Beranda > Atraksi Wisata > Alun-alun Kidul, Arena Wisata Keluarga dan Masangin

Alun-alun Kidul, Arena Wisata Keluarga dan Masangin


KOTA JOGJA: Alun-alun kidul Jogja tiap Minggu tak pernah sepi pengunjung. Tanah lapang di sebelah timur pasar Ngasem ini menjadi tempat berkumpul masyarakat untuk berlibur dambil berolahraga atau sekadar berjalan-jalan santai. Kebanyakan pengunjung adalah keluarga yang membawa serta anak-anak.
Di tempat ini mereka dapat menikmati berbagai mainan anak, seperti odong-odong, kereta kambing, mobil remote, andong, becak kecil, mandi bola, dan kereta putar. Ongkos satu jenis permainan sekitar Rp 3 ribu sampai 6 ribu.

Aneka jajanan dan opor ayam dapat menjadi pilihan kuliner di sini. “Sambil mengajak anak bermain, kami sekeluarga selalu ke sini menikmati opor ayam,” kata Ervina, asal Bantul.

Pemerintah kota membuat fasilitas olah raga di tempat ini, berupa piranti kebugaran. Setiap minggu pagi, warga sekitar memanfaatkan piranti itu. Terlihat juga sekelompok anak muda bermain sepakbola.

Anak-anak juga bisa melihat dua ekor gajah. Gajah tersebut adalah milik kraton Yogyakarta, yang kebetulan kandangnya ditempatkan di alun-alun kidul. Gajah ini dapat ditunggangi dengan ongkos Rp 6 ribu, berjalan mengelilingi kandang.

Apabila pernah mengajak anak-anak ke tempat ini, pasti mereka ingin datang lagi. Alun-alun kidul, tempat hiburan rakyat bagi masyarakat Yogyakarta.

tradisi masangin

Ada cerita khusus yang melatarbelakangi tradisi Masangin ini. Bagi yang pernah tinggal di Jogjakarta tentunya tahu kan, tradisi Topo Bisu? Ritual ‘topo bisu’ yaitu ritual jalan berkeliling benteng yang diadakan pada malam 1 Suro (dalam kalender Jawa) atau pada ulang tahun berdirinya Keraton Jogjakarta. Saat itu para prajurit Keraton Jogjakarta akan berjalan mengelilingi benteng. Mereka berpakaian adat Jawa seperti sorjan, blangkon dan jarik (kain). Saat keliling benteng, tidak boleh berbicara, namanya juga ‘topo bisu’.

Setelah selesai mengitari Keraton, ritual berikutnya adalah berjalan masuk di antara dua pohon beringin di Alun-alun Kidul. Ritual tersebut dilakukan untuk ‘ngalap berkah’. Termasuk juga memiliki pesan permohonan untuk pertahanan keamanan Keraton dari serangan musuh. Mitosnya, kalau bisa masuk diantara kedua pohon beringin itu dengan mata tertutup, bisa terkabul keinginannya. Menurut kepercayaan di kalangan masyarakat, di antara kedua pohon beringin itu ada rajahnya (seperti tolak bala untuk musuh kerajaan yang berusaha menyerbu Keraton Jogja). Apabila bala tentara berjalan di antara kedua beringin itu kekuatan musuh bisa hilang, fungsinya seperti benteng keraton yang tidak kelihatan. Orang yang bisa masuk diantara kedua pohon beringin ini berarti bisa menolak rajah itu. Itulah sebabnya mata harus ditutup sebagai simbol bahwa hanya orang dengan kekuatan penglihatan hati yang sanggup melewati Beringin Masangin.

Dalam perkembangan masyarakat yang semakin maju, tentu saja terjadi perubahan pemaknaan terhadap nilai-nilai tradisi. Begitu juga dengan kepercayaan Beringin Masangin yang lambat laun mulai bergeser. Ritual budaya yang awalnya sakral kemudian menjadi tidak bermakna sakral, berakhir dianggap sebagai satu permainan untung-untungan dan menambah suasana Alun-alun Kidul menjadi semakin ramai. Sekarang, setiap sore sampai malam hari di Alun-alun Kidul banyak dijumpai masyarakat yang mencobai peruntungan melewati Beringin Masangin.

Di waktu-waktu tertentu, anda dapat melihat pagelaran wayang di Sasono Hinggil Dwi Abad. Namun, untuk melihatnya anda perlu persiapan karena umumnya wayang digelar semalam suntuk. Anda juga dapat melihat persiapan para prajurit kraton untuk merayakan Grebeg (perayaan memperingati Maulud Nabi). Di alun-alun inilah semua prajurit berkumpul untuk melaksanakan gladi resik sehari sebelum perayaan dan berangkat ke alun-alun utara pada hari perayaan.

Selain malam hari, anda juga bisa mengunjungi alun-alun ini, tentu untuk menyaksikan sesuatu yang berbeda. Anda bisa melihat gajah kraton di Kandang Gajah di siang hari atau melihat pertandingan sepak bola anak-anak dan remaja sekitar alun-alun di sore hari. Di pinggir alun-alun ini pula saat siang banyak pedagang klithikan yang berjualan. Anda bisa berburu barang-barang antik di situ.

dari berbagai sumber

About these ads
  1. Agustus 28, 2009 pada 7:01 am | #1

    info yg berguna mas … :) makasih

  2. Mei 13, 2012 pada 8:53 am | #2

    Jadi pengen cepat” kuliah di jogja nih!

  1. April 7, 2009 pada 3:16 pm | #1

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: