadi di republik ini dimana permasalahan polisi adalah masalah sistemik.
    Kuncinya adalah sistem kontrol terhadap polisi itu sendiri dan sistem pelaksanaan tilang. Bila kepolisian kita memiliki unit internal affair yg independent dan capable maka kinerja kepolisian tentu lebih baik. Lalu, bila kita memiliki sistem tilang seperti di (ngga usah jauh-jauh) singapura, maka penyelewengan akan tereliminasi, Untuk awalnya, hal2 mengenai pengaturan lalu lintas mulai dari pembuatan sim & stnk sampai pembayaran pajak dilepas dari kepolisian. Tapi juga jangan dilimpahkan ke dephub karena disitu lebih rusak. Mungkin lebih baik dibentuk badan lalu lintas nasional tersendiri.

  491. anonym
    Desember 20, 2011 pada 6:13 am | #549

    subhanallaah…. luar biasa langka sekarang, orang macam beliau-beliau ini.
    polisi sekarang (meski gak semua, saya yakin masih ada yang memegang idealisme itu meski sedikit) malah suka nilang buat nyari duit….
    pengalaman saya pribadi, saya kena tilang malam-malam di pertigaan karena tidak terlalu memperhatikan tanda lurus ikuti lampu, saya minta surat tilang yang warna biru karena saya ngaku salah (dan pinginnya langsung transfer ke BRI biar duitnya ke kas negara), malah disodori wajah dan tampang yang nggak enak, nada suara marah dan sambil ditakut-takuti dikenai denda maksimal (sesuai UU yang saya baca malam itu, denda maksimal melanggar lampu merah 500ribu dan STNK juga 500ribu–> salah bawa STNK, motor satunya yang kebawa STNKnya). ya udah, ngotot minta yang biru dan saya harus transfer SATU JUTA untuk denda. gak apa-apa, memang saya salah udah ngelanggar, juga itung-itung buat bantu bikin jalan raya. heheheee…..

  492. Desember 20, 2011 pada 6:16 am | #550

    mantaf….terharu………..

  493. Desember 20, 2011 pada 6:24 am | #551

    luar biasa sekali cerita ini *hormat kepada Pak Royadin*

  494. Ery Koesriyanto
    Desember 20, 2011 pada 6:30 am | #552

    Top markotop. Beginilah seharusnya sikap dan tindakan seorang petugas dan seorang pemimpin di negeri ini. Ada ketegasan, kedisiplinan dari seorang petugas dan ada kearifan , kebijakan seorang seorang pemimpin. Kisah keteladanan bagi kita smua.

  495. masruhen
    Desember 20, 2011 pada 6:31 am | #553

    Ya Alloh..Mohon dilahirkan untuk kami 10 orang saja pejabat seprti beliau Pak Royadin…Aaamiiinn

  496. Nadoes
    Desember 20, 2011 pada 6:37 am | #554

    dua sosok orang anak bangsa yang memiliki integritas diri yang unggul. patut di wariskan kepada semua insan negri ini yang masih memiliki kepedulian terhadap kehidupan berbangsa. menjadi PR buat kita semua yang sudah membaca kisah ini. kiranya dapat diamalkan dan menjadi inspirasi dalam segala hal yang kita lakukan, kapan, dan dimanapun. Great!

  497. Desember 20, 2011 pada 6:37 am | #555

    orang-orang hebat… sepantasnya kita juga menegakkan aturan dan berlaku jujur.. trims dah menginspirasi melalui tulisan ini. ikut share ya

  498. ahmad
    Desember 20, 2011 pada 6:38 am | #556

    indahnya jika kebesaran, pengabdian beliau ada di http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia_bahasa_Indonesia

  499. Desember 20, 2011 pada 6:45 am | #557

    mantap banget!!!!!

  500. Gussar
    Desember 20, 2011 pada 6:47 am | #558

    cerita yang menyentuh..setetes embun di padang gersang..betapa tidak kebesaran seorang Raja yang tidak menunjukan “kekuasaannya” (yang orang bilang feodal bgt), ketika bertemu dg rakyat kecil..yang teguh pendirian dan komit pada pekerjaan.. yang berkuasa menyadari kesalahannya, yang bertugas taat pada aturanyya. Dua tokoh yang perlu di contoh…!! Ini bukan dongeng, tapi cerita nyata…! Menyentuh BANGET!!

  501. avri
    Desember 20, 2011 pada 6:49 am | #559

    Salut. Deh ma p.polisi spt ni,,sma kyk bpk ku,,walu dh jd polisi 25th,tp msih g py apa2,mtrnya cm naik mtr buntut yg usianya dh 15th,jd polisi yg patuh lbh bersahaja lbh bahagia,n lbh di cintai masyarakat,krna smua psti da karmanya,,kta babe ku,..sory jd nyankut babeku ya..maaf ya..cz salut ma polisi2 spt ni

  502. M Setiawan BR
    Desember 20, 2011 pada 6:51 am | #560

    Semoga kisah ini dapat dicontoh oleh polisi-polisi saat ini yang harus yakin bahwa dengan berbuat baik hari ini akan mendapat lindungan dan ganjaran dari Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, karena masa depan hanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan kita hanya diperintahkan untuk berbuat baik taat kepada Alloh dan Rosul Nya.

  503. choirul
    Desember 20, 2011 pada 6:57 am | #561

    andaikan sja smua polisi skrng sprti pak royadin, pstny polisi skrng bakal disegani, bkn mlh sblk ny . slm hrmt untk pak royadin

  504. Desember 20, 2011 pada 7:09 am | #562

    terharu ama ceritanya ……
    bener-bener cerita yg kereeeeeeen …..

  505. Desember 20, 2011 pada 7:09 am | #563

    1001 gan yg punya sifat begini … sang pejabat rendah diri dan sang polisi yg jujur…

    • herman
      Desember 20, 2011 pada 7:18 am | #564

      suka

    • Desember 20, 2011 pada 7:42 am | #565

      1000 bejat 1 jujur teteplah tak akn meneng itulah indonesia…. yg hancur dipupuk yg jujur dimusnahkan,.,.,.,,.,,.

  506. agung_AVA
    Desember 20, 2011 pada 7:10 am | #566

    Pekalongan tanah kelahiran aku..

  507. Desember 20, 2011 pada 7:11 am | #567
  508. tuntun
    Desember 20, 2011 pada 7:14 am | #568

    terharu…………

  509. herman
    Desember 20, 2011 pada 7:23 am | #569

    menurutku rute yg di lalui oleh beliau memang betul deh….iya kan !!!

  510. Desember 20, 2011 pada 7:25 am | #570

    aduh, terharu bacanya sampai dibaca paragraf per paragrph, masih ada nggak ya polisi seperti ini sekarang ?

  511. fendy
    Desember 20, 2011 pada 7:28 am | #571

    Seandainya banyak orang seperti Beliau, kiranya negri kita Indonesia akan menjadi lebih baik.Contoh seorang pemimpin yang baik.

  512. yudhi widiyanto
    Desember 20, 2011 pada 7:30 am | #572

    luar biasa menginspirasi…kejujuran,kepatuhan pd peraturan tanpa pandang bulu dlm penerapannya…itu yg hilang dlm kehidupan berbangsa d bernegara saat ini…smoga muncul lg royadin2 yg baru,yg akan tegakkan kejujuran,ketegasan d kepatuhan pd aturan yg berlaku

  513. feri setiyanto
    Desember 20, 2011 pada 7:31 am | #573

    Sebuah kisah yang luar biasa…….membacanya membuat aku merinding dan menitikkan airmata,merekalah orang-orang besar yang sesungguhnya….

  514. tri
    Desember 20, 2011 pada 7:36 am | #574

    Luar biasa, sebuah suri tauladan yang langka di negeri ini dan patut ditauladani…….para penguasa pada baca tidak ya…..?

  515. Desember 20, 2011 pada 7:40 am | #576

    perilaku yang patut dijadikan contoh oleh kita semua, terima kasih atas tulisannya.

  516. ronald kusuma
    Desember 20, 2011 pada 7:42 am | #577

    Justru sesungguhnya indonesia ini harus lebih banyak memiliki royadin-royadin yang lain

  517. Tanpa nama
    Desember 20, 2011 pada 7:43 am | #578

    dulu dulu surabaya ada yg menghentikan mobil menteri yg terpisah dr voorider ….
    langsung dipindah tugas ke luar jawa .

  518. Desember 20, 2011 pada 7:45 am | #579

    salut semoga orang2 hebat seperti mereka akan menampakan diri

  519. hart
    Desember 20, 2011 pada 7:51 am | #580

    tahun 60 di kota pekalongan ada vorbodden ? saya agak sangsi…

  520. Putra
    Desember 20, 2011 pada 7:55 am | #581

    Semoga pemimpin Indonesia bs spt Sultan HB IX sehingga jg bs memunculkan Royadin2 yg lain yg mampu menegakkan wajah Indonesia yg saat ini sdg tertunduk malu

  521. Desember 20, 2011 pada 7:59 am | #582

    harusnya polisi jaman sekarang pada baca ini…

  522. Irsyad
    Desember 20, 2011 pada 8:01 am | #583

    Kira-kira apakah ada polisi masa kini yang membaca kisah polisi hweroik ini, jujur aja aku nangis terus waktu mengenang kehebatan Royadin sebagai polisi jalanan yang tegar dan tegas.

  523. atas aji
    Desember 20, 2011 pada 8:05 am | #584

    bagus….salut.terima kasih atas ceritanya

  524. wons patia
    Desember 20, 2011 pada 8:10 am | #585

    ngak cuma pak hoegeng,ternyata ada pak royadin juga.
    dan pasti masih banyak pak royadin-pak royadin lainya

  525. zoeliana
    Desember 20, 2011 pada 8:13 am | #586

    Kalo polisi sekarang, ujung ujunge ‘wani piro’
    alias 86..
    Salud sam pak HB IX..

  526. Desember 20, 2011 pada 8:16 am | #587

    thx buat shar’a

  527. An_Niens
    Desember 20, 2011 pada 8:19 am | #588

    Alm. Pak Sultan emang jempolan! Pak Sultan чªñƍ sekarang n sebelum2nya juga jempolan! Bangga sbg wong Jogja dengan pemimpin seperti bapak Sultan-ku! N bangga jg dengan Alm. Pak Royadin! Sebagai polisi Чǝлƍ “amanah”! Jaman sekarang masih ª∂a̲̅ Ъќ sech polisi Чǝлƍ seperti beliau ?!??? (˘͡˛ ˘͡ ) Fiuhhh ….

  528. Kentunk
    Desember 20, 2011 pada 8:35 am | #589

    tapi sayang di INDONESIA udah langkah tuh…

  529. dimasprasidi
    Desember 20, 2011 pada 8:40 am | #590

    tiga nilai moral yg saya temukan di cerita ini:
    pertama, kebesaran dan kerendahan hati sinuwun, sudah hilang di pejabat kita skrg
    kedua, ketegasan pejabat polisi, sudah sangat jarang terjadi skrg
    ketiga, kecintaan seorang anak daerah thd tanah kelahirannya, sudah jarang juga skrg

  530. foco
    Desember 20, 2011 pada 8:53 am | #591

    izin copas n broadcast ya mas,,menginspirasi bgt,,bangsa kita merindukan orang2 spt beliau2 ini,,mudah2an msh ada yah orang2 spt beliau…

  531. Desember 20, 2011 pada 8:55 am | #592

    sungguh luar biasa…. sayangnya jaman sekarang sedikit sekali polisi yang bisa seperti itu,,
    itu lokasinya kalo sekarang namanya apa ya??

  532. Desember 20, 2011 pada 9:18 am | #593

    Aku bangga dengan 2 PAHLAWAN Besar ini, Almrhm Bp.Royadin dan Almrhm Sri Sultan HKBW IX, Semoga amal baik dan JAsa2 nya diterima di sisi ILLAHI , diampuni segalakesalahannya dan ditempatkan disisi-NYA..amiin

    Dan Sangat berharap dengan DOA dan Air Mata, Semoga diturunkan sifat2 mulia ini di generasi penerus sekarang ini dan selanjutnya… AMIIIIInn.

    Best Regards
    Bestari Family, Tambun – Bekasi

  533. adt
    Desember 20, 2011 pada 9:19 am | #594

    Wah kalau pejabat dan aparatur negara indonesia seperti itu semua , saya yakin Indonesia lebih besar dari China atau negara Eropa lainnya sekarang….yah tapi gimana lagi…..sepertinya butuh ratusan tahun untuk merubah perilaku bangsa kita, soalnya dah mendarah daging…:)
    .

  534. Desember 20, 2011 pada 9:20 am | #595

    Tugas para malaikat dipermudah oleh orang yang hatinya ikhlas…

  535. indra sanusi
    Desember 20, 2011 pada 9:26 am | #596

    Inilah contoh manusia yang menjunjung tinggi “Moral” dan “Budi”.

  536. shetya nugraha
    Desember 20, 2011 pada 9:57 am | #597

    cerita indah nan mengharukan, masya Allaah…..

  537. Desember 20, 2011 pada 9:57 am | #598

    Kalo POLISI kaya gini semua.Pasti makmur Negoro iki…..

  538. Desember 20, 2011 pada 10:08 am | #599

    LIMITED EDITION !!!

  539. Desember 20, 2011 pada 10:25 am | #600

    semua komentar bagus dan bagus… Setelah Hoegeng Kapolri era Soekarno…Maka polisi Ruyadi…sosok polisi yang membanggakan…

  540. Desember 20, 2011 pada 10:26 am | #601

    Terharu banget,,, betapa mulia beliau, pak polisi yang amanah, seharusnya pak polisi mencontoh beliau semua.. ^0^

  541. Desember 20, 2011 pada 10:29 am | #602

    Jadi ingat berita tentang mantan Kapolda Metro Jaya yang mengancam Satpam Perumahan dan segala arogansinya. Ironis, sudah mantan masih sok kuasa sedang yang Raja saja taat hukum.

  542. imam agus salim
    Desember 20, 2011 pada 10:33 am | #603

    Semoga kisah nyata ini bisa menginspirasi hidup kita sebagai anak bangsa yang masih memegang cita-cita luhur bangsa.

  543. agus maryono
    Desember 20, 2011 pada 10:42 am | #604

    klo semua polisi spt ini..dan semua pejabat spt sinuwun…bnr2 sejahtera negeri ini…

  544. affran ghazali
    Desember 20, 2011 pada 11:05 am | #605

    alangkah besarnya bangsa Indonesia kalau masih ada orang” seperti pak Royadin & SSHB IX…. Jadi mikir…

  545. arief ridwan
    Desember 20, 2011 pada 11:10 am | #606

    hebat, luar biasa, kisah yg amat inspiratif, persis pula seperti yg terjadi kepada alm eyang dan ayah saya, Heri Purwoko, mekanik PERTAMINA, yang tak mau sedikitpun bernegosiasi untuk kenaikan pangkat, meski ia adalah Lulusan terbaik no.2 P3B ankatan ke 7, sekolah pendidikan perwira Laut di Semarang….. Sikap yang akan selalu kami pegang, putra-putrinya, tak kan pernah sedikitpun, kami makan dari hasil korupsi atau nepotisme, meski hanya satu rupiah….

  546. Desember 20, 2011 pada 11:11 am | #607

    INILAH KISAH PAHLAWAN SEJATI DAN PEJABAT YANG TIDAK MANDAN BULU SAPA YANG SALAH TETAP DITINDAK,AKAN KAH ADA PAHLAWAN SEPERTI BELIO-BELIO INI ……..SEMOGA BELIO-BELIO MENJADI COTOH GENERASI BERIKUTNYA >>> SEKARANG PALING BANYAK PAHLAWAN KOROPSI YANG TIDAK MEMENTINGKAN MANA YANG BENAR DAN YANG SALAH MALAH MEMENTINGKAN PERUTNYA SENDIRI-SENDIRI.

  547. abah otox baratawiria
    Desember 20, 2011 pada 11:13 am | #608

    saya klw membaca sesuatu hanya point2nya saja namun cerita di atas saya membacanya sangat pelan, huruf demi huruf saya baca tak terasa hati bergetar.
    2 makhluk Alloh dengan segala perbedaanya mempunyai perilaku yang patut kita tiru.

    Terima kasih telah sharing…

  548. hann
    Desember 20, 2011 pada 11:16 am | #609

    kisah yang menyesakkan dada..
    izin copas n share Gan.. :)

  549. Desember 20, 2011 pada 11:21 am | #610

    semoga saja ini menjadi pelajaran yang berarti

  550. Desember 20, 2011 pada 11:37 am | #611

    itu baru rakyat indonesia yang mau maju di mulai dari perilaku dan kewibawaan. saya membacanya sampai berulang kali dan memang benar itu adalah orang indonesia budaya kita yang kita andalkan. sekarang mana ayo tunjukkan jangan hanya mengejar kekuasaan dengan melupakan kebudayaan.

  551. hams
    Desember 20, 2011 pada 11:46 am | #612

    Pengin banget saya berjiwa besar seperti ke 2 orang ini..

  552. bedjo mulyono
    Desember 20, 2011 pada 11:50 am | #613

    dan patut di catat dalam keseharian pak royadin hanya naik sepeda ontel bkn spd motor….saluut utk kanjeng sinuhun hb ix dan pak royadin almarhum/wartawan tv

  553. bedjo mulyono
    Desember 20, 2011 pada 11:52 am | #614

    patut di catat pak royadin dlm keseharian hanya naik sepeda ontel tdk naik motor apalagi mobil,saluut untuk sinuhun sri sultan hb ix dan pak royadin almarhum

  554. rama el rudiyanto
    Desember 20, 2011 pada 11:54 am | #615

    …Setidaknya ada yg bisa dibanggakan juga dri kepolisian RI berkat orang2 seperti pak Royadin dan pak Hoegeng…..

  555. mila
    Desember 20, 2011 pada 11:58 am | #616

    harkat,martabat tanggung jawab dan ketegasan yg d junjung tinggi…salut…untk jaman sekarang yg tak bs d temukan…cerita yg mencerminkan keberanian..semoga menjadi pelajaran u kt…amin

  556. Desember 20, 2011 pada 12:02 pm | #617

    wew,
    saya bergetar baca ini. andai saat ini semua oknum bisa meneladani beliau..
    subhanallah ……

  557. bayu
    Desember 20, 2011 pada 12:02 pm | #618

    Kisah yang bisa dijadikan teladan.
    Ijin “share” juragan.

  558. Desember 20, 2011 pada 12:03 pm | #619

    izin share pakde

  559. lies ratnaningsih
    Desember 20, 2011 pada 12:13 pm | #620

    kisah nyata dan pengalaman hidup yang luar biasa alm. Bp.Royadin seorang polisi yg patuh dan taat akan sumpah, dan tidak silau oleh hadiah2, dan seorang Radja yang sederhana, arief dan bijaksana yang tidak menyombongkan ataupun memamerkan bahwa dirinya adalah seorang Radja, namun tetap penuh dengan kharismanya …
    Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Bp Royadin, pantas untuk menjadi contoh bagi pejabat2 di negeri Indonesia ini, dimanapun dan apapun jabatannya..

    mungkin tidak banyak orang yang membaca kisah indah ini,,alangkah lebih baiknya apabila pemerintah daerah Pekalongan khususnya kepolisian, mendirikan monumen untuk mengenang bahwa pernah ada seorang polisi yang menjalankan tugasnya dengan baik..dan seorang pejabat ( Radja ) yang dengan ariefnya mengakui kesalahannya bahwa telah salah jalan dan menyerahkan rebuesnya kepada polisi untuk ditilang,
    semoga alm.Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Bp, Royadin senantiasa damai dan bahagia disisi Tuhannya…amin

  560. wong ndeso
    Desember 20, 2011 pada 12:14 pm | #621

    top tenan polisi jaman biyen, nek jaman saiki, nek kecekel polisi neng dalan, polisine ora bakalan ngomong “selamat siang pak” tapi ngomong e mesti “makan siang pak” , kapan majune Indonesiaku iki? aku cinta Indonesia tapi wong wong an e sing marake Indonesia bubrah

  561. dhebu
    Desember 20, 2011 pada 12:17 pm | #622

    salut dengan beliau-beliau :)

  562. Desember 20, 2011 pada 12:32 pm | #623

    luar biasa ! ijin utk share…

  563. shaldin
    Desember 20, 2011 pada 12:33 pm | #624

    Cerita yang mengharukan ….. adakah Polisi yang idealis seperti beliau itu saat ini.

  564. vitha deva
    Desember 20, 2011 pada 12:34 pm | #625

    klo semua polisi seperti beliau….

  565. Desember 20, 2011 pada 12:50 pm | #626

    trims sharingnya…sangat menggugah…izin share…salam

  566. ahmad
    Desember 20, 2011 pada 12:53 pm | #627

    dua orang yg patut di contoh ….

  567. Desember 20, 2011 pada 1:01 pm | #628

    mantap, itu baru cerita yg bikin kaca bagi para pejabat negara, dimana akan menjalankan tugas penuh tanggung jawab dalam menjalankan tugasnya.

  568. Desember 20, 2011 pada 1:02 pm | #629

    Bangsa ini tak diragukan lagi pernah jadi bangsa yang disegani. Itu karena masih banyak ditemui orang2 seperti pak royadin dan sri sultan hb ix. Tapi saat ini? bangsa ini semakin terpuruk karena susah sekali mencari orang2 yang bisa menjadi teladan. Paling tidak dengan cerita ini, mudah2an bisa menggugah kita semua untuk menjadikan beliau2 tsb sebagai suri teladan kita.

  569. fero
    Desember 20, 2011 pada 1:04 pm | #630

    Kisah ini sangat inspiratif dan sepatutnya diteladani. Dua toko besar yang sangat membanggakan!!! Tindakan dari keduanya seharusnya di ikuti oleh para pejabat dan aparat kita di masa sekarang.

  570. dedi jogja
    Desember 20, 2011 pada 1:21 pm | #631

    ijin kopas……… smoga bisa diceritakan untuk generasi mendatang…….

  571. budhi setya prabowo
    Desember 20, 2011 pada 1:23 pm | #632

    Baik utk pembelajaran pada pelatihan kader kepemimpinan dimulai dari tingkat dasar shg diharapkan dpt terpatri sbg suatu perilaku disaat hrs mengemban suatu amanah apapun.

  572. Desember 20, 2011 pada 1:45 pm | #633

    “Syukur alhamdulillah” itu lah yg hrs kita ucapkan krn kita msh mempunyai org yg arif dan bijak dlm menjalankan hidup di dunia.saya sangat bangga dgn seorang polisi tsb dlm menjalankan tugasnya sbg aparat negara,.bgitu pula dgn seorang pemimpin yg tdk mrsa elitis tsb,.ia merupakan seorang pemimpin yg rendah hati dan tdk sombong dgn status yg ia emban..Semoga kita semua bisa menjadi lbh baik dr sebelumnya dgn mencontoh prilaku ke 2 org tsb sbg suri tauladan dalam menjalani kehidupan di dunia,.

  573. erman
    Desember 20, 2011 pada 1:49 pm | #634

    Patut menjadi contoh, inilah sejatinya polisi dan pejabat yg diaharapkan segnap bangsa indonesia.

  574. andria
    Desember 20, 2011 pada 2:00 pm | #635

    Wow,, ternyata seorang Sri Sultan pun bisa melanggar lalu lintas ya?? Btw pak aryadi bagaimana saya bisa yakin kalau cerita ini bukan cerita fiktif??

  575. widj
    Desember 20, 2011 pada 2:15 pm | #637

    …langka tenan dhab…..

  576. sukmono
    Desember 20, 2011 pada 2:18 pm | #638

    Pemimpin/Raja yg mulia hatinya, Abdi Negara/Polisi yg amanah dlm tugasnya. Masih adakah Org2 yg seperti mereka? SALUTE!!!

  577. Desember 20, 2011 pada 2:29 pm | #639

    salut tuk pak Royadi … smoga masih ada petugas2 yg jujur seperti Beliau …

  578. sapto
    Desember 20, 2011 pada 2:33 pm | #641

    tidak banyak comment…
    intinya perilaku yang perlu kita jaga dan lestarikan
    diatas hanya sedikit contoh perilaku Sinuhun yg ketahuan saat di luar kota, belum lagi saat Sinuhun yang sering keliling jogja menggunakan becak melihat rakyatnya.
    izin share ya om

  579. molin setya
    Desember 20, 2011 pada 2:34 pm | #642

    salut dgn sikap pak royadin…..dan Sri Sultan,sikap spt itulah yang hrs kita tiru,tetap konsisten menjalankan tugas,dan tdk menunjukkan kehebatan dan kekuasaan jikalau kita emang salah….perlu jd tauladan buat kita semua….

  580. iin maryani
    Desember 20, 2011 pada 2:46 pm | #643

    Bangga punya seorang pak Royadin. Smg beliau mendapat tempAt yang layak disisi Nya.. Juga untuk kanjeng Sultan hormat kepada beliAu.. Dan juga mendpAt tempat yg layak disisi Nya. Amin

  581. huda
    Desember 20, 2011 pada 2:49 pm | #644

    membaca artikel ini, terasa aku kembali kekampungku. seandainya semua polisi di negeri ini seperti itu pasti ……..

  582. Desember 20, 2011 pada 3:00 pm | #645

    Cerita yang sangat bagus! Saya share ya :D

  583. gagah suasawan
    Desember 20, 2011 pada 3:03 pm | #646

    inii kisah nyata yg unik .penulisnya menyajikannya dgn bhs sederhana dan mudah dimengerti.ada lucu,greget,sedih,gembira.sehingga pembaca tdk tegang,mecucu,dag dug dug dst.

  584. Desember 20, 2011 pada 3:18 pm | #647

    waaah.. cerita sejarah yang hebat dan menginspirasi

  585. yati
    Desember 20, 2011 pada 3:25 pm | #648

    Polisi sekarang biasanya bilang begini : Anda melanggar pasal xx, dendanya xx, tapi jika anda tak punya waktu, bisa kita bantu selesaikan di sini. Ya nggak pak polisi?

  586. acid
    Desember 20, 2011 pada 3:26 pm | #649

    Bener2 crita yg menginspirasi…
    Smoga ini bisa jd contoh bwt QTA SEMUA….
    Knp sy tulis “QTA SEMUA” dlm huruf kapital, krn sy harap qta jgn cmn bisa bicara/komen negatif atau mengkritik org lain trlebih dahulu, justru pertanyaan yg pertama hrs anda tny k diri anda sendiri adl jika anda brada dlm posisi slh satu dr mreka, apa anda akan berbuat hal yg sama dg mreka?

  587. gripiez
    Desember 20, 2011 pada 3:27 pm | #650

    merdeka

    moga moga semua oknum dan semua pejabat negara seperti itu, amien

  588. TOMMY
    Desember 20, 2011 pada 3:28 pm | #651

    Seandainya Pejabat tinggi

  589. Desember 20, 2011 pada 3:30 pm | #652

    salut.. dapat menceritakan bagaimana sosok sosok bangsa indonesia kita dulu..

  590. gueancho
    Desember 20, 2011 pada 3:41 pm | #653

    Semoga cerita2 seperti ini selalu menghiasi sanubari kita dan kita akan terus maju membawa gerbong Indonesia Raya, dengan segala bentuk rupanya, maju terus pantang mundur….terserah mau pakai bahasa apa menterjemahkannya…. Merah Putih Pasti Bisa!!!

  591. awan negus
    Desember 20, 2011 pada 3:47 pm | #654

    asem ah… aku tembe bgerti kalo di pekalongan pernah ada pulisi seperti itu. mhn maaf kepada sanak kerabatnya tidak bisa ikut memberi penghormatan saat beliau wafat. Polisi itu takkan pernah tergantikan

  592. Prakoso Pras
    Desember 20, 2011 pada 3:55 pm | #655

    Hukum untuk di tegakan tanpa pengecualian tanpa pandang bulu sipa yg melanggar harus di tindak..tetapi mgp skg hukum di permainkan….seandainya skg penegak hukumnya seperti brigadir royadien mungkin negara ini tak kan terpuruk… Salut untuk Brigadir Royadien dgn pengadian dan kejujuran nya smoga arwah beliau tenang dan menghantarkan nya ke surga. Amin

  593. Desember 20, 2011 pada 4:24 pm | #656

    indahnya…

  594. danie
    Desember 20, 2011 pada 4:25 pm | #657

    ijin share yah…..soalnya udah jarang polisi yang seperti beliau…tidak mau memanfaat kan keadaan dantegas dalam bertugas….salut untuk beliau dan Sri Sultan HB IX…..

  595. arif
    Desember 20, 2011 pada 4:33 pm | #658

    pak timur pradopo baca nggak ya…..

  596. Desember 20, 2011 pada 4:44 pm | #659

    luar biasa!!!!!!!!!!!!

  597. Rika Nur Hidayati
    Desember 20, 2011 pada 4:58 pm | #660

    Subhanallah..cerita yg bagus dan menyentuh..bangga ku jadi wong yoja..ijin share ya..

  598. Anom P
    Desember 20, 2011 pada 5:01 pm | #661

    ada gak ya, pejabat yang insyaf setelah baca tulisan ini?

  599. Desember 20, 2011 pada 5:40 pm | #662

    polisi sekarang beda gan….. Wani piro?????????

  600. ade ape
    Desember 20, 2011 pada 6:25 pm | #663

    ayo kawan, jangan cuman bilang patut dicontoh, atau complain ttg polisi dan pejabat jaman sekarang…Tapi kita bersama bilang, akan saya contoh teladan Pak Royadin. Ingat perubahan dimulai dari diri sendiri dan dalam kehidupan sehari kita masing2.

  601. SLAMET WAHYUDI
    Desember 20, 2011 pada 6:31 pm | #664

    kalo budi pekerti spt beliau2 udah langkah ato memang nggak ada,
    gmn kalo kita awali dari diri kita sendiri ?

  602. Ningrum
    Desember 20, 2011 pada 7:35 pm | #665

    Dijaman skrg ini sangat langka polisi yg jujur.Bpkku termasuk org2 spt Polisi Royadin.Bahkan bekas koleganya mengatakan bahkan Bapakku seorg polisi yg gak suka duit.Sampai akhir hayatnya,beliau tetap hidup dlm kesederhanaan dan tdk ada yg berubah dlm dirinya utk menegakkan keadilan di negara kita.

  603. habsyi
    Desember 20, 2011 pada 7:52 pm | #666

    mari kita mulai dari diri sendiri membangun akhlakul karimah… jangan nunggu ampe tua… piss…..

  604. noersae
    Desember 20, 2011 pada 10:32 pm | #667

    masyaalloh. . . begitu jujur bapak ini yang bis mejadi ibroh bagi seorang polisi maupun masyarakat. . .

  605. B’ja
    Desember 20, 2011 pada 11:13 pm | #668

    masih ada nggak ya polisi polisi yang seperti pak Royadin……???

  606. mbah sastro marutoklopo (sragen)
    Desember 20, 2011 pada 11:53 pm | #669

    Alm. eyang saya: Moehadi (Harjoutomo – nama sepuhnya) juga bertugas sebagai polisi di pekalongan pada tahun2 tersebut (pangkat terakhir sy kurang tahu – namun biasa dipanggil ‘pak mendan’) dulu eyang tinggal di Wiradesa Pekalongan (belakang pasar), semoga kita bisa meniru semangat2 beliau…

  607. Desember 21, 2011 pada 12:43 am | #670

    mantap……1000:1

  608. Desember 21, 2011 pada 12:57 am | #671

    Ahh….biasa saja, memang seperti itu seharusnya. Sekarang saja yang jeleknya luar biasa.

  609. ryo
    Desember 21, 2011 pada 12:59 am | #672

    Pengalaman dan kisah yang menarik. Seandainya orang2 di negeri ini punya keteguhan hati seperti itu, niscaya bangsa ini mjd bangsa yang maju.
    Saya izin share artikel ini.
    Trims.

  610. den bagus
    Desember 21, 2011 pada 1:18 am | #673

    Posting yg sangat bagus menyentuh dan inspiratif……
    beberapa waktu lalu malah ada mantan kapolda ngumbar tembakan di pos satpam sebuah komplek perumahan di jakarta….gara gara satpam melarang tamu si mantan kapolda olah raga. kalau sekarang petugas yang melaksanakan tugas sesuai prosedur malah dimusuhi….mantan pejabat arogan… anak dan familinya suka nyatut nama pejabat biar ditakuti dan Belagu…jaman sekarang apalagi di wilayah kedaulatan yang namanya **INDONESIA**…..Peraturan dan hukum bukan ditaati tapi dibuat untuk dilanggar….orang lebih bangga melanggar hukum dari pada taat hukum.

  611. Desember 21, 2011 pada 1:21 am | #674

    Terima kasih, sudah menuliskan dan membaginya.

  612. Nomo Koeswoyo, S.STP
    Desember 21, 2011 pada 1:40 am | #675

    Semoga Bisa menjadi Inspirasi dan teladan bagi kita-kita semua ..We Can Do it…terima kasih beritanya..dan klo bisa ada lagi…

  613. ubin
    Desember 21, 2011 pada 1:55 am | #676

    Bangga rasanya jika keteladanan beliau ( alm pak. ROYADIN dan Sinuwun ) dapat di lanjutkan generasi yang sekarang…..

    tapi sayang…… kerendahan hati para pejabat tidak tampak lagi…..

    Semoga peristiwa yang telah diceritakan kembali ini dapat memberkan inspirasi kepada generasi penerus bangsa ini, agar kedepan dapat membawa bangsa INDONESIA tercinta ini lebih baik lagi….

    Terimakasih kepada penulis yang telah menyebarkan cerita ini, semoga dapat menjadikan inspirasi dan motivasi bagi kami kaum muda bangsa INDONESIA….

    Semoga semua amal dan kemuliannya alm. pak ROYADIN beserta Siunuwun SRI SULTAN HB IX diterima Allah SWT….. amien….

  614. ndut putra gangga
    Desember 21, 2011 pada 1:55 am | #677

    Ajib bro,, gue org pekalongan,& rmh gue jg di Proyonanggan Batang.. Di Batang – Pekalongan butuh seorang Penegak hukum seperti beliau

  615. woko
    Desember 21, 2011 pada 1:55 am | #678

    Keren!polisi sama pejabat sekarang suruh baca biar mereka conto gak kerjanya cuman kkn

  616. Desember 21, 2011 pada 1:58 am | #679

    Saya salut sama Pak Royadin sebagai polisi yang berani dan tegas mengikuti aturan. Harusnya polisi2 Indonesia semuanya seperti itu.

    Kalau Sultan HB IX saya memang sudah lama tahu kalau beliau itu pemimpin yang hebat. Tidak pandang bulu. Bahkan dia mau nganter nenek2 ga dikenal ke pasar, dan menaikkan barang2 si nenek ke dalam mobilnya. Para pejabat negara kita termasuk para presiden harus belajar menjadi legowo pada sinuwun.

    Apa negara kita harus berubah jadi monarki dengan HB sebagai sultannya, kah, supaya moral bangsa tetap dijaga? Karena HB X juga benar2 perhatian pada rakyatnya, jauh lebih perhatian dibandingkan pejabat2 yang lain. Makanya kota Jogja asri dan tidak banyak masalah dibandingkan kota2 lain…

  617. tre
    Desember 21, 2011 pada 2:00 am | #680

    pekalongan jg tanah airku, aq bangga dengan pekalongan, hehe…, saat ini aq juga bekerja dijogja jd ad chemistrinya jogja-pekalongan…

  618. Desember 21, 2011 pada 2:36 am | #681

    Saya rasanya pernah membaca Sinuwun diberhentikan polisi juga, kalau tdk salah di majalah Intisari. Tapi polisinya belum tau siapa Sinuwun, dia baru tahu wkt lihat nama Sinuwun di “SIM”nya. Mungkin itu kisah yg lain

  619. Desember 21, 2011 pada 2:39 am | #682

    Menarik! HB IX memang orang besar. Tak salah jika ada buku berjudul Tahta untuk Rakyat.

  620. agus pa
    Desember 21, 2011 pada 2:40 am | #683

    apakah kita akan melakukan hal sama seandainya itu terjadi pada diri kita sekarang?
    mari kita awali dari diri kita tanpa menunggu orang lain, siapapun kita, dan dimanapun kita.

  621. Desember 21, 2011 pada 2:45 am | #684

    alangkah majunyanya negeri ini bila sifat pemimpinnya seperti Sri Sultan HB IX ditambah ketegasan polisi seperti pak Royadin..
    “Yang salah harus disalahkan, yang benar harus dibenarkan”.
    “jangan salahkan orang yang benar dan jangan membenarkan orang yang salah”

  622. agus wijanarko w
    Desember 21, 2011 pada 2:49 am | #685

    Subhanalloh, hatiku sangat terharu. susah..susah..sangat mencari orang yg tegas,jujur dan penuh kesedehanàan. AYo muda-mudi generasi penerus harapan bangsa dan AGama.

  623. Desember 21, 2011 pada 2:52 am | #686

    Menyentuh, indah dan merupakan kondisi yang langka di negeri ini. Ya Allah terima ibadah mereka berdua ampuni segala dosa dan khilafnya serta berikan tempat yang terbaik disisiMU!

  624. Desember 21, 2011 pada 3:03 am | #687

    Allah SWT, maha Agung, ini semua pasti sudah kehendahNya, sebagai suri teladan, untuk kita semua, bangsa Indonesia. Semoga beliau-beliau dalam Rahmat Allah SWT.

  625. eko budiono
    Desember 21, 2011 pada 3:05 am | #688

    Trenyuh,,,,, hebat, sangat hebat,,, polisinya hebat dan pejabat “sinuwun” juga sangat hebat.. Berandai banyak polisi dan pejabat yg seperti itu…..

  626. Desember 21, 2011 pada 3:22 am | #689

    pejabat yg berkuasa pun, mampu mengakui kesalahannya….., HEBAT….., luar biasa

  627. fajar
    Desember 21, 2011 pada 3:31 am | #690

    Istimewa

  628. Desember 21, 2011 pada 3:44 am | #691

    luar biasa…. Mantab…. Sungguh suatu kisah yg mengharukan dan membanggakan…

  629. Desember 21, 2011 pada 3:47 am | #692

    merinding rasanya aku membaca cerita ini, ingin aku dipimpin oleh sri sultan hb ix. dan sultan hb x kayaknya tidak jauh dari kepribadian hb ix.

  630. mey
    Desember 21, 2011 pada 3:49 am | #693

    wahhh, aku jg pnya crta luar biasa ttg HB IX.. cm ada yg mau posting?

  631. hadi bae
    Desember 21, 2011 pada 3:55 am | #694

    saya bangga sebagai wong pekalongan asli klego terharu dan salut. slamat jalan pak ruyadin dan kanjeng sultan IX smoga di beri tempat yg layak di sisiNya amin

  632. Desember 21, 2011 pada 3:57 am | #695

    mantepp pisann…dishare yah

  633. Desember 21, 2011 pada 4:01 am | #696

    menjawab beberapa pertanyaan , berikut link tulisan saya mengenai cerita ini:

    http://sosok.kompasiana.com/2011/12/21/menggugat-kisah-nyata-di-kompasiana/

  634. A’ar
    Desember 21, 2011 pada 4:06 am | #697

    Wah.. wajib dishare neh, gaya bahasa jempolan.

  635. Desember 21, 2011 pada 5:00 am | #698

    Sama2 orang Jogja, sama2 bangsawan (beda derajat), sama2 pejabat, tapi kisah ini benar2 bertolak belakang dengan kisah seorang anggota DPR RI dari Jogja yang hendak bepergian menggunakan pesawat beberapa waktu lalu. ironis.

  636. Desember 21, 2011 pada 5:32 am | #699

    seandainya pemimpin negara ini seperti beliau

  637. Desember 21, 2011 pada 5:32 am | #700

    Semoga masih ada yang seperti ini di negeri ini

  638. putri
    Desember 21, 2011 pada 5:33 am | #701

    Semoga masih banyak brigadir-brigadir seperti p royidin ?i negara kita ini

  639. Desember 21, 2011 pada 5:34 am | #702

    sekarang apa ada polisi yang seperti itu ????? ga ada !!!!
    polisi sekarang pasti takut elakukan hal yang sebegitu tegasnya,, tak memandang siapa yang salah,, polisi dekarang dikit dikit uang , uang dan uang,, pokok e muk HWANI PIRA ??? :D indonesia yang dulu lebih indah dibanding indonesia kini,, penuh ketegasan,, kejujuran,, tak seperti saat ini!!!!!!!!!!

  640. made sumita
    Desember 21, 2011 pada 6:03 am | #703

    Jujur mungkin sudah hilang dalam kamus para pemimpin kita sekarang ini, ini kisah yang sudah sulit kita temukan dikehidupan berbangsa dan bernegara NKRI tercinta ini. Yang ada kebanyakan ABS (asal bapak senang) dsb. Saya yakin sebagian besar pembaca rindu akan sosok pemimpin dan aparat yang seperti dalam cerita ini, saya yakin suatu saat rasa kerinduan2 seperti ini jika bersatu akan membawa kearah suatu revolusi, karena kalau bangsa ini masih berjalan seperti sekarang ini, mungkin 50thn lagi negara ini tinggal kenangan, ibarat perusahaan sudah gulung tikar.

  641. Desember 21, 2011 pada 6:12 am | #704

    aduuh agan agan semuwah, loe pada mellow sumellow … jadi nget Bang Rinto Harahap … ihik ihik …ihik ihik …

  642. wed
    Desember 21, 2011 pada 6:25 am | #705

    Good history..begitulah seharusnya seorang pemimpin ^^

  643. satria wijaya
    Desember 21, 2011 pada 6:36 am | #706

    jujur dan tegas.

  644. Desember 21, 2011 pada 6:47 am | #707

    Subhanallah… cerita keteladanan yang luar biasa… Pemimpin yang bijak dan aparat yang jujur lugu dan tegas…

  645. Nurul Wahyu Sanjaya
    Desember 21, 2011 pada 7:04 am | #708

    cerita yang penuh inspirasi dari dua orang yang sama-sama taat hukum…

  646. Desember 21, 2011 pada 7:51 am | #709

    ijin share ya….:)

  647. putra_pangeran
    Desember 21, 2011 pada 7:52 am | #710

    tidak dengan HB X……sudah beda…bumi langit……sedih…..:((

  648. achmad zulfan
    Desember 21, 2011 pada 8:25 am | #711

    Salut dan Hormat saya buat pak Royadin dan Sinuwun Sri Sultan, sungguh mereka adalah orang-orang yang sangat terhormat dan semakin langka di negeri ini. Keteguhan hati seorang Royadin dan keluasan hati seorang pemimpin….Allahu Akbar…

  649. abdi negara
    Desember 21, 2011 pada 9:07 am | #712

    Speechless … campur segala rasa setelah membacanya … Izin share dan copas ya …

    Makasih banget atas sharing-nya …

  650. Milyono
    Desember 21, 2011 pada 9:26 am | #713

    sanggar bunga padi :
    cerita yang indah….keteguhan hati sang polisi jalan kan aturan diimbangi dengan kebesaran jiwa sang pemimpin…alangkah indahnya jika Indonesia masa kini mengikuti teladan di cerita ini…
    ijin share ya….

  651. ermadear
    Desember 21, 2011 pada 9:47 am | #714

    ijin share ya gan..di blog milik saya..

  652. Milyono
    Desember 21, 2011 pada 9:52 am | #715

    Menurut Pendapat saya klo Pengendara melanggar karena tidak tau verboden atau tidak tau melanggar karena tidak melihat rambu2 itu harus dibebaskan dari tilang. tapi siapapun orang itu pejabat atau bukan klo sengaja melakukan pelanggaran tanpa alasan apapun harus di tindak.tapi kalo sengaja melanggar verboden karena terpaksa sekali lagi diuber2 orang mau di aniaya.. malah harus di lindungi demikian semoga pendapatku tidak salah..

  653. Duddi hariadi ST
    Desember 21, 2011 pada 10:03 am | #716

    Sungguh polisi yang pantas dicontoh oleh polisi’ jaman skrg

  654. Duddi hariadi ST
    Desember 21, 2011 pada 10:06 am | #717

    Sungguh polisi yang pantas dicontoh oleh polisi’ dijaman skrg

  655. Desember 21, 2011 pada 10:28 am | #718

    Sebuah cerita yang bagus banget, gak kerasa sampe nangis bacanya …

  656. Desember 21, 2011 pada 10:32 am | #719

    Seperti cerita dari negeri dongeng……………… inspiratif!

  657. wawan
    Desember 21, 2011 pada 10:58 am | #720

    “Siap dan mantap andai saja semuanya.. “

  658. zainal
    Desember 21, 2011 pada 12:17 pm | #721

    semoga bisa menjadi tauladan bg kita semua..dan bisa meneladaninya

  659. Desember 21, 2011 pada 12:29 pm | #722

    Keren dan bagus sekali ceritanya. Pelajaran terbaik atas kisah dan pengalaman berharga ini

  660. Desember 21, 2011 pada 12:31 pm | #723

    Kalo polisi sekarang sih cuma … Wani Piro :o

  661. Desember 21, 2011 pada 1:08 pm | #724

    Pemimpin yang langka dan polisi aneh di negri ini bisakah diperbanyak?
    Salam http://www.cbmcare.com sentra madu & herbal

  662. Fahmi
    Desember 21, 2011 pada 1:45 pm | #725

    Kisah yang menakjubkan…Tapi kalau jaman sekarang mungkin cuma jadi cerita khayalan, ada polisi yang seperti Beliau ini….Saya belum pernah menemui polisi yang baik, beberapa kali saya menerima hal-hal yang amat memilukan..belum lama saya di Semarang 2 kali kena, yang pertama gara2 lampu sepeda motor tidak nyala kena 30rb, di lampu merah Kalibanteng kena 100ribu hanya karena sedikit melewati garis batas, padahal garisnya sudah tidak jelas lagi….Mudah2an mereka semua diberi petunjuk……

  663. yuli setiawan
    Desember 21, 2011 pada 2:09 pm | #726

    Halo Di, apa kabar.
    Posisi dmn skrg.?

    • Desember 22, 2011 pada 10:56 am | #727

      ini Yuli CAT?, saya di jakarta setelah keliling-keliling tiga benua. kalo benar apa kabar sob? tapi langsung email saja , ini lapak orang , saya hanya jadi penulis tamu saja.

  664. Yuda
    Desember 21, 2011 pada 2:41 pm | #728

    Saya orang Pekalongan, tapi saya tidak pernah mendengar cerita tersebut. alangkah ruginya saya, di kota saya ada yang bisa dipelajari, namun saya sendiri terlalu terpaaku pada “semut di seberang samudera” yang nampak,,,,,,,,,

  665. zainal
    Desember 21, 2011 pada 3:35 pm | #729

    lugu, tegas, atau kaku…?

  666. zanks
    Desember 21, 2011 pada 4:25 pm | #730

    ada gak ya….. orang bijak seperti ini?

  667. Desember 21, 2011 pada 5:42 pm | #731

    begh…. susah banget loding nya neh…. pasti krna komen yg nyaris seribu … haduh rame banget dahn ….

  668. Desember 21, 2011 pada 7:34 pm | #732

    klo gitu mana ada yang seperti itu, malah kalau ada pejabat lewat, justru aturan seperti ndak ada karena memang ada pengecualian seperti itu, misalnya ambulan, atau apalah yang urgent, jaman sekarang kaku ga harus kaku

  669. deindra
    Desember 21, 2011 pada 9:11 pm | #733

    Merinding saya bacanya,, justru pd saat baca terakhirnya bahwa ini adalah kisah nyata,, andaikan saat ini smua polisi seperti beliau,, aaaah jgn berhaparap terlalu jauh,, hanya kekecewaan yg akan muncul,, huuufffttt………

  670. Desember 21, 2011 pada 11:00 pm | #734

    Cerita tentang kejadian benar yg menyentuh hati. Banyak kejadian tentang Sinuhun HB IX pada saat memimpin DIY. Mudah-mudahan menjadi teladan untuk generasi berikutnya. Semoga lahir pemimpin dan petugas negara seperti mereka, mulai dari presiden, menteri menteri, sampai bawahannya. supaya negara ini maju tetapi kapan ya. Mudah-mudahan dalam waktu tidak lama lagi.entah 10, 50, 100 tahun lagi.

  671. memed asmara
    Desember 21, 2011 pada 11:04 pm | #735

    Cerita ini sungguh Sesuatu banget yah….

  672. effendyhw
    Desember 22, 2011 pada 12:10 am | #736

    Saya sebagai polisi salut membacanya, sedih saat membacanya, karna org sepeti beliau amat langka, kita bisa mengikuti jejak sang brigadir, tapi menemukan pejabat seperti HB IX yg tidak ada.

  673. Ali
    Desember 22, 2011 pada 12:30 am | #737

    Merinding bulu kuduk ini membacanya. Luar biasa. Teladan dari dua tokoh besar.

  674. bachtiar harsajiwowirono
    Desember 22, 2011 pada 1:34 am | #738

    kalau bangsa ini mencari keteladanan maka sikap sinuwun yang tidak mengagung-agungkan derajat, dan sikap pak polisi yang berani, jujur dan santun ini bisa diambil hikmahnya//

  675. Desember 22, 2011 pada 2:11 am | #739

    wah, mantap.. ijin share ya… semoga ke depannya Indonesia menjadi lebih baik… aamiin..

  676. Desember 22, 2011 pada 3:00 am | #740

    subhanallah

  677. Agung Anggoro
    Desember 22, 2011 pada 3:23 am | #741

    Semoga bisa menjadi teladan bagi semua pemimpin dan rakyat Nusantara.

  678. Desember 22, 2011 pada 4:22 am | #742

    saya sangat tersentuh dengan sejarah diatas, hanya ada segelintir manusia di zaman seperti ini…..

  679. Desember 22, 2011 pada 4:44 am | #743

    Ijin share….

  680. tyo
    Desember 22, 2011 pada 11:07 am | #744

    Salut..!! Memang di negeri ini kejujuran tidak berbanding lurus dengan penghargaan…

  681. Desember 22, 2011 pada 11:07 am | #745

    Harmat kepada beliau berdua Bp Brigadir Royadin dan Kanjeng Sinuwun HB IX semoga menjadi tauladan kepada generasi muda bangsa Indonesia,Allohummaghfirlahum….
    Gak tau saya membaca dengan dada bergetar dan hampir menangis…

  682. Desember 22, 2011 pada 11:47 am | #746

    muanteeebb beeeeuuthhh…..ada seorang polisi yg tegas kyak gituu…
    coba smua polisi di indonesia sprti itu,,di jamin….negara ini akan aman & sentosa….. :D

  683. noni wahid
    Desember 22, 2011 pada 1:05 pm | #747

    ihhss……salud !!!

  684. Desember 22, 2011 pada 2:13 pm | #748

    kisah yang sangat inspiratif.. izin share
    di blog dan di grup FB

    salam kenal dari bandung

  685. ningsih
    Desember 22, 2011 pada 2:21 pm | #749

    indahnya dunia ini kalau sebagian besar orang memiliki jiwa spt (alm) Bp Royadi & (alm) Sri Sultan HB IX